Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dukung Prabowo Jadi Mediator Iran-AS, Komisi I DPR: Walaupun Sulit
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta. (IDN Times/Vadhia Lidyana)
  • Wakil Ketua Komisi I DPR Sukamta mendukung langkah Presiden Prabowo Subianto menjadi mediator konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat meski situasi dinilai sangat sulit.

  • Sukamta mengecam keras agresi militer Israel terhadap Iran yang didukung AS, menilai tindakan itu melanggar hukum internasional dan mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah.

  • KBRI Teheran memastikan 329 WNI di Iran dalam kondisi aman, tetap memantau situasi serta mengimbau peningkatan kewaspadaan di tengah eskalasi konflik regional.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta, mendukung Presiden Prabowo Subianto menjadi penengah atas eskalasi yang memburuk di Timur Tengah, menyusul adanya perang terbuka antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat.

Sukamta mengatakan, meskipun situasinya sulit, tapi upaya positif dan konstruktif patut ditempuh sebagai upaya menjalankan amanat konstitusi agar Indonesia menjaga ketertiban dunia.

"Sebagai orang yang bisa berkomunikasi dengan Trump dan Iran, saya kira patut kita dukung upaya Presiden tersebut. Ini juga bagian dari realisasi amanat konstitusi menjaga perdamaian dunia secara aktif. Walaupun kita tahu situasi memang sangat sulit, tetapi semua upaya positif dan konstruktif patur ditempuh," kata Sukamta kepada jurnalis, Senin (2/3/2026).

1. Kecam agresi militer Israel ke Iran

Anggota Komisi I DPR RI Sukamta dukung Indonesia mau gabung BRICS. (Dok. PKS)

Sukamta mengecam keras dan menolak agresi militer terhadap Iran yang dilancarkan Israel dengan dukungan penuh Amerika Serikat.

Menurut Sukamta, serangan ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan negara dan hukum internasional. Perang terbuka antara Iran dan Israel mencerminkan tren menuju perluasan cakupan konfrontasi. Padahal, setiap negara berhak untuk mempertahankan wilayah dan kedaulatannya sesuai hukum internasional.

“Kami mengecam dan menolak agresi militer yang dilancarkan oleh Israel dengan dukungan dan partisipasi Amerika, terhadap wilayah Iran. Perang harus dihentikan karena kami menilai ini sebagai eskalasi berbahaya yang mengancam keamanan dan stabilitas kawasan," kata Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI itu.

Dia pun meminta pertanggungajwaban Amerika dan Israel atas dampak eskalasi ini serta potensi terjadinya konflik regional yang semakin meluas. Jangan sampai, kata dia, perhatian dunia yang sedang tertuju terhadap konflik di Iran dimanfaatkan oleh Israel untuk meningkatkan agresi ke Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem.

“Dunia internasional harus memastikan dan menjaga stabilitas di dalam negeri di Gaza dan memerangi praktik penipuan harga dan monopoli di tengah situasi kemanusiaan yang buruk,” kata dia.

2. KBRI catat 329 WNI di Iran dalam kondisi aman

Ilustrasi perang Iran Israel (IDN Times/Aditya Pratama)

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Teheran memastikan terus memantau kondisi warga negara Indonesia (WNI) di Iran menyusul serangan yang dilakukan sejumlah negara terhadap wilayah tersebut.

Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Iran dan Turkmenistan, Roy Sumirat, mengatakan, fokus utama KBRI saat ini adalah menjaga komunikasi intensif dengan seluruh WNI yang berada di berbagai kota di Iran.

“Konsentrasi KBRI Teheran adalah melakukan komunikasi dua arah dengan seluruh WNI di Iran," kata Roy dalam keterangannya, Jumat (28/2/2026).

Hingga saat ini, tercatat sedikitnya 329 WNI telah melapor dan tercatat secara resmi di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Teheran. Data tersebut menjadi acuan utama dalam proses pemantauan dan koordinasi perlindungan.

“Seluruh simpul WNI yang kami hubungi menyampaikan tidak ada ancaman langsung yang dirasakan hingga saat ini,” ujar dia.

Meski demikian, KBRI tetap mengimbau agar para WNI meningkatkan kewaspadaan dan mengambil langkah-langkah pengamanan diri serta keluarga masing-masing di tengah situasi yang masih dinamis.

"Adapun asesmen mengenai keamanan di Iran akan tetap dilakukan KBRI Teheran dan berkoordinasi dengan kantor Kementerian Luar Negeri di Jakarta," kata dia.

3. Prabowo ingin jadi mediator Iran-Israel

Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Presiden Persatuan Emirat Arab (PEA), Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan (MBZ) (dok. BPMI Sekretariat Presiden)

Diberitakan, Presiden RI Prabowo Subianto menawarkan diri menjadi mediator terkait perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Hal ini dinyatakan dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri RI.

“Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi,” kata Kemlu RI di akun X @Kemlu_RI, Sabtu (28/2/2026).

Dalam pernyataan tersebut, Indonesia kembali menekankan pentingnya menghormati kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara serta menyelesaikan perbedaan melalui cara damai.

Eskalasi meningkat di kawasan Timur Tengah, menyusul adanya perang terbuka antara Iran, Israel, dan AS. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan militer pada Minggu (1/3/2026) pagi.

Khamenei tewas terbunuh di kantornya saat melakukan tugas yang diberikan kepadanya pada dini hari Sabtu pagi. Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari, serta tujuh hari libur umum.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menulis di platform Truth Social bahwa Khamenei terbunuh dalam serangan yang dimulai pada Sabtu dini hari.

"Dia tidak mampu menghindari sistem intelijen dan pelacakan canggih milik AS dan Israel," tulis Trump, dikutip Al Jazeera, Minggu (1/3/2026).

Editorial Team