Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Gerilya Milenial dan Gen Z Ahmadiyah Menembus Sekat Kebencian
Komunitas muda Ahmadiyah saat menggelar diskusi dan bedah Buku 100 Tahun Ahmadiyah di Indonesia di Gerak Gerik Cafe & Bookstore, Ciputat, Jumat, 13 Februari 2026. (IDN Times/Rochmanudin)
  • Generasi Milenial dan Gen Z Ahmadiyah aktif membangun ruang dialog, literasi hukum, serta aksi sosial untuk melawan stigma dan diskriminasi melalui kegiatan kemanusiaan dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
  • Anak muda Ahmadiyah memanfaatkan media digital seperti Media Center Ahmadiyah, MTA, dan Raja Pena untuk menyebarkan pesan damai, menepis hoaks, serta menunjukkan sisi humanis komunitas mereka.
  • Dengan prinsip 'Love for All, Hatred for None', generasi muda Ahmadiyah menegaskan dakwah tanpa kekerasan lewat kerja sosial lintas agama, memperkuat toleransi, dan membuka narasi baru tentang keberagaman di Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Mentari mulai terbenam di Ciputat pada Jumat sore, 13 Februari 2026, saat sekelompok pemuda berkumpul di Gerak Gerik Cafe & Bookstore.

Di tengah kepungan rak buku, mereka membedah buku "Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagaman dan Kerja Kemanusiaan" untuk mengurai benang kusut prasangka yang selama ini mengakar.

Muhammad Ghifari Misbahuddin mewakili anak muda Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) membuka diskusi dengan menegaskan bahwa Ahmadiyah bukan entitas asing, melainkan memiliki akar lokal kuat yang berperan sejak masa kemerdekaan.

Sejarah mencatat kedekatan mereka dengan Presiden Sukarno, yang bahkan membantu menunjukkan lokasi tanah untuk masjid-masjid Ahmadiyah.

Namun, perjalanan ini menemui badai di era Reformasi; Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) 2005 dan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri memicu diskriminasi luas, termasuk 200 kasus kekerasan yang terjadi antara 2005 hingga 2011.

Dalam forum tersebut, Achmad Fanani Rosyidi dari organisasi MUDA menyoroti betapa kuatnya politik identitas dan hoaks yang menyelimuti komunitas ini, seperti mitos lantai masjid yang dicuci setelah digunakan orang lain.

Senada dengan itu, pegiat kemanusiaan Barqy Nafsin Kaida mengakui bahwa interaksi langsung meruntuhkan stigma negatifnya. Ia menemukan praktik keberagamaan yang secara sosial sangat mirip dengan muslim pada umumnya, lengkap dengan kesalehan sosial yang kuat dalam bidang pendidikan dan kemanusiaan.

Diskusi selama dua jam itu ditutup dengan refleksi emosional tentang keteguhan jemaah Ahmadiyah yang memilih tidak membalas kekerasan. Ghifari menekankan jemaah Ahmadiyah akan selalu memegang teguh prinsip "Love for All, Hatred for None" atau kasih sayang untuk semua, kebencian tidak untuk siapa pun, sebagai jalan dakwah yang damai.

1. Dari ruang stigma ke dunia maya

Tim Media Center Ahmadiyah saat membuat video conten di kantor Media Center Ahmadiyah, Jakarta Pusat, Kamis, 26 Februari 2026. (IDN Times/Rochmanudin)

Ahmadiyah sejatinya bukan pendatang baru di Indonesia. Sejak 1924, tiga pemuda pribumi—M. Ahmad Nuruddin, M. Abu Bakar Ayyub, dan M. Zaini Dahlan—membawa pemikiran rasionalitas dan keadilan sosial dari India, yang kelak menginspirasi tokoh bangsa seperti Sukarno, H.O.S. Tjokroaminoto, dan Agus Salim dalam merumuskan ide kebangsaan yang inklusif.

Kini, komunitas ini terbagi menjadi dua aliran: Ahmadiyah Qodian (Jemaah Ahmadiyah Indonesia) yang berpusat di Jawa Barat, dan Ahmadiyah Lahore (Gerakan Ahmadiyah Indonesia) yang berpusat di Yogyakarta.

