Selat Hormuz Ditutup, Kemenkeu Soroti Dampaknya ke Ekspor dan Logistik

- Kemenkeu memantau dampak penutupan Selat Hormuz dan ketegangan Israel-AS terhadap Iran yang berpotensi mengganggu rantai pasok energi, ekspor nasional, serta stabilitas pasar keuangan global.
- Fundamental ekonomi Indonesia tetap solid dengan surplus perdagangan 0,95 miliar dolar AS pada Januari 2026, didukung pertumbuhan ekspor nonmigas seperti nikel, baja, otomotif, dan elektronik.
- Inflasi Februari 2026 tercatat 4,76 persen namun tekanan harga dinilai terkendali; pemerintah memperkuat koordinasi dengan BI dan TPID untuk menjaga stabilitas pasokan serta distribusi barang.
Jakarta, IDN Times - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) akan terus memantau dampak serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) ke Iran sejak 28 Februari 2026 serta penutupan Selat Hormuz terhadap perekonomian Indonesia.
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, Febrio Kacaribu mengatakan, ada risiko gangguan terhadap rantai pasok global, terutama pasokan energi dan minyak bumi, serta peningkatan volatilitas pasar keuangan global menjadi perhatian utama. Ketegangan perdagangan global juga berpotensi menekan kinerja ekspor nasional melalui pelemahan permintaan eksternal dan peningkatan biaya logistik.
“Pemerintah terus memantau secara cermat dinamika geopolitik Timur Tengah yang berpotensi mempengaruhi perekonomian nasional. Fundamental eksternal Indonesia tetap baik, tercermin dari kinerja neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus selama 69 bulan berturut-turut,” ujar Febrio, Selasa (3/3/2026).
1. Indikator ekonomi menunjukkan perbaikan

Febrio menjelaskan, kondisi fundamental dalam negeri cukup baik, yang tercermin dari indikator surplus perdagangan sebesar 0,95 miliar dolar AS pada Januari 2026. Surplus ini melanjutkan tren positif sejak Mei 2020. Surplus tersebut ditopang ekspor yang mencapai 22,16 miliar dolar AS atau tumbuh 3,39 persen secara tahunan.
Pertumbuhan ekspor terutama didorong sektor nonmigas. Industri pengolahan mencatatkan pertumbuhan 8,19 persen secara tahunan, ditopang komoditas minyak kelapa sawit, nikel, besi dan baja, serta produk bernilai tambah seperti otomotif dan elektronik.
2. Aktivitas industri manufaktur tunjukkan level ekspansif

Dari sisi manufaktur, aktivitas industri masih berada di zona ekspansif. Indeks PMI Manufaktur Indonesia pada Februari 2026 meningkat ke level 53,8 dari 52,6 pada Januari 2026. Tren ekspansif juga terjadi di sejumlah mitra dagang utama, antara lain Vietnam (54,3), Thailand (53,5), India (57,5), Jepang (53,0), dan Amerika Serikat (51,2).
"Kondisi ini dinilai mendukung prospek ekspor manufaktur Indonesia ke depan," ujar Febrio.
3. Secara fundamental tekanan harga masih terkendali

Sementara itu, dari sisi harga, inflasi Februari 2026 tercatat sebesar 4,76 persen secara tahunan. Angka tersebut terutama dipengaruhi dampak kebijakan diskon listrik pada awal 2025. Tanpa memperhitungkan efek diskon listrik, inflasi Februari 2026 diperkirakan sebesar 2,59 persen.
Sementara itu, inflasi inti tercatat 2,63 persen secara tahunan, didorong kenaikan harga emas perhiasan sebesar 72,95 persen secara tahunan. Dengan mengeluarkan dampak kenaikan harga emas, inflasi inti Februari 2026 diperkirakan sekitar 1,4 persen.
"Secara fundamental, tekanan harga dinilai tetap terkendali dan diperkirakan kembali normal mulai Maret 2026,"ucap Febrio.
Adapun dampak penutupan Selat Hormuz terhadap inflasi domestik masih akan terus dicermati. Pemerintah memperkuat koordinasi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Bank Indonesia (BI) guna menjaga stabilitas harga melalui penguatan pasokan, kelancaran distribusi, serta pengawasan harga di lapangan.

















