Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Menggerakkan Ekonomi Digital lewat Ekosistem On-Demand Grab Indonesia
CEO Grab Indonesia, Neneng Goenadi (tengah); Chief of Public Affairs, Grab Indonesia, Tirza R. Munusamy (empat dari kiri); Country Marketing & Communications Head, Grab Indonesia, Melinda Savitri (dua dari kanan); dan Director of Territory Jabo & ID Central Operations, Grab Indonesia, Iki Sari Dewi (kiri); menyerahkan secara simbolis paket umrah kepada lima Mitra Pengemudi inspiratif melalui program “Perjalanan Bermakna dengan Umrah Gratis” di Jakarta (26/2) (Dok. Grab Indonesia)
  • Fleksibilitas adalah fondasi gig economy. Mayoritas mitra memilih berusaha sesuai kebutuhan. Tingkat produktivitas bersifat dinamis dan berbeda-beda setiap bulan, mencerminkan karakter alami ekosistem on demand.

  • Kebijakan berbasis tingkat produktivitas adalah pendekatan yang adil dan proporsional. Karena kontribusi mitra berbeda-beda, dukungan dan program apresiasi dirancang berdasarkan partisipasi dan konsistensi kontribusi dalam ekosistem.

  • Sebagai tambahan, di bulan Ramadan ini, Grab memberikan apresiasi tambahan melalui program “Perjalanan Bermakna dengan Umrah Gratis” bagi 105 Mitra Pengemudi berprestasi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ekonomi digital Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dan menjadi salah satu motor penting perekonomian nasional. Di tengah transformasi ini, layanan berbasis aplikasi atau on-demand hadir bukan sekadar sebagai solusi praktis bagi masyarakat, tetapi juga sebagai ruang partisipasi ekonomi yang terbuka dan fleksibel.

Model gig economy memungkinkan jutaan individu dari berbagai latar belakang tetap produktif sesuai kebutuhan dan fase kehidupan mereka, sekaligus berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi digital yang semakin inklusif.

1. Ekonomi digital dan peran strategis industri on-demand

CEO Grab Indonesia, Neneng Goenadi (tengah); Chief of Public Affairs, Grab Indonesia, Tirza R. Munusamy (empat dari kiri); Country Marketing & Communications Head, Grab Indonesia, Melinda Savitri (dua dari kanan); dan Director of Territory Jabo & ID Central Operations, Grab Indonesia, Iki Sari Dewi (kiri); menyerahkan secara simbolis paket umrah kepada lima Mitra Pengemudi inspiratif melalui program “Perjalanan Bermakna dengan Umrah Gratis” di Jakarta (26/2) (Dok. Grab Indonesia)

Industri ride-hailing dan pengantaran online telah menjadi bagian integral dari ekosistem ekonomi digital Indonesia. Layanan transportasi, pengiriman makanan, hingga logistik kini menyatu dalam keseharian masyarakat, menghadirkan efisiensi sekaligus membuka akses penghasilan bagi jutaan orang. Model berbasis platform memungkinkan individu berpartisipasi tanpa terikat hubungan kerja formal dengan jam kerja tetap.

Berdasarkan Studi ITB (2023), industri ride-hailing dan pengantaran online menyumbang Rp382,62 triliun atau sekitar 2 persen terhadap total PDB Indonesia tahun 2022. Sementara itu, menurut Oxford Economics (2024), Grab Indonesia berkontribusi sekitar 50 persen di industri transportasi dan pengantaran online. Angka ini mencerminkan besarnya dampak ekonomi yang dihasilkan oleh keseluruhan ekosistem layanan Grab di Indonesia.

2. Ekonomi inklusif yang membuka akses

Pendiri komunitas relawan untuk keluarga prasejahtera dan lansia sekaligus Mitra Pengemudi GrabBike. Mereka berlima mendapatkan paket umrah melalui program “Perjalanan Bermakna dengan Umrah Gratis” (Dok. Grab Indonesia) (Dok. Grab Indonesia)

Sejak hadir di Indonesia pada 2014, Grab Indonesia telah menjangkau lebih dari 300 kota dan kabupaten. Ekosistem ini menjadi pintu masuk ekonomi yang terbuka bagi masyarakat dari berbagai latar belakang usia, pendidikan, hingga kondisi sosial. Sekitar satu dari dua Mitra Pengemudi sebelumnya merupakan korban PHK atau tidak memiliki sumber pendapatan.

Lebih dari 50 persen mitra berusia di atas 36 tahun dengan latar belakang pendidikan mayoritas SMA atau SMK. Tercatat sekitar 182.500 Mitra Pengemudi perempuan, termasuk ibu tunggal yang menjadi tulang punggung keluarga, serta lebih dari 700 mitra penyandang disabilitas yang turut berpartisipasi. Data ini menunjukkan bahwa platform on-demand dapat menjadi ruang ekonomi yang inklusif dan adaptif.

