potret logo organisasi GSF (commons.wikimedia.org/Brahim Guedich)
Sebelumnya, kapal misi kemanusiaan GSF dikabarkan dicegat oleh tentara Israel. Upaya intersepsi hingga diduga terjadi penculikan ini terjadi di laut Kepulauan Siprus, Mediterania Timur. Dalam rombongan tersebut, di antaranya terdapat sembilan warga negara Indonesia (WNI). Mereka merupakan jurnalis hingga relawan.
Perwakilan delegasi Indonesia dalam misi kemanusiaan GSF, Herman Budiyanto, mengatakan ada sekitar 54 kapal yang diberangkatkan dari Albatros Marina. Kapal itu menampung relawan dari berbagai negara.
"Ya kalau pemberangkatan dari Albatros itu hari Kamis. Hari Kamis dari Pantai Marmaris, wilayah Marmaris Turki. Dari Albatross ya, stay-nya Albatross, Marmaris. Jadi kita berangkat di sana ada 54 kapal ya, kemudian kita bergerak dan sampai sekarang kita posisi ada di Mediterani," kata dia dalam sambungan virtual di konferensi pers, Gedung Dompet Dhuafa, Jakarta Selatan, Senin (18/5/2026) malam.
Herman mengatakan, rombongan kapal GSF sempat dipantau langsung oleh kapal milik tentara Israel hingga drone. Kapal tersebut sempat mendekat dan melakukan pengejaran. Namun saat ini, kapal dan drone tersebut sudah tidak terlihat.
"Ya alhamdulillah kita dari semalam sudah, sudah siaga untuk terus memantau pergerakan kapal-kapal, ada drone ya. Alhamdulillah malam sudah tidak ada, ada drone-drone saja, kemudian pagi baru muncul adanya kapal, dua kapal perang dari IDF. Nah kapal-kapal ini menurunkan sekoci-sekoci bergerak mendekati, mengejar kapal-kapal kita," ujar Herman.
"Alhamdulillah tim kami ini kapten, kru-nya ya dari teman-teman luar biasa berpengalaman. Mereka bisa manuver melakukan penghindaran-penghindaran jauh ya dan sudah dari sasar pengejaran IDF tadi. Dan tentu ini juga berkat pertolongan Allah, doa dari seluruh warga negara sekalian Indonesia di mana pun berada," sambungnya.