Comscore Tracker

Tri Mumpuni: Indonesia Butuh Peran Millennial untuk Energi Terbarukan 

Puluhan tahun Tri Mumpuni mengabdi ke desa-desa terpencil

Jakarta, IDN Times – Eksekutif Direktur IBEKA, Tri Mumpuni meyakini peluang millennial untuk membuka bisnis maupun berinovasi pada pekerjaan di sektor energi masih terbuka lebar. Bahkan, generasi millennial sebenarnya memiliki potensi untuk mengembangkan sumber energi terbarukan di Indonesia hingga menyaingi negara-negara Timur Tengah—yang merajai pasar energi konvensional.

Lantas, bagaimana cita-cita besar itu bisa dicapai?

Tri Mumpuni yang juga dikenal sebagai pemberdaya listrik ini membeberkan pandangan dan harapannya di atas panggung Visionary Leaders dalam acara Indonesia Millennial Summit 2020 yang digelar pada 17-18 Januari 2020 di The Tribrata, Dharmawangsa, Jakarta Selatan.

1. Indonesia memerlukan demokratisasi energi

Tri Mumpuni: Indonesia Butuh Peran Millennial untuk Energi Terbarukan IDN Times/Kevin Handoko

Puni, begitu Tri Mumpuni biasa disapa, mengatakan secara sadar atau tidak, Indonesia memerlukan demokratisasi energi. Dia berharap Indonesia memiliki sumber energi yang cukup untuk berbagai keperluan masyarakatnya.

Hal itu diperlukan mengingat belum semua daerah terpencil di Indonesia telah memiliki sumber listrik yang memadai.

“Sekarang, bagaimana caranya kita (millennial) memperkecil gap (antara daerah perkotaan yang cukup pasokan listrik dan daerah terpencil) itu. Jangan sampai yang kaya semakin kaya, dan yang miskin terus miskin,” kata Puni.

Baca Juga: Kapasitas Pembangkit Listrik Energi Baru Terbarukan Capai 10.843 MW

2. Puni berpengalaman membangun energi di desa-desa terpencil di Indonesia

Tri Mumpuni: Indonesia Butuh Peran Millennial untuk Energi Terbarukan IDN Times/Reynaldy Wiranata

Puni berpendapat, jurang perbedaan pasokan energi di tiap desa di Indonesia bukan tanpa data. Ia merupakan orang yang berpengalaman dalam membangun sumber energi di desa-desa terpencil di Indonesia lewat Pembangkit Listrik Tenaga Air.

Dari berbagai pengalamannya, Puni mendapat sebuah pelajaran penting bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan karunia Tuhan. "Kita punya jumlah lithium dan nikel yang terbesar di dunia. Itu salah satu dari banyaknya sumber daya energi yang kita punya. Maka itu kejarlah kemuliaan, maka rezeki akan mengejar kalian," ujar dia.

“Pengalaman saya 30 tahun dalam melihat bagaimana sebuah desa dapat maju secara ekonomi. Ya harus ada energi,” lanjutnya.

Membangun sumber energi, kata dia, tidak perlu muluk-muluk. Menurutnya, dengan kepedulian orang-orang yang memiliki semangat membangun Indonesia dapat menerapkan banyak sistem dan memanfaatkan lingkungan sekitar untuk menerangi desa.

Baca Juga: PLN: 54 Warga Klungkung Belum Miliki Sambungan Listrik

3. Demokratisasi energi membutuhkan peran besar millennial

Tri Mumpuni: Indonesia Butuh Peran Millennial untuk Energi Terbarukan IDN Times/Kevin Handoko

Selain memerlukan kesadaran pemerintah untuk mencapai itu, Puni mengatakan, demokratisasi energi juga memerlukan peran millennial untuk mencapainya.

“Saya sudah merasa semakin berkurang (usianya), jadi gak mungkin tiga bulan saya nongkrong di desa untuk melihat rakyat merencanakan, mengoperasikan, sampai menjaga pembangkitnya agar betul-betul bisa sustainable,” kata dia.

Menurut Puni, di sanalah millennial dapat turun langsung ke desa-desa untuk membantu masyarakat membangun sendiri sumber energinya. Selain itu, pemerintah harus berperan untuk membantu para millennial salah satunya lewat dukungan penyediaan fulus.

