Comscore Tracker

Wamen LHK: Bambu Bisa Jadi Solusi Pengendalian Perubahan Iklim 

Bambu dan rotan dapat diolah jadi produk berestetika tinggi

Madrid, IDN Times - Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong menyatakan bahwa Indonesia sebagai negara penghasil rotan terbesar di dunia dan juga penghasil bambu yang sangat besar dan sangat penting untuk dikembangkan. Perlu diketahui, tanaman bambu dalam 1 hektare (ha) mampu menyerap setara 50 ton karbon dioksida setiap tahunnya.

“Bambu bisa menjadi salah satu solusi pengendalian perubahan iklim, tidak hanya menyerap dan menyimpan karbon, (serta) merehabilitasi lahan terdegradasi, tetapi juga dapat diolah menjadi produk yang berkualitas dan berestetika tinggi,” ujar Alue Dohong yang didampingi Kepala Badan Litbang dan Inovasi KLHK Agus Justianto dan Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK Ruandha Agung Sugardiman pada pertemuan dengan Direktur Jenderal INBAR (International Bamboo and Rattan Organization) Ali Mchumo di Madrid, Selasa (10/12).

1. Indonesia bisa menjadi pemimpin di KSS untuk pengembangan bambu dan rotan

Wamen LHK: Bambu Bisa Jadi Solusi Pengendalian Perubahan Iklim IDN Times/KLHK

Ali Mchumo menyatakan bahwa Indonesia adalah anggota INBAR yang sangat penting. "Sebagai Dirjen yang baru, saya merasa bahwa perlu ada kerja sama yang lebih erat dan luas dengan Indonesia mengingat Indonesia memiliki potensi bambu dan rotan yang sangat potensial," tuturnya. 

Ali menambahkan, Indonesia adalah anggota yang sangat penting dalam kerangka Kerja Sama Selatan-Selatan (KSS) dan Indonesia bisa menjadi pemimpin di KSS untuk pengembangan bambu dan rotan karena Indonesia adalah negara dengan ekonomi terbesar dalam kerangka KSS. 

2. Perlu dilakukan studi komparasi di Tiongkok yang merupakan negara produsen bambu terbesar di dunia

Wamen LHK: Bambu Bisa Jadi Solusi Pengendalian Perubahan Iklim IDN Times/KLHK

Di banyak negara, rotan mengalami penurunan potensi, bahkan sudah punah. Untuk itu, diperlukan upaya untuk membangkitkan lagi rotan di negara-negara anggota INBAR.

Ali juga berharap karena posisi Indonesia yang sangat strategis di kawasan, INBAR perlu membuka kantor di Indonesia sebagai penghubung di kawasan Asia Pasifik. Hal itu disebabkan baru ada satu perwakilan INBAR di Asia, yaitu di India. 

"Pemerintah Indonesia akan mempertimbangkan pembukaan kantor INBAR di Indonesia dan akan lebih jauh menganalisis manfaatnya bagi pengembangan rotan dan bambu di Indonesia," jawab Alue Dohong sebagai bentuk tanggapan dari pernyataan Ali tersebut.

Guna menjajaki kemungkinan pembukaan kantor INBAR di Indonesia sekaligus mengembangkan kedua komoditas tersebut, perlu dilakukan studi komparasi di Tiongkok yang merupakan negara produsen bambu terbesar di dunia sekaligus mengunjungi kantor pusat INBAR di Beijing.

Topic:

  • Marwan Fitranansya

Just For You