Jakarta, IDN Times - Eskalasi konflik Amerika Serikat-Israel dan Iran dinilai tak lagi sekadar perang regional. Ancaman terhadap Selat Hormuz, jalur distribusi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, berpotensi memicu krisis energi global dan mengguncang ekonomi, termasuk Indonesia.
Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti, menilai konflik yang ditandai serangan udara, balasan drone dan rudal, hingga perluasan front mendekati Lebanon menunjukkan situasi telah bergeser dari diplomasi menuju konfrontasi terbuka.
“Ketika Selat Hormuz masuk dalam pusaran konflik, dunia tidak lagi berbicara tentang perang terbatas. Dunia berbicara tentang risiko sistemik,” ujar dia dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).
Menurutnya, Indonesia harus menyiapkan respons strategis menghadapi dampak perang Timur Tengah yang berpotensi menjalar ke sektor energi, nilai tukar rupiah, hingga inflasi domestik.