Sebagai seorang Ahmadi keturunan, Devi Safitri tidak memilih jalan konfrontasi untuk memperkenalkan keyakinannya. Ia lebih memilih diplomasi sikap, sebuah strategi autentik yang kini menjadi napas baru bagi Gen Z dan Milenial Ahmadiyah dalam menembus stigma yang telah mengakar selama satu abad.

Bagi Devi, identitas bukanlah label yang harus diteriakkan. "Saya tidak secara terang-terangan, misalnya menyebutkan, 'Oh, saya seorang Ahmadi, gitu.' Tapi saya menunjukkan dalam sikap saya," ungkapnya, saat ditemui IDN Times di Ciputat, Tangerang, Banten, 13 Februari 2026.

Meskipun ia pernah menyaksikan pahitnya penyerangan masjid di tempat tinggalnya di Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, akibat provokasi pihak luar, Devi kini menaruh harapan besar pada regulasi. Rasa trauma masa lalu perlahan menghilang.

"KUHP yang terbaru sudah disahkan Januari 2026 ini yang melarang juga Pasal 300 sampai 305 itu melarang untuk perusakan rumah ibadah. Sebenarnya itu angin segar bagus sekali asalkan penegakan hukum oleh aparat ini juga dilaksanakan," tuturnya penuh optimisme.

Alih-alih tenggelam dalam posisi defensif, anak muda Ahmadiyah kini memilih bergerak di 'ruang kebangsaan' melalui aksi nyata. Sama seperti yang dilakukan Devi. Mereka memiliki program rutin seperti Gift Blood (donor darah), Clean the City (bersih-bersih kota), hingga pendaftaran donor kornea mata.

Devi sendiri telah mendaftarkan diri sebagai pendonor kornea, sebuah perwujudan dari slogan utama mereka: "Saya menerapkan seperti slogan Ahmadiyah ya, 'Love for All, Hatred for None. Jadi memberikan cinta kasih kepada semua, tidak ada kebencian untuk siapapun'. Kita tunjukkan, buktikan di situ bahwa kita itu tidak seperti itu," tegasnya.

Sejalan dengan Devi, Thuhfah Husyiari 'Azmi bersama tim Media Center Ahmadiyah (MCA) di Jakarta Pusat mengelola perang narasi dengan cara berbeda.

Sebagai admin media sosial, perempuan yang akrab disapa Uphaa ini mengemas kegiatan jemaah menjadi konten kekinian, agar relevan dengan publik.

Uphaa, yang pernah mengalami persekusi saat duduk di bangku SD, ingin dunia melihat sisi lain komunitas Ahmadiyah.

"Biar audiens paham bahwa kita itu inklusif, aktif dalam kemasyarakatan, dan bukan sekadar eksklusif," ujarnya bersemangat, saat ditemui di Media Center Ahmadiyah (MCA), Jakarta Pusat, Kamis, 26 Februari 2026.

Dalam mengelola komentar negatif, mereka memiliki keyakinan "diam itu emas" untuk menjaga akhlak. Hilman Aliansyah, seorang editor video yang pernah mengalami ancaman pembunuhan saat kuliah, menjelaskan aturan main tersebut.

"Kita punya kebijakan dari atasnya bahwa kita kalau untuk akun official itu tidak memperbolehkan mengomentari atau merespons hal-hal seperti itu. Jadi biarkan, mubalig-mubalig muda itu yang membalas komentar-komentar itu," ujar Hilman, yang duduk semeja dengan Uphaa saat berbincang dengan IDN Times.

Sementara, Abdul Bari, Produser TV Ahmadiyah (MTA), menjelaskan gerakan digital mereka sangat terorganisir. Selain MCA yang mengelola berita kegiatan internal Ahmadiyah, ada Desk Tablig Internet dan website Raja Pena yang khusus menjawab fitnah (hoaks) atau pertanyaan teologi secara mendalam melalui artikel dan video.

Setiap konten syiar yang diproduksi di studio Indonesia pun dikirim ke Inggris, untuk disiarkan secara internasional melalui parabola.

Melalui kolaborasi ini, anak muda Ahmadiyah berupaya memastikan suara mereka tidak lagi terbungkam oleh stigma, melainkan beresonansi melalui karya dan aksi-aksi kemanusiaan.

