Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ini Alasan RI Tetap Kirim TNI ke Misi UNIFIL Usai 4 Prajurit Gugur
Komandan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI, Mayjen TNI Iwan Bambang Setiawan ketika memberikan baret biru kepada 734 personel TNI yang akan bertugas di Lebanon. (www.instagram.com/@pmpp.tni)
  • Pemerintah Indonesia tetap mengirim Satgas TNI Konga XXII-T/UNIFIL 2026 ke Lebanon meski empat prajurit gugur, dengan keputusan berdasar pertimbangan strategis dan laporan keamanan lapangan.
  • Kemenko Polkam menegaskan pengiriman pasukan didukung komitmen PBB soal perlindungan, investigasi insiden, serta rencana kontingensi jika mandat UNIFIL tak lagi menjamin keselamatan personel.
  • Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya memastikan evaluasi terus berjalan namun misi perdamaian tetap dilanjutkan sesuai amanat UUD 1945 untuk berkontribusi menjaga perdamaian dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Indonesia tetap melanjutkan pengiriman personel TNI ke misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) pada tahun ini. Rencananya, Satgas TNI Konga XXII-T/UNIFIL 2026 akan berangkat pada Jumat (22/5/2026). Sementara, personel TNI yang sudah bertugas di Lebanon selama satu tahun kembali ke Tanah Air.

Keputusan Indonesia untuk tetap mengirimkan personel TNI ke UNIFIL menuai tanda tanya dari publik. Sebab, empat prajurit TNI gugur pada tahun ini ketika bertugas di misi UNIFIL. Bahkan, dua prajurit di antaranya gugur karena terkena proyektil dari tank merkava milik militer Israel.

Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan mengatakan, kelanjutan pengiriman pasukan perdamaian ke Lebanon merupakan keputusan yang didasari pada pertimbangan strategis yang matang. "Pemerintah RI menggunakan beberapa parameter konkret dalam menilai kelayakan dan keamanan misi," ujar Kepala Biro Humas, Data dan Informasi Kemenko Polkam, Brigjen TNI Honi Havana ketika dikonfirmasi, Kamis (14/5/2026).

Ia mengatakan, pemerintah melakukan penilaian risiko berbasis kondisi di lapangan. Pemerintah, kata Honi, secara berkala menerima laporan dari Kedutaan Besar RI (KBRI) di Beirut dan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI mengenai tingkat kerawanan wilayah serta kemampuan mitigasi risiko di lapangan.

Kedua, dilakukan reorganisasi dan reposisi kekuatan pasukan dengan mempertimbangkan efektivitas perlindungan personel. Langkah itu dapat berupa pengosongan maupun pemindahan pos satgas menyesuaikan situasi keamanan yang berkembang.

1. PBB menjamin memberikan perlindungan keamanan

UNIFIL kenang Kopral Rico Pramudia dalam upacara pelepasan jenazah di Lebanon. (Dok. UNIFIL)

Paramter ketiga, kata Jenderal bintang satu itu, yakni ada komitmen dan janji dari PBB. Meskipun hingga kini belum diambil tindakan apapun terhadap Israel.

"Ketiga, komitmen akuntabilitas dan investigasi PBB," ujar Honi.

Hal itu mencakup transparansi atas insiden yang pernah terjadi sebelumnya, jaminan pertanggungjawaban pihak terkait, serta mekanisme perlindungan dan penegakan hukum internasional bagi pasukan penjaga perdamaian.

Keempat, pemerintah menyiapkan rencana kontingensi apabila mandat UNIFIL dinilai tidak lagi mampu memberikan perlindungan bagi personel penjaga perdamaian. "Dalam kondisi tersebut, penarikan pasukan lebih awal menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan," tutur dia.

2. Seskab Teddy pastikan TNI tak akan setop pengiriman pasukan ke misi UNIFIL

Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, menerima Wakil Panglima TNI, Jenderal TNI Tandyo Budi Revita (Instagram/@sekretariat.kabinet)

Kebijakan Pemerintah Indonesia untuk tetap mengirim personel TNI ke misi UNIFIL sudah disampaikan oleh Sekretaris Kabinet Letnan Kolonel Teddy Indra Wijaya. Namun, Teddy menekankan pemerintah bakal melakukan evaluasi usai empat prajurit TNI gugur dalam misi UNIFIL.

"Oh, tidak ada untuk ke situ (menarik pasukan). Evaluasi tetap berjalan, baik evaluasi ke dalam dan keluar. Dan saya rasa Bapak Panglima TNI kemudian Menteri Luar Negeri sangat tegas mengenai semua prajurit kami yang berada di luar dan dalam negeri," ujar Teddy di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (10/4/2026).

Di forum itu, pejabat publik yang juga merupakan prajurit TNI aktif itu menjelaskan, Indonesia memiliki misi untuk menghapus penjajahan di dunia. Sebab, hal tersebut tertuang di dalam UUD 1945.

"Saya rasa itu sudah sangat tegas disampaikan, bahwa sesuai pembukaan Undang-Undang Dasar di alinea empat. Jadi kita mengirim pasukan di sana untuk menjaga perdamaian dan kita tegas terhadap evaluasi yang ada," tutur dia.

3. Daftar empat prajurit TNI yang gugur dalam misi UNIFIL

UNIFIL kenang Kopral Rico Pramudia dalam upacara pelepasan jenazah di Lebanon. (Dok. UNIFIL)

Berikut adalah daftar empat prajurit TNI yang gugur dalam misi UNIFIL di Lebanon:

1. Praka Rico Pramudia: Gugur pada Jumat, 24 April 2026, setelah menjalani perawatan intensif selama hampir satu bulan akibat luka berat yang diderita saat serangan proyektil di markas UNIFIL (Adchit Al Qusayr) pada 29 Maret 2026

2. Praka Farizal Rhomadhon: Gugur akibat serangan proyektil yang menghantam markas UNIFIL di Adchit Al Qusayr, Lebanon Selatan, pada 29 Maret 2026

3. Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar: Gugur pada 30 Maret 2026 akibat ledakan yang menghantam konvoi logistik UNIFIL

4. Sertu Muhammad Nur Ichwan: Gugur pada 30 Maret 2026 dalam insiden ledakan yang sama saat bertugas menjaga perdamaian dunia

Presiden Prabowo Subianto ikut memberikan penghormatan ketika tiga jenazah prajurit TNI tiba di Bandara Soekarno Hatta pada 4 April 2026 lalu. Rico gugur usai tiga jenazah koleganya tiba di Tanah Air.

Editorial Team