3. Fleksibilitas sebagai karakter alami gig economy

Neneng Goenadi, Chief Executive Officer, Grab Indonesia menyampaikan paparan mengenai realitas Mitra Pengemudi di Grab Indonesia di acara “Memahami Dinamika Sektor Platform Digital Melalui Ekosistem Grab” di Jakarta (26/02) (Dok. Grab Indonesia)

Per Desember 2025, total Mitra Pengemudi terdaftar mencapai 3,7 juta orang. Namun, jumlah mitra yang menyelesaikan minimal satu order di bulan berjalan berkisar 700–800 ribu atau sekitar 19-22 persen dari total terdaftar. Angka ini bersifat fluktuatif dan mencerminkan karakter alami gig economy, di mana partisipasi mengikuti kebutuhan individu.

Status terdaftar tidak selalu identik dengan tingkat produktivitas. Mayoritas mitra memanfaatkan platform sebagai penghasilan sampingan. Lebih dari 80 persen Mitra Roda 2 dan sekitar 67 persen Mitra Roda 4 menjadikan Grab sebagai sumber penghasilan tambahan. Pola ini mempertegas bahwa ekosistem on-demand berfungsi sebagai ruang partisipasi fleksibel, bukan skema kerja yang seragam.

4. Ragam pola produktivitas mitra roda 4

Neneng Goenadi, Chief Executive Officer, Grab Indonesia menyampaikan paparan mengenai realitas Mitra Pengemudi di Grab Indonesia di acara “Memahami Dinamika Sektor Platform Digital Melalui Ekosistem Grab” di Jakarta (26/02) (Dok. Grab Indonesia)

Dalam kategori Mitra Pengemudi Roda 4, terdapat kelompok yang menjadikan aktivitas mengemudi sebagai penghasilan utama dan sampingan. Sekitar 10–11 persen menjadikannya sebagai nafkah utama dengan pendapatan di atas Rp10 juta per bulan dan rata-rata 11 order per hari. Sementara 21–22 persen berada dalam kategori penghasilan rutin dengan kisaran Rp4–10 juta per bulan.

Di sisi lain, sekitar 33–34 persen memperoleh penghasilan tambahan Rp1–4 juta per bulan dengan rata-rata 4 order per hari dalam durasi 2–4 jam. Adapun 34–35 persen lainnya tergolong penghasilan sesekali dengan pendapatan hingga Rp1 juta per bulan. Variasi ini menunjukkan bahwa mitra bebas menentukan intensitas kerja sesuai kebutuhan ekonomi dan preferensi pribadi.

5. Dinamika produktivitas mitra roda 2 dan apresiasi bermakna

Pendiri komunitas relawan untuk keluarga prasejahtera dan lansia sekaligus Mitra Pengemudi GrabBike. Mereka berlima mendapatkan paket umrah melalui program “Perjalanan Bermakna dengan Umrah Gratis” (Dok. Grab Indonesia) (Dok. Grab Indonesia)

Pada kategori Mitra Roda 2, sekitar 1–2 persen menjadikan aktivitas ini sebagai nafkah utama dengan pendapatan di atas Rp10 juta per bulan dan lebih dari 28 order per hari. Sementara 14–15 persen tergolong penghasilan rutin dengan kisaran Rp4–10 juta per bulan. Di sisi lain, 41–42 persen memperoleh penghasilan tambahan Rp1–4 juta per bulan dan 42–43 persen lainnya tergolong penghasilan sesekali dengan pendapatan hingga Rp1 juta per bulan.

Komposisi ini menegaskan bahwa fleksibilitas adalah fondasi utama model on-demand. Sejalan dengan komitmen “Grab untuk Indonesia” yang diluncurkan pada 13 Januari 2026, Grab menghadirkan inisiatif apresiasi seperti program “Perjalanan Bermakna dengan Umrah Gratis” dengan total 105 paket umrah bagi mitra inspiratif dan berprestasi. Inisiatif ini menjadi simbol penghargaan atas dedikasi dan kontribusi mitra dalam membangun ekonomi digital yang inklusif.

Ekosistem on-demand telah berkembang menjadi ruang harapan yang membuka akses, menghadirkan peluang, dan memperkuat kemandirian ekonomi jutaan masyarakat Indonesia. Dengan menjaga prinsip fleksibilitas yang adil dan proporsional, Grab berkomitmen memastikan pertumbuhan ekonomi digital tidak hanya tercermin dalam angka, tetapi juga dirasakan secara nyata dalam kehidupan para mitra dan keluarganya. Ke depan, upaya ini diharapkan terus memperkuat fondasi ekonomi digital Indonesia yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak luas. (WEB/AD)

Editorial Team