El Nino Godzilla Ancam Asia Tenggara: Kabut Asap hingga Wabah Penyakit

- Ilmuwan memperingatkan potensi munculnya ‘Godzilla El Nino’ super kuat yang bisa memicu kekeringan panjang, suhu ekstrem, dan berkurangnya curah hujan di banyak wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia.
- Cuaca kering akibat El Nino meningkatkan risiko kebakaran hutan dan kabut asap lintas negara, mendorong pemerintah serta perusahaan untuk memperketat pengawasan terhadap pembukaan lahan.
- Kualitas udara memburuk dan suhu panas ekstrem berpotensi memicu penyakit pernapasan serta penyebaran demam berdarah, sementara pemerintah menyiapkan langkah antisipasi krisis air dan pangan.
Cuaca panas ekstrem tampaknya bakal kembali menghantui Asia Tenggara dalam waktu dekat. Para ilmuwan mulai memperingatkan potensi munculnya “Godzilla El Nino”, istilah untuk El Nino super kuat yang bisa membawa dampak lebih parah dibanding biasanya. Kondisi ini diperkirakan memicu kekeringan panjang, suhu makin panas, hingga kabut asap lintas negara.
Indonesia termasuk salah satu negara yang diprediksi terdampak cukup besar, terutama di wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan. Ancaman kesehatan masyarakat juga mulai jadi perhatian pemerintah dan para ahli karena perubahan cuaca ekstrem dapat memicu berbagai penyakit. Kalau situasi ini benar-benar terjadi, kamu mungkin bakal merasakan dampaknya langsung dalam kehidupan sehari-hari.
1. El Nino Godzilla bikin cuaca makin ekstrem

Istilah “Godzilla El Nino” pertama kali populer setelah seorang klimatolog NASA menggunakannya pada 2015 untuk menggambarkan El Nino yang sangat kuat. Fenomena ini terjadi saat suhu permukaan laut di Samudra Pasifik meningkat jauh lebih tinggi dibanding kondisi normal. El Nino biasa terjadi ketika suhu laut naik sekitar 0,5 derajat Celsius, sementara El Nino kuat bisa mencapai kenaikan sekitar 1,5 derajat Celsius. Dampaknya membuat wilayah Asia Tenggara mengalami cuaca lebih panas dan lebih kering.
Ilmuwan iklim dari National University of Singapore, Koh Tieh Yong, memperkirakan El Nino kali ini bisa berkembang menjadi sangat kuat pada akhir 2026. Kondisi tersebut diprediksi memicu berkurangnya curah hujan di banyak wilayah Asia Tenggara. Badan Riset dan Inovasi Nasional atau Badan Riset dan Inovasi Nasional juga memperingatkan bahwa Indonesia berpotensi mengalami hari tanpa hujan lebih panjang dibanding biasanya. Wilayah selatan Indonesia bahkan disebut lebih berisiko mengalami kekeringan berkepanjangan.
2. Kabut asap berpotensi kembali menyelimuti kawasan

Salah satu dampak paling dikhawatirkan dari El Nino Godzilla adalah meningkatnya kebakaran hutan dan lahan. Cuaca kering membuat lahan gambut lebih mudah terbakar, terutama di beberapa wilayah Indonesia seperti Sumatra dan Kalimantan. Saat kebakaran meluas, asapnya bisa menyebar ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Kondisi serupa pernah terjadi pada 2015 dan menjadi salah satu episode kabut asap terburuk di Asia Tenggara.
Profesor Bambang Hero Saharjo dari IPB University menjelaskan bahwa kebakaran kecil bisa berubah jadi sangat besar ketika musim kering ekstrem datang. Ia mencontohkan kasus di Riau, ketika pembakaran lahan beberapa hektare justru meluas hingga ratusan hektare. Faktor manusia masih menjadi penyebab utama kebakaran, terutama praktik pembukaan lahan dengan cara membakar. Karena itu, pemerintah dan perusahaan perkebunan didorong memperketat pengawasan sebelum musim kering mencapai puncaknya.
3. Risiko penyakit ikut meningkat saat udara memburuk

