Tim Media Center Ahmadiyah saat membuat video conten di kantor Media Center Ahmadiyah, Jakarta Pusat, Kamis, 26 Februari 2026. (IDN Times/Rochmanudin)
Ahmadiyah sejatinya bukan pendatang baru di Indonesia. Sejak 1924, tiga pemuda pribumi—M. Ahmad Nuruddin, M. Abu Bakar Ayyub, dan M. Zaini Dahlan—membawa pemikiran rasionalitas dan keadilan sosial dari India, yang kelak menginspirasi tokoh bangsa seperti Sukarno, H.O.S. Tjokroaminoto, dan Agus Salim dalam merumuskan ide kebangsaan yang inklusif.
Kini, komunitas ini terbagi menjadi dua aliran: Ahmadiyah Qodian (Jemaah Ahmadiyah Indonesia) yang berpusat di Jawa Barat, dan Ahmadiyah Lahore (Gerakan Ahmadiyah Indonesia) yang berpusat di Yogyakarta.
Sebagai seorang Ahmadi keturunan, Devi Safitri tidak memilih jalan konfrontasi untuk memperkenalkan keyakinannya. Ia lebih memilih diplomasi sikap, sebuah strategi autentik yang kini menjadi napas baru bagi Gen Z dan Milenial Ahmadiyah dalam menembus stigma yang telah mengakar selama satu abad.
Bagi Devi, identitas bukanlah label yang harus diteriakkan. "Saya tidak secara terang-terangan, misalnya menyebutkan, 'Oh, saya seorang Ahmadi, gitu.' Tapi saya menunjukkan dalam sikap saya," ungkapnya, saat ditemui IDN Times di Ciputat, Tangerang, Banten, 13 Februari 2026.
Meskipun ia pernah menyaksikan pahitnya penyerangan masjid di tempat tinggalnya di Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, akibat provokasi pihak luar, Devi kini menaruh harapan besar pada regulasi. Rasa trauma masa lalu perlahan menghilang.
"KUHP yang terbaru sudah disahkan Januari 2026 ini yang melarang juga Pasal 300 sampai 305 itu melarang untuk perusakan rumah ibadah. Sebenarnya itu angin segar bagus sekali asalkan penegakan hukum oleh aparat ini juga dilaksanakan," tuturnya penuh optimisme.
Alih-alih tenggelam dalam posisi defensif, anak muda Ahmadiyah kini memilih bergerak di 'ruang kebangsaan' melalui aksi nyata. Sama seperti yang dilakukan Devi. Mereka memiliki program rutin seperti Gift Blood (donor darah), Clean the City (bersih-bersih kota), hingga pendaftaran donor kornea mata.
Devi sendiri telah mendaftarkan diri sebagai pendonor kornea, sebuah perwujudan dari slogan utama mereka: "Saya menerapkan seperti slogan Ahmadiyah ya, 'Love for All, Hatred for None. Jadi memberikan cinta kasih kepada semua, tidak ada kebencian untuk siapapun'. Kita tunjukkan, buktikan di situ bahwa kita itu tidak seperti itu," tegasnya.
Sejalan dengan Devi, Thuhfah Husyiari 'Azmi bersama tim Media Center Ahmadiyah (MCA) di Jakarta Pusat mengelola perang narasi dengan cara berbeda.
Sebagai admin media sosial, perempuan yang akrab disapa Uphaa ini mengemas kegiatan jemaah menjadi konten kekinian, agar relevan dengan publik.
Uphaa, yang pernah mengalami persekusi saat duduk di bangku SD, ingin dunia melihat sisi lain komunitas Ahmadiyah.
"Biar audiens paham bahwa kita itu inklusif, aktif dalam kemasyarakatan, dan bukan sekadar eksklusif," ujarnya bersemangat, saat ditemui di Media Center Ahmadiyah (MCA), Jakarta Pusat, Kamis, 26 Februari 2026.
Dalam mengelola komentar negatif, mereka memiliki keyakinan "diam itu emas" untuk menjaga akhlak. Hilman Aliansyah, seorang editor video yang pernah mengalami ancaman pembunuhan saat kuliah, menjelaskan aturan main tersebut.
"Kita punya kebijakan dari atasnya bahwa kita kalau untuk akun official itu tidak memperbolehkan mengomentari atau merespons hal-hal seperti itu. Jadi biarkan, mubalig-mubalig muda itu yang membalas komentar-komentar itu," ujar Hilman, yang duduk semeja dengan Uphaa saat berbincang dengan IDN Times.
Sementara, Abdul Bari, Produser TV Ahmadiyah (MTA), menjelaskan gerakan digital mereka sangat terorganisir. Selain MCA yang mengelola berita kegiatan internal Ahmadiyah, ada Desk Tablig Internet dan website Raja Pena yang khusus menjawab fitnah (hoaks) atau pertanyaan teologi secara mendalam melalui artikel dan video.
Setiap konten syiar yang diproduksi di studio Indonesia pun dikirim ke Inggris, untuk disiarkan secara internasional melalui parabola.
Melalui kolaborasi ini, anak muda Ahmadiyah berupaya memastikan suara mereka tidak lagi terbungkam oleh stigma, melainkan beresonansi melalui karya dan aksi-aksi kemanusiaan.