Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Intinya sih...

  • Istana mendengarkan masukan dari masyarakat terkait mekanisme pilkada ke depan

  • Prabowo mengusulkan pilkada lewat DPRD sebagai Ketum Gerindra, bukan Presiden

  • Istana tanggapi perubahan sikap Demokrat yang mendukung pilkada lewat DPRD

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi memastikan, Istana menghormati munculnya pendapat yang mendukung dan menolak wacana pemilihan kepala daerah (pilkada) lewat DPRD. Termasuk, adanya hasil survei terbaru yang menyebut mayoritas publik menolak pilkada tidak langsung.

"Ya kita kan menghormati semua pendapat begitu. Pasti kan semua pandangan kan ada yang pro, ada yang kontra, ada yang mendukung. Tidak ada masalah juga," kata dia kepada awak media di Istana Negara, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2026).

1. Istana dengar masukan dari masyarakat

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Prasetyo juga memastikan, Istana akan mendengarkan berbagai masukan dari masyarakat. Khususnya, soal bagaimana mekanisme pilkada ke depan.

"Kita coba dengarkan, masukan-masukannya," tutur dia.

2. Prabowo ungkap wacana pilkada lewat DPRD dalam kapasitasnya sebagai Ketum Gerindra

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Saat ditanya soal dukungan Presiden RI Prabowo Subianto terhadap rencana pilkada lewat DPRD, Prasetyo menyebut sebenarnya usul tersebut sudah lama digaungkan. Ia menegaskan, usulan yang disampaikan Prabowo dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Partai Gerindra, bukan presiden.

"Itu sudah lama kan kalau kita ini kan. Bukan sebagai Presiden ya, tapi sebagai Ketua Umum Partai Gerindra juga sebelum-sebelum ini kan kita juga sudah lama, termasuk revisi undang-undang yang sebelumnya kan juga pernah sudah dibahas juga perkara ini," ungkapnya.

3. Istana tanggapi sikap Demokrat yang berubah sikap

Dalam pidato di Kongres VI Demokrat di Jakarta pada Selasa (25/2), Prabowo mengatakan Indonesia saat ini berupaya efisiensi dan merealokasikan dana untuk program-program yang lebih penting. (Dok. Tim Komunikasi Prabowo)

Lebih lanjut, Prasetyo menyebut, soal Demokrat yang belakangan mengubah sikapnya menjadi mendukung pilkada lewat DPRD, hal itu merupakan sikap masing-masing parpol.

"Itu sikap masing-masing partai," jelas dia.

"Ya kalau kami secara ini ya, dari Partai Gerindra ya, tidak ada masalah," imbuh Prasetyo.

Sebelumnya, Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA mengungkapkan, hasil survei terbarunya yang menyatakan 66,1 persen responden menolak usul pilkada lewat DPRD. Peneliti Senior LSI Denny JA, Ardian Sopa mengatakan, hanya terdapat 28,6 persen menyatakan setuju atau sangat setuju.

"Dari data ini kita bisa lihat bahwa di atas 65 persen menolak Pilkada DPRD, angka ini bukan angka yang kecil, tetapi merupakan angka yang masif juga sistemik," kata Ardian dalam keterangan tertulis, Kamis (8/1/2026)

Ardian menjelaskan, dalam opini publik, ketika melewati batas 60 persen dari persetujuan publik, berarti efeknya sudah besar. Menurut dia, angka itu dihasilkan dari responden yang tersebar dari berbagai segmen.

Penolakan terhadap wacana perubahan sistem Pilkada itu juga datang dari lintas gender. Baik laki-laki maupun perempuan, menolak jika sistem Pilkada tidak langsung diterapkan.

"Kemudian baik yang di desa maupun yang di kota pun menolak. Isu ini tidak hanya milik masyarakat di perkotaan, tapi masyarakat desa juga," kata dia.

Editorial Team