Cuaca panas dan kualitas udara yang menurun ternyata dapat membuat masyarakat lebih rentan mengalami gangguan kesehatan. Kementerian Kesehatan Indonesia memperingatkan bahwa El Nino dapat memperburuk polusi udara akibat berkurangnya efek hujan yang biasanya membantu membersihkan atmosfer. Kondisi udara stagnan juga bisa membuat asap dan partikel polusi bertahan lebih lama di udara. Akibatnya, risiko gangguan pernapasan berpotensi meningkat.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, mengatakan perubahan suhu dan lingkungan juga dapat memicu penyebaran penyakit berbasis vektor seperti demam berdarah dan malaria. Genangan air yang muncul di beberapa area bisa menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Selain itu, kualitas sanitasi yang memburuk berpotensi meningkatkan risiko diare, tifus, kolera, hingga leptospirosis. Karena itu, masyarakat diminta rutin memantau kualitas udara, memakai masker saat polusi tinggi, serta menjaga daya tahan tubuh.
4. Krisis air dan pangan mulai diantisipasi pemerintah

Kekeringan panjang akibat El Nino bisa berdampak langsung terhadap pasokan air bersih dan produksi pangan. Curah hujan yang turun drastis membuat waduk dan cadangan air mengalami penurunan. Situasi ini pernah terjadi di Johor, Malaysia, ketika level air waduk sempat turun ke titik terendah saat El Nino besar 2016. Kondisi serupa dikhawatirkan kembali terjadi apabila musim kering berlangsung terlalu lama.
Pemerintah Indonesia mulai menyiapkan langkah antisipasi agar dampaknya gak semakin parah. Badan Pangan Nasional menyatakan pemerintah berupaya menjaga pasokan pangan dan kestabilan harga selama musim kering berlangsung. Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo juga mengatakan sekitar 400 pompa air telah disiapkan untuk membantu kebutuhan petani. Langkah tersebut penting karena sektor pertanian biasanya menjadi salah satu yang paling terdampak saat kekeringan berkepanjangan melanda.
5. Laut Asia Tenggara juga terancam mengalami kerusakan

Dampak El Nino ternyata gak berhenti di daratan aja. Suhu laut yang meningkat dapat memicu pemutihan terumbu karang atau coral bleaching. Fenomena ini terjadi ketika karang kehilangan alga kecil yang memberi warna sekaligus membantu proses hidupnya. Akibatnya, karang berubah menjadi putih dan lebih rentan mati jika suhu laut tetap tinggi terlalu lama.
Ahli biologi laut Huang Danwei dari Lee Kong Chian Natural History Museum menjelaskan bahwa kemungkinan pemutihan karang besar-besaran masih sangat tergantung pada kekuatan El Nino mendatang. Pada 2024 lalu, sekitar 44 persen koloni karang yang dipantau di Singapura mengalami pemutihan. Meski sebagian besar berhasil pulih, sekitar 5 persen karang dilaporkan mati. Para peneliti kini mulai mengembangkan karang yang lebih tahan panas untuk mengurangi dampak perubahan iklim terhadap ekosistem laut.
El Nino Godzilla memang belum sepenuhnya terjadi, tapi tanda-tandanya mulai membuat banyak negara waspada. Asia Tenggara berpotensi menghadapi cuaca lebih panas, kekeringan panjang, kabut asap, hingga meningkatnya risiko penyakit menular. Indonesia sendiri sudah mulai menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk mengurangi dampaknya terhadap masyarakat.
Meski begitu, peran masyarakat tetap penting, mulai dari menjaga kesehatan, menghemat air, sampai mencegah pembakaran lahan sembarangan. Semakin cepat antisipasi dilakukan, semakin besar peluang dampaknya bisa ditekan sebelum berubah menjadi krisis yang lebih serius.



















