Selat Hormuz Ditutup, RI Alihkan Impor Minyak dari Timur Tengah ke AS

- Penutupan Selat Hormuz akibat konflik Israel, AS, dan Iran berdampak besar pada pasokan energi global karena jalur ini menyalurkan sekitar 20,1 juta barel minyak per hari.
- Indonesia masih mengimpor 20–25 persen minyak mentah dari Timur Tengah melalui Selat Hormuz, sementara sisanya berasal dari Afrika, Amerika, dan Brasil.
- Pemerintah mengalihkan sebagian impor minyak ke Amerika Serikat untuk menjaga ketersediaan stok nasional di tengah ketidakpastian durasi konflik di Timur Tengah.
Jakarta, IDN Times - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menanggapi situasi penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik antara Israel, Amerika Serikat (AS), dan Iran.
Dia menyebutkan penutupan jalur laut tersebut memberikan dampak signifikan terhadap kondisi energi global. Bahlil menjelaskan Selat Hormuz merupakan jalur krusial yang dilewati sekitar 20,1 juta barel minyak per hari untuk pasokan global.
"Kita tahu bahwa di Selat Hormuz itu melewati kurang lebih sekitar 20,1 juta barel per day. Jadi Selat Hormuz itu supply global itu 20,1 juta barel per day," katanya dalam keterangan pers di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (3/3/2026).
1. RI impor 25 persen minyak melalui Selat Hormuz

Bahlil mengungkapkan Indonesia masih menggantungkan sebagian kebutuhan minyak mentah (crude) dari Timur Tengah yang dikirim melalui Selat Hormuz. Total impor minyak Indonesia dari wilayah tersebut berkisar antara 20 hingga 25 persen.
Dia menegaskan sebagian besar kebutuhan minyak Indonesia sebenarnya diambil dari wilayah lain. Bahlil memerinci sisa pasokan minyak nasional didatangkan dari negara-negara di Afrika seperti Angola, serta dari Amerika dan Brasil.
"Jadi secara keseluruhan impor kita untuk crude 20 sampai 25 persen dari Selat Hormuz, selebihnya tidak dari sana," ujarnya.
2. Ketegangan di Timur Tengah sulit diprediksi kapan berakhir

Pemerintah terus melakukan kajian dan menjalin komunikasi dengan berbagai negara. Dia menyatakan ada beragam prediksi mengenai lamanya konflik berlangsung, mulai dari hitungan hari hingga beberapa minggu.
Namun, berdasarkan kajian internal dan informasi intelijen yang diterima, Bahlil menilai durasi ketegangan tersebut sangat sulit untuk diramalkan secara pasti. Ada kemungkinan konflik bisa selesai dengan cepat.
"Keyakinan kami setelah kami melakukan kajian, ini tidak akan bisa kita ramalkan kapan selesai. Sekali lagi saya katakan bahwa ketegangan ini tidak bisa kita meramalkan kapan selesai. Bisa cepat, bisa lambat," tuturnya.
3. Pemerintah alihkan impor minyak ke Amerika Serikat

Sebagai langkah antisipasi terhadap skenario terburuk jika konflik berkepanjangan, Kementerian ESDM telah menyiapkan strategi khusus dengan memutuskan mengalihkan sebagian pengambilan minyak mentah ke AS.
Langkah pengalihan itu diambil demi menjaga kepastian ketersediaan stok minyak di dalam negeri. Dengan mengamankan pasokan dari wilayah di luar Timur Tengah, diharapkan ketahanan energi nasional tetap terjaga.
"Nah dalam rangka itu kami mengambil alternatif terjelek, katakanlah ini lambat maka apa skenarionya? Skenarionya adalah sekarang ini untuk crude yang kita ambil dari Middle East sebagian kita alihkan untuk ambil di Amerika. Supaya apa? Ada kepastian ketersediaan crude kita," kata Bahlil.

