2. Diplomasi kemanusiaan melawan stigma

Thuhfah Husyiari 'Azmi yang bertugas mengelola media sosial di Media Center Ahmadiyah saat tengah bekerja, Kamis, 26 Februari 2026. (IDN Times/Rochmanudin)

Juru Bicara JAI, Yendra Budiman, mengatakan generasi Milenial dan Gen Z Ahmadi kini mendominasi populasi komunitas Ahmadiyah di Indonesia, dengan estimasi mencapai 500 ribu jiwa. Anak-anak muda ini telah menjadi garda terdepan dalam berbagai aksi kemanusiaan dan tablig di ruang-ruang digital.

"Memang banyak yang tidak tercatat karena data baru didigitalkan pasca-penyerangan 2005. Estimasi sekarang sudah dianggap sekitar 1 juta orang, di mana lebih dari setengahnya adalah anak muda. Jadi, secara kultural bisa sekitar 500 ribu orang, meski pendataan resmi baru mencatat sekitar 25 ribu sampai 30 ribu orang di seluruh Indonesia," ujar dia, kepada IDN Times, Rabu, 25 Februari 2026.

Anak-anak muda Ahmadi menjadi ujung tombak melalui aksi kemanusiaan seperti Humanity First, mulai dari tsunami Aceh hingga bencana di Sumatra. Mereka tidak hanya mengelola dapur umum, tetapi juga terjun sebagai tenaga kesehatan dan psikolog untuk trauma healing.

"Tanpa Milenial dan Gen Z, generasi X dan Y Ahmadiyah sulit melakukan dakwah di ruang digital. Tanpa mereka, kegiatan sosial tidak bisa dieksekusi," ujar Yendra.

Di dunia maya, anak-anak muda Ahmadi bergerak sebagai content creator dan editor video untuk menyebarkan pesan perdamaian, dengan pendekatan yang cair melalui hobi dan kegiatan kampus.

Dengan hanya 14 persen masyarakat yang benar-benar mengenal Ahmadiyah, generasi muda Ahmadi juga memilih strategi sebagai 'contoh hidup'. Alih-alih berdebat, mereka menunjukkan ajaran melalui perilaku sehari-hari seperti salat, mengaji, atau aksi sosial kemanusiaan di lingkungan sekolah atau organisasi.

Namun, tantangan yang mereka hadapi tidaklah ringan. Di sekolah, mereka kerap menghadapi stigma 'sesat' dan persekusi yang terkadang dimulai dari guru. Di dunia kerja, diskriminasi karier juga masih terjadi, terutama di lembaga negara, akibat anggapan salah bahwa Ahmadiyah adalah organisasi terlarang.

Yendra menyebut di dunia maya sentimen negatif tentang Ahmadiyah mencapai angka 99 persen. Menghadapi resistensi tersebut, anak muda Ahmadi menggeser fokus diskusi ke isu-isu universal seperti kesehatan mental, korupsi, dan perdamaian dunia.

Yendra menilai masyarakat kini mulai jenuh dengan klaim kebenaran agama, mereka lebih tertarik pada solusi konkret seperti terhadap masalah kemiskinan, pendidikan, kesehatan mental, hingga korupsi.

Dalam menjalankan aksi kemanusiaan, mereka sering kali memilih tidak menonjolkan identitas atau atribut Ahmadiyah di daerah yang resisten, agar bantuan tetap tersampaikan tanpa hambatan birokrasi.

Meski harus menghadapi intimidasi, jemaah Ahmadiyah tetap memegang teguh prinsip anti-kekerasan. Bagi mereka, setiap tantangan adalah bagian dari ibadah, bercermin pada perjuangan Nabi Muhammad SAW yang tidak mendapatkan 'karpet merah' saat menegakkan kebenaran.

"Jika ada yang menghina atau mempersekusi, tidak boleh ada kebencian. Mereka harus tetap dicintai karena mereka tidak tahu," ujar Yendra.

3. Ahmadiyah di mata Gen Z

Infografis dakwah Gen Z dan Milenial Ahmadiyah (IDN Times/Sukma Shakti)

Anggia Leksa, mahasiswi akhir Universitas Pertanian Bogor (IPB) mengenal Ahmadiyah dari media sosial dan portal berita. Lewat dunia maya, Anggia sedikit tahu tentang JAI. Setahu dia, Ahamdiyah salah satu organisasi Islam yang sudah berdiri 100 tahun di Indonesia, yang berada di bawah kepemimpinan amir nasional.

