Ahmadiyah Luncurkan Buku 100 Tahun untuk Tangkal Mispersepsi Publik

- Eks Menag sebut mispersepsi terhadap Ahmadiyah bersifat mendasar
- Rekomendasi kebijakan pemerintah dari Ahmadiyah
- Contoh praktik hidup berdampingan ala Singapura
Jakarta, IDN Times - Jemaat Ahmadiyah Indonesia meluncurkan buku berjudul Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagaman dan Kerja Kemanusiaan. Buku yang dibagi menjadi dua jilid ini memuat testimoni dan kesan dari 100 tokoh Indonesia mengenai hubungan dan pengalaman mereka dengan Ahmadiyah, menandai satu abad kehadiran organisasi keagamaan tersebut di Nusantara.
“Buku ini merupakan refleksi dari pertemanan dan persahabatan warga Ahmadiyah dengan para tokoh dari berbagai latar belakang, generasi, dan daerah. Dengan ketemananlah kita menjadi banyak kawan dan menjadi kenal dengan banyak pihak,” ujar Amir Nasional Ahmadiyah, Zaki Firdaus Syahid, saat memberikan sambutannya di Jakarta Pusat, Selasa, 20 Januari 2026.
Zaki berharap buku ini dapat menjadi jembatan untuk memoderasi kesalahpahaman terhadap Ahmadiyah yang selama ini terjadi.
1. Eks Menag sebut mispersepsi terhadap Ahmadiyah bersifat mendasar

Lebih lanjut, Mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyoroti mispersepsi terhadap Ahmadiyah bersifat mendasar dan teologis, seperti isu kenabian dan konsep Tazkirah, yang dipahami berbeda oleh kalangan Muslim di luar Ahmadiyah. Ia menilai buku ini sebagai media yang tepat untuk menjembatani perbedaan pemahaman tersebut.
“Kesalahpahaman itu hanya bisa diselesaikan kalau komunikasi itu terbangun di antara kita,” ujarnya.
Ia menekankan selain terus membuka diri, substansi komunikasi juga perlu diperdalam agar tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan menciptakan keresahan di internal umat Islam.
2. Rekomendasi kebijakan pemerintah dari Ahmadiyah

Sementara, dalam acara peluncuran buku turut menghadirkan sejumlah panelis dengan latar belakang aktivis, akademisi, tokoh pelintas agama, dan tokoh NU, Lebih lanjut, dalam diskusi tersebut beberapa rekomendasi yang ditujukan kepada pemerintah muncul.
Salah satunya dengan melibatkan perempuan dalam setiap diskusi dan kerja-kerja kemanusiaan. Peran historis perempuan dinilai krusial dalam menjaga perdamaian melalui pendekatan kultural dan empatik.
“Mereka menunjukkan cara-cara kultural untuk menjaga keberagaman dan perdamaian, tanpa kekerasan atau merugikan orang lain. Kehadiran mereka didorong oleh empati yang kuat, pendekatan yang lebih dekat, dan insting yang tajam,” kata Tokoh Pemuda Pegiat Keberagaman dan Gender, Mila Muzakkar.
Tak hanya itu, pendekatan lain yang disarankan adalah menyasar generasi muda melalui kanal budaya, seni, sastra, dan dunia digital. Dalam konteks ini, keberagaman dapat dikemas sebagai gaya hidup yang lebih mudah diterima dan dijalani sehari-hari oleh anak muda.
3. Contoh praktik hidup berdampingan ala Singapura

Selain itu, diskusi juga mengangkat contoh praktik hidup berdampingan yang diterapkan di Singapura. Negara tersebut menerapkan pemisahan peralatan makan halal dan non-halal di kantin sebagai bentuk living religion yang menghormati hak semua kelompok.
“Prinsip demokrasi utama adalah mayoritas berkuasa, tetapi prinsip kedua yang tak kalah penting adalah minoritas dilindungi,” ujar seorang Akademisi, Ismatu Ropi di dalam kesempatan yang sama.
Menurutnya, kelompok kecil seringkali diabaikan oleh kelompok besar, sehingga perlu upaya untuk memastikan hak-hak minoritas diakui dalam kehidupan sehari-hari.


















