Ilustrasi - Panitia UPZ Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar melayani masyarakat yang menunaikan zakat, infak, dan sedekah selama Ramadan 2026. (Dok. Al-Markaz Al-Islami Makassar)
Secara bahasa, zakat berarti bersih, berkembang, baik, terpuji, dan berkah. Sementara menurut istilah fikih, zakat adalah sejumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan dari jenis harta tertentu dengan syarat tertentu, untuk diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya.
Dalam ketentuan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011, zakat didefinisikan sebagai harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang Muslim atau badan usaha untuk diberikan kepada pihak yang berhak, sesuai dengan syariat Islam.
Zakat memberikan manfaat bagi dua pihak, yaitu muzakki (orang yang menunaikan zakat) dan mustahik (penerima zakat). Bagi muzakki, zakat berfungsi membersihkan harta dari hak orang lain, terutama kaum fakir miskin. Zakat juga dapat membersihkan jiwa dari sifat buruk seperti kikir, tamak, dan sombong.
Sementara bagi mustahik, zakat membantu meringankan beban hidup serta menghilangkan rasa iri atau dengki di masyarakat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)
Selain itu, zakat juga diyakini dapat mendatangkan keberkahan bagi harta. Rasulullah SAW bersabda:
“Bentengilah hartamu dengan zakat.” (HR. Ath-Thabrani)
Dengan demikian, zakat tidak hanya berdampak pada aspek spiritual, tetapi juga berperan dalam mengurangi kesenjangan sosial dan membantu pengentasan kemiskinan.