"Selain itu, menurut saya JAI juga erat sama budaya India ya, karena pas peringatan Jalsah Salanah (pertemuan tahunan) itu perkumpulan internasionalnya di India. Pas saya baca sejarahnya juga memang di awal itu asalnya dari tanah India," ujar mahasiswi jurusan komunikasi itu kepada IDN Times, Senin, 9 Maret 2026.

Mahasiswi semester akhir itu juga kerap mendengar JAI akrab dengan stigmasisasi seperti 'sesat', 'kafir', atau 'Ahmadiyah bukan Islam'. Namun, ia berusaha mencari tahu lebih detail soal Ahmadiyah dan terus penasaran.

"Memang di Indonesia ini masih banyak stigmatisasi tertentu soal JAI, terlebih lagi mereka sering dikaitin sama hal-hal berbau kekafiran, tapi saat saya mencari tahu lagi, kebanyakan dari yang diomongin itu emang cuma missleading semata sih, apalagi yang bilang ajaran JAI itu gak sesuai sama nilai-nilai Al-Quran," ujar dia.

Anggia juga punya pengalaman bertemu langsung dengan Ahmadi. Ia berkenalan saat di suatu acara. Ia pun bersikap biasa. Tak ada rasa benci atau takut. Ia justru penasaran, ingin tahu lebih dalam soal Ahmadiyah.

"Kalau saya sendiri lebih ke penasaran sih, karena kan saya dari awal itu taunya organisasi besar Islam di Indonesia kalau gak NU ya Muhammadiyah ya. Jadi pas udah beranjak dewasa dan tahu ada organisasi Islam lain, namanya Ahmadiyah, itu saya jadi tertarik sih buat belajar lebih lanjut, tapi kalau takut atau khawatir gak ada," ujar dia.

Anggia menganggap, munculnya stigma tentang Ahmadiyah, karena ketidaktahuan masyarakat pada JAI. Mereka enggan mencari tahu soal Ahmadiyah.

"Karena memang pas saya cerita soal Ahmadiyah ke temen-temen kuliah saya, itu banyak dari mereka yang langsung bilang sesat dan sebagainya, karena dari awal asing dengan nama atau ajarannya," ujar dia.

"Jadi itu mostly karena dari ketidaktahuan yang disimpulkan sih, bukan berasal dari hasil cari tahu soal ajaran Ahmadiyah-nya," sambungnya.

Bahkan, jika ada kesempatan lagi, Anggia ingin tahu lebih jauh tentang Ahmadiyah, untuk menambah wawasan keagamaan atau sekadar berdiskusi.

"Next time kalau memang ada kesempatan lagi pengen sih mas buat sekadar sharing," ujar perempuan asal Bekasi, Jawa Barat itu.

Berbeda dengan Anggia, Yovita Arnelia, hanya tahu sedikit tentang Ahmadiyah. Dia juga tahu tentang Ahmadiyah dari sebuah portal berita.

"JAI tuh komunitas muslim kan ya?" ujar mahasiswi Politeknik Jakarta itu, balik bertanya.

"Sejauh yang aku tahu JAI tuh komunitas muslim. Nah dari artikel yang aku baca, tapi posisi mereka cukup kompleks gitu di sini. Maaf kalau aku salah ya, tapi setahu ku karena beda pandangan gitu sama sebagian kelompok muslim di Indonesia," ujar dia.

Mahasiswi yang akrab disapa Jojo itu, bahkan belum pernah bertemu langsung dengan kelompok Ahmadiyah. Karena itu, ia lebih berhati-hati memandang atau menilai tentang Ahmadiyah.

"Jujur aku sendiri belum terlalu banyak tahu soal ajaran Ahmadiyah ini sih, jadi aku ngerasa belum cukup punya dasar buat nilai ajaran itu bener atau sesat. Tapi menurutku soal keyakinan gitu emang cukup sensitif sih, dan kembali lagi ke kepercayaan masing-masing," ujarnya.

Terkait pandangan stigmasisasi Ahmadiyah, Yovita enggan berkomentar banyak. Yang jelas, ia memegang kuat prinsip perbedaan dalam beragama dan berkeyakinan.