“Tidak seperti proyek-proyek (membuka ruang terbuka hijau) dengan bantuan helikopter. Pemerintah hanya menjatuhkan (benih tumbuhan) saja, terserah siapa yang mau angkat nanti. Jangan-jangan jatuhnya ke lubang yang salah, apalagi ke sungai,” ujarnya.

Baca Juga: Genjot Pembangkit Listrik Tenaga Surya, PLN Bidik Luar Pulau Jawa

4. Apa yang diperlukan millennial?

Tri Mumpuni: Indonesia Butuh Peran Millennial untuk Energi Terbarukan IDN Times/Kevin Handoko

Puni melanjutkan, ada empat kompetensi yang diperlukan generasi millennial untuk terjun ke desa-desa terpencil dan mengembangkan pembangkit listrik sederhana di sana. Empat kompetensi tersebut bisa didapatkan oleh seorang pemuda dengan dilatih selama 40 hari oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

“Jadi tahun 2015 kami memulai program yang namanya Patriot Energi. Anak-anak millennial yang daftar mencapai 3.600 orang dan disaring menjadi 79 orang terpilih,”

Pertama, kata Puni adalah kompetensi di segi teknis mengenai pemahaman pembangkit listrik sederhana. Pembangkit listrik perlu menggunakan sumber energi terbarukan dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan desa.

Kedua, lanjut dia, adalah kompetensi perjuangan. Semangat berjuang demi kemajuan negara memang harus dimiliki seseorang yang berencana tinggal lama di sebuah desa terpencil. “Jadi kalian akan ditaruh di daerah timur Indonesia. Bayangkan setahun enggak ada sinyal, enggak ada listrik, enggak ada air bersih. Kalian berjuang, dan saya jamin akan sangat mencintai negeri ini,” ujarnya.

Kompetensi ketiga yakni kompetensi kerakyatan. Kompetensi ini diperlukan agar seorang millennial tak hanya menjadi sarjana profesional, melainkan juga “sarjana rakyat” yang rela berada di tengah masyarakat untuk mewakili negara.

“Dan yang terakhir adalah kompetensi keikhlasan. Kompetensi terakhir ini penting, karena dalam kehidupan yang penuh gejolak di daerah terpencil itu, kalau kamu enggak punya keikhlasan, ya ngaco,” kata Puni.

Baca Juga: Menteri ESDM Bocorkan Soal Energi 4.0 Versi Jokowi pada Millennial

5. Ide Puni yang tak direalisasikan Jokowi

Tri Mumpuni: Indonesia Butuh Peran Millennial untuk Energi Terbarukan IDN Times/Reynaldy Wiranata

Tidak hanya mendorong generasi millennial untuk meneruskan perjuangannya, Puni juga diketahui sempat memberi usulan pada Presiden Joko “Jokowi” Widodo di lima tahun pertamanya. Usul tersebut, kata dia, sederhana tapi aneh.

“Saya punya usul waktu awal Pak Jokowi menjabat. Kita ingin punya kapal induk yang ditaruh di Indonesia timur. Kemudian, rakyat yang ada di pulau-pulau terpencil di sana itu, cukup menanam tanaman kecil dan dikirimkan ke kapal induk tersebut,” kata Puni.

Puni melanjutkan, nantinya tanaman yang sudah diangkut kapal induk tersebut, diolah menjadi bio fuel (bahan bakar hayati) yang merupakan salah satu opsi energi terbarukan.

"Tapi, semuanya (ide itu) batal karena adanya reshuffle menteri," katanya disambut tawa audiens.

Saat ini, Puni berharap para pemimpin bangsa mau mendalami inovasi dan berbagai hal terkait bahan bakar hayati. Alasannya, Indonesia memiliki sumber bahan bakar hayati yang melimpah.

"Kita sebenarnya bisa menjadi timur tengahnya bio fuel," ujar dia.

Baca Juga: IMS 2020: Ide Tri Mumpuni Ini Tak Direalisasikan Jokowi

Topic:

  • Dwifantya Aquina

Berita Terkini Lainnya