Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
El Nino Diprediksi Muncul Lagi, Kemarau di Indonesia Bisa Lebih Panjang
Ilustrasi kekeringan akibat kemarau panjang dan fenomena El Nino di Indonesia. (IDN Times)
  • BMKG memprediksi fenomena El Nino berpotensi kembali terjadi pada 2026 dan dapat membuat musim kemarau di Indonesia menjadi lebih kering dari biasanya.
  • El Nino menyebabkan perpindahan panas laut ke Pasifik Tengah-Timur, menggeser pembentukan awan dan menurunkan curah hujan di berbagai wilayah Indonesia.
  • BMKG menyebut peluang terjadinya heatwave di Indonesia relatif kecil, namun masyarakat tetap perlu waspada terhadap dampak kekeringan dan penurunan kualitas udara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
BMKG bilang nanti tahun 2026 bisa ada El Nino lagi. Itu bikin laut di Pasifik jadi panas dan awan pindah jauh dari Indonesia. Jadi hujan bisa jadi sedikit dan kemarau terasa lebih lama. Tapi katanya Indonesia kecil kemungkinan kena panas ekstrem. Sekarang BMKG minta orang siap-siap karena bisa jadi lebih kering.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino berpotensi kembali terjadi pada 2026. Fenomena tersebut diperkirakan dapat membuat musim kemarau di Indonesia menjadi lebih kering dibandingkan biasanya. 

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhesena Sopaheluwakan, mengatakan kecenderungan terjadinya El Nino tahun ini cukup signifikan dan perlu diantisipasi sejak dini. 

“BMKG sudah memprediksi akan terjadi El Nino di kemarau tahun ini. Kecenderungan untuk terjadinya El Nino tahun ini cukup signifikan,” ujar Ardhesena dalam kanal YouTube Info BMKG dikutip Jumat (22/5/2026).

1. Apa itu El Nino?

Gambar air laut di Samudera Pasifik (huffpost.com)

Ardhesena menjelaskan El Nino merupakan fenomena penyimpangan suhu panas laut di Samudera Pasifik. Dalam kondisi normal, panas laut terbesar berada di wilayah Pasifik Barat. 

Namun, saat El Nino terjadi, panas laut tersebut berpindah menuju pasifik tengah hingga timur. Perpindahan itu menyebabkan pusat pembentukan awan ikut bergeser menjauhi Indonesia. 

“Panas laut terbesar di bumi itu di Pasifik Barat. Akan tetapi karena anomali tertentu, panas laut tersebut pindah ke Pasifik Tengah dan Pasifik Timur,” jelas Ardhesena. 

Ardhesena mengatakan El Nino bukan badai, melainkan fenomena laut dan atmosfer yang berkembang secara perlahan dalam beberapa bulan.

2. Curah hujan di Indonesia bisa berkurang

ilustrasi hujan (pexels.com/th2city santana)

Menurut Ardhesena, perpindahan pusat pembentukan awan akibat El Nino menyebabkan hujan di Indonesia berkurang, terutama hujan kecil hingga menengah. Akibatnya, musim kemarau dapat terasa lebih panjang atau musim hujan datang lebih lambat dibanding biasanya. 

“Ketika bertemu dengan musim kemarau, El Nino menekan hujan-hujan kecil, sehingga seolah-olah musim kemarau kita menjadi lebih panjang,” jelasnya. 

Meski demikian, Ardhesena mengatakan, dampak El Nino tidak terjadi secara seragam di seluruh wilayah Indonesia. Intensitas dampaknya dipengaruhi karakteristik iklim masing-masing daerah.

3. BMKG sebut peluang heatwave di Indonesia relatif kecil

Ilustrasi kemarau (ANTARA FOTO/Arnas Padda)

Kendati, BMKG menegaskan, Indonesia berpeluang kecil mengalami gelombang panas ekstrem atau heatwave, seperti yang terjadi di Eropa maupun Asia Timur. 

Menurut Ardhesena, kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang dikelilingi laut, membuat pergerakan udara cenderung terus naik, sehingga sulit memicu gelombang panas ekstrem. 

“Kalau di luar negeri ada heatwave, di Indonesia peluangnya masih kecil,” katanya. 

Meski demikian, Ardhesena menambahkan, BMKG mengingatkan musim kemarau tahun ini diprediksi lebih kering, sehingga masyarakat tetap perlu mengantisipasi dampaknya, termasuk penurunan kualitas udara dan potensi kekeringan di sejumlah wilayah.

Editorial Team