Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IPB University Gandeng Mahasiswa Usut Tuntas Kasus Pelecehan Seksual
IPB dialog terbuka bersama ratusan mahasiswa terkait kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus. Humas IPB University
  • IPB University menggelar dialog terbuka dengan mahasiswa untuk membahas penanganan kasus kekerasan seksual, menegaskan komitmen transparansi dan nol toleransi terhadap segala bentuk pelecehan.
  • Kampus melibatkan organisasi serta perwakilan mahasiswa dalam investigasi agar prosesnya akuntabel dan menjaga kepercayaan publik terhadap sistem perlindungan di lingkungan akademik.
  • Hasil dialog menghasilkan kesepakatan antara rektorat dan BEM terkait pembenahan regulasi serta penguatan mekanisme perlindungan dan pemulihan hak korban kekerasan seksual di kampus.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    IPB University menggelar dialog terbuka bersama mahasiswa untuk membahas dan menindaklanjuti kasus pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan kampus.
  • Who?
    Kegiatan ini melibatkan Rektor IPB University Dr. Alim Setiawan Slamet, Direktur Kerjasama Dr. Alfian Helmi, serta Ketua BEM IPB Muhammad Abdan Rofi bersama ratusan mahasiswa.
  • Where?
    Dialog berlangsung di Auditorium Andi Hakim Nasution, Kampus IPB Dramaga, Kota Bogor, Jawa Barat.
  • When?
    Kegiatan dilaksanakan pada Jumat, 17 April 2026.
  • Why?
    Langkah ini dilakukan untuk memastikan transparansi penanganan kasus kekerasan seksual dan memperkuat sistem perlindungan bagi sivitas akademika.
  • How?
    Pihak kampus melibatkan organisasi mahasiswa dalam investigasi, menyepakati tuntutan regulasi dari BEM, serta memperkuat mekanisme perlindungan dan pemulihan hak korban.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bogor, IDN Times - Institut Pertanian Bogor ( IPB University) mengajak dialog terbuka terkait kasus kekerasan seksual yang menjadi isu hangat di kalangan sivitas akademika, kepada ratusan mahasiswa di Auditorium Andi Hakim Nasution, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jumat (17/4/2026).

Langkah proaktif ini diambil sebagai bentuk transparansi institusi dalam menangani kasus pelecehan seksual yang belakangan mencuat, sekaligus memastikan suara mahasiswa menjadi bagian penting dalam perbaikan sistem perlindungan di lingkungan kampus.

Rektor IPB University, Dr. Alim Setiawan Slamet, mengatakan tidak ada toleransi terhadap kekerasan kekerasan seksual.

"Kami tidak mentoleransi dan menormalisasi segala bentuk kekerasan seksual dalam kondisi apapun,” ujar Alim.

Alim menegaskan IPB University berkomitmen untuk tidak hanya fokus pada penegakan aturan, tetapi juga pendekatan dialogis agar tercipta keadilan yang komprehensif.

1. Pelibatan mahasiswa sebagai co-creator ruang aman

Mahasiswa IPB yang sedang foto di depan koin. (idntimes.com/Kumi Laila)

Dalam proses penanganan kasus, pihak kampus secara resmi melibatkan organisasi dan perwakilan mahasiswa untuk mengawal jalannya investigasi, agar tetap akuntabel dan menjaga kepercayaan publik.

Direktur Kerjasama, Komunikasi, dan Pemasaran IPB University, Dr. Alfian Helmi, mengatakan keterlibatan mahasiswa merupakan bentuk transparansi.

“Pelibatan partisipasi mahasiswa ini merupakan bagian dari komitmen terhadap transparansi dan akuntabilitas,” kata dia.

2. Rektorat sepakati tuntutan regulasi dari pihak BEM

potret Institut Pertanian Bogor (IPB) (ipb.ac.id)

Menurut Ketua BEM IPB University, Muhammad Abdan Rofi, pertemuan ini membuahkan hasil konkret, dengan disepakatinya sejumlah poin tuntutan mahasiswa, mulai dari pembenahan aturan hukum hingga aspek teknis di lapangan. Hal ini dilakukan guna menyempurnakan prosedur operasional standar (SOP) penanganan kasus kekerasan seksual ke depannya.

“Poin-poin tuntutan yang kami sampaikan, mulai dari regulasi, aturan hukum, prosedur, hingga level teknis, telah disepakati dan dipenuhi oleh pimpinan rektorat,” ucap dia.

3. Jaminan perlindungan dan pemulihan hak korban

ilustrasi privasi (pexels.com/Felicity Tai)

IPB University menegaskan prioritas utama tetap berada pada sisi penyintas. Mekanisme internal kampus diperkuat untuk memastikan respons cepat dan sensitif tanpa kompromi terhadap prinsip bagi pihak yang terdampak.

“Kami berdiri bersama korban melindungi, memulihkan, dan memastikan hak-haknya terpenuhi tanpa kompromi,” pungkas Alim.

Melalui dialog ini, IPB University berharap seluruh sivitas akademika memiliki keberanian melapor jika menemukan pelanggaran. Pihak kampus dan mahasiswa kini berkomitmen untuk saling mengawal, agar ekosistem pendidikan tetap bermartabat dan bebas dari kekerasan seksual.

Editorial Team