"Yang aku tahu emang mereka sampai ada beberapa peraturan larangan gitu ya dari pemerintah terkait aktivitas mereka. Tapi karena aku sendiri belum tahu ajarannya kayak apa, jadi aku gak bisa nyimpulin. Kalau dari pandangan aku pribadi, yang penting kita tetap ngehargain perbedaan aja, tanpa harus ninggalin keyakinan kita sendiri," ucap mahasiswa semester enam itu.

4. Warna baru dalam narasi toleransi

Sarasehan Memperkuat Wawasan Kebangsaan dengan Meningkatkan Kecintaan kepada Tanah Air untuk Menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa, di markas besar Ahmadiyah, Kabupaten Bogor, Sabtu (31/8/2024). (IDN Times/Rochmanudin)

Profesor Ismatu Ropi, Guru Besar Ilmu Perbandingan Agama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mengamati pergerakan anak muda Ahmadi memberikan warna baru dalam narasi toleransi di Indonesia. Melalui konten-konten informatif mengenai kegiatan internal seperti donor darah, donor kornea mata, pelatihan kepemimpinan, hingga aksi turun ke jalan membersihkan sampah, mereka perlahan meruntuhkan tembok stigma.

Selama ini, hubungan antara mayoritas dan minoritas sering kali terkendala informasi yang tidak seimbang. Profesor Ismatu melihat media sosial menjadi ajang efektif, agar orang saling mengenal.

"Media sosial itu menjadi cara yang paling efektif untuk membuat orang memiliki pengetahuan yang cukup tentang perbedaan, tentang ajaran, dan selanjutnya," ujarnya, kepada IDN Times, Selasa, 10 Maret 2026.

Profesor Ismatu juga melihat dakwah yang dilakukan anak muda Amhadiyah tidak lagi melulu soal teologi. Mereka lebih memilih menunjukkan kontribusi nyata bagi masyarakat luas. Salah satu gerakan yang paling terlihat adalah Clean the City, di mana para pemuda Ahmadi turun langsung ke pusat-pusat kota untuk memungut sampah. Bagi mereka, menjadi bagian dari masyarakat yang lebih luas adalah kunci agar bisa diterima.

Persoalan teologi memang sering kali menjadi ganjalan utama. Padahal, menurut Profesor Ismatu, perbedaan Ahmadiyah dengan komunitas muslim lain sebenarnya sangat spesifik, yakni terkait nomenklatur kenabian. Dari segi ibadah harian seperti salat dan zakat, tidak ada perbedaan dengan umat Islam lainnya.

"Penting buat orang-orang bisa memahami perbedaan nomenklatur tentang konsep nabi itu sendiri. Itu aja sebenarnya yang paling membedakan, salatnya sama, zakatnya sama, apanya yang beda?" jelas Direktur Eksekutif Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarief Hidayatullah Jakarta itu.

Namun, tantangan terbesar tetap ada pada pemahaman hukum di masyarakat. Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri Tahun 2008 sering kali disalahartikan sebagai pelarangan total terhadap aktivitas Ahmadiyah. Padahal, secara hukum, ruang lingkup SKB sangat terbatas.

Profesor Ismatu mengkritik munculnya aturan di tingkat daerah yang melampaui kewenangan hukum SKB itu sendiri. "Masyarakat juga harus diberikan penyadaran, hal yang kayak gini tidak adil, gak boleh dalam negara yang heterogen kayak gini," tegasnya.

Alih-alih terjebak dalam debat teologi yang sering kali menemui jalan buntu, Profesor Ismatu menyarankan agar generasi muda—baik dari Ahmadiyah maupun kelompok lain—fokus pada isu-isu kemanusiaan yang menyentuh hati banyak orang. Bekerja bareng dalam isu kesehatan, pendidikan, dan lingkungan dianggap jauh lebih utama.

"Kita bisa bekerja bareng banyak isu-isu kemanusiaan yang lain. Isu yang lebih utama, yang lebih menyangkut hati hidup banyak orang," ujar dia.

Dengan semangat kolaborasi lintas iman ini, diharapkan sekat-sekat perbedaan perlahan memudar, berganti dengan rasa saling menghargai sebagai sesama warga negara.

Editorial Team