Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jejak Kolonial di Balik Berdirinya Istana Kedatuan Luwu
Kedatuan Luwu di Kota palopo, Sulawesi Selatan. (IDN Times/Lia Hutasoit)
  • Istana Kedatuan Luwu di Palopo dibangun tahun 1920 oleh Belanda setelah Raja Andi Kambo menandatangani perjanjian Korte Verklaring dan mengakui kekuasaan kolonial.
  • Bangunan bergaya kolonial ini tetap mempertahankan identitas lokal dengan ornamen khas Luwu, simbol pajung, serta koleksi pusaka dan foto para Datu Luwu di dalamnya.
  • Saat ini Kedatuan Luwu dipimpin Datu ke-40, Andi Maradang Mackulau Opu To Bau, dan istananya menjadi destinasi sejarah serta wisata edukasi bagi masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
abad ke-16

Pusat pemerintahan Kedatuan Luwu dipindahkan ke Palopo, menjadikan kawasan ini pusat politik, budaya, dan penyebaran Islam di timur Sulawesi Selatan.

tahun 1907

Raja Andi Kambo menandatangani perjanjian Korte Verklaring dengan Belanda setelah ancaman penghancuran Kerajaan Luwu.

tahun 1920

Pemerintah Hindia Belanda membangun Istana Kedatuan Luwu bergaya kolonial pada masa pemerintahan Datu Luwu Andi Kambo.

Desember 2012

Andi Maradang Mackulau Opu To Bau dinobatkan sebagai Datu Luwu ke-40 menggantikan kakaknya, Andi Luwu Opu Daengna Patiware Petta Mattinroe Ri Alebirenna.

22 Mei 2026

Juru Bicara Istana Kedatuan, Andi Abdullah Sanad Kaddiraja, memberikan penjelasan kepada IDN Times tentang sejarah pembangunan istana oleh Belanda.

kini

Istana Kedatuan Luwu berfungsi sebagai museum dan tempat wisata edukasi. Dewan Adat Sembilan masih aktif secara sosial tanpa mencampuri pemerintahan modern.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Pembangunan dan keberadaan Istana Kedatuan Luwu di Kota Palopo yang menjadi simbol sejarah dan pusat kebudayaan Bugis, serta kini difungsikan sebagai museum dan lokasi wisata edukasi.
  • Who?
    Istana ini dibangun pada masa pemerintahan Datu Luwu Andi Kambo, kini dipimpin oleh Datu Luwu ke-40, Andi Maradang Mackulau Opu To Bau, dengan aktivitas adat dijalankan oleh Dewan Adat Sembilan.
  • Where?
    Bangunan bersejarah ini terletak di tengah Kota Palopo, Sulawesi Selatan, wilayah yang dikenal sebagai bagian dari Tana Luwu.
  • When?
    Pembangunan istana bergaya kolonial dilakukan sekitar tahun 1920 setelah penandatanganan perjanjian Korte Verklaring pada 1907; laporan kunjungan berlangsung Jumat, 22 Mei 2026.
  • Why?
    Pembangunan dilakukan setelah Kerajaan Luwu mengakui kekuasaan Belanda dan untuk menggantikan istana lama yang terbakar, sekaligus memperkuat simbol kekuasaan serta identitas budaya lokal.
  • How?
    Istana dibangun dengan arsitektur kolonial bercampur unsur lokal seperti ornamen khas Luwu dan pajung kebesaran; kini difungsikan sebagai museum kerajaan serta tempat kegiatan sosial dan edukatif masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di Kota Palopo ada istana putih namanya Istana Kedatuan Luwu. Dulu dibangun oleh Belanda tahun 1920 waktu Raja Andi Kambo setuju ikut Ratu Belanda. Istana ini punya bentuk Eropa tapi masih ada hiasan khas Luwu. Sekarang Datu Luwu ke-40 namanya Andi Maradang yang memimpin, dan banyak anak sekolah datang belajar di sana.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Keberadaan Istana Kedatuan Luwu di Palopo menunjukkan bagaimana warisan sejarah dapat hidup berdampingan dengan dinamika modern. Meski dibangun pada masa kolonial, istana ini tetap menonjolkan identitas lokal melalui ornamen khas dan fungsi sosialnya yang aktif. Kini, bangunan tersebut menjadi ruang edukasi dan simbol kebanggaan budaya masyarakat Luwu yang terus dijaga keberlanjutannya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Palopo, IDN Times - Di tengah Kota Palopo berdiri sebuah bangunan tua bercat putih dengan halaman luas yang bernuansa tenang. Bangunan itu adalah Istana Kedatuan Luwu atau yang dikenal sebagai Langkanae, simbol sejarah panjang Tanah Luwu yang pernah menjadi salah satu pusat peradaban tertua di Sulawesi Selatan.

"Ini adalah tempat yang telah dibangun oleh kolonialisme Belanda pada tahun 1920 setelah rajanya yaitu Andi Kambo, mengakui pemerintah Belanda sebagai rajanya, yaitu Ratu Wilhelmina," kata Jemma Tongeng atau Juru Bicara Istana Kedatuan, Andi Abdullah Sanad Kaddiraja, saat IDN Times berkunjung, Jumat (22/5/2026).

Andi Kambo mengakui kekuasaan Belanda dan menandatangani perjanjian Korte Verklaring (Perjanjian Pendek) pada tahun 1907. Dia terpaksa tunduk setelah Belanda mengancam akan menghancurkan Kerajaan Luwu menyusul perlawanan rakyat.

1. Tak campuri pelaksanaan pemerintahan saat ini

Kedatuan Luwu di Kota palopo, Sulawesi Selatan. (IDN Times/Lia Hutasoit)

Kedatuan Luwu adalah salah satu kerajaan Bugis tertua dan pusat peradaban paling berpengaruh di Sulawesi Selatan. Wilayahnya yang dikenal sebagai Tana Luwu meliputi Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur, dan Kota Palopo.

Kedatuan ini sangat dihormati sebagai tanah leluhur orang Bugis dan latar utama mahakarya sastra dunia atau naskah epik I La Galigo sebagai salah satu wilayah penting dalam sejarah masyarakat Bugis.

Andi mengatakan, eksistensi Dewan Adat Sembilan atau dikenal dengan Ade Asera masih aktif secara sosial, tetapi tak mencampuri pelaksanaan pemerintahan yang ada saat ini.

"Secara sosial kami masih aktif kami masih punya perangkat adat yang menganut aturan adat sembilan," kata dia.

2. Istana bergaya Eropa dengan identitas lokal

Kedatuan Luwu di Kota palopo, Sulawesi Selatan. (IDN Times/Lia Hutasoit)

Saat pusat pemerintahan dipindahkan ke Palopo pada abad ke-16, kawasan ini perlahan tumbuh menjadi pusat politik, budaya, dan penyebaran Islam di wilayah timur Sulawesi Selatan. Bangunan istana yang berdiri saat ini dibangun sekitar tahun 1920 pada masa pemerintahan Datu Luwu Andi Kambo.

Sebelumnya, istana lama berbentuk rumah panggung kayu. Versi sejarah menyebut bangunan lama itu hancur terbakar sebelum diganti bangunan permanen bergaya kolonial oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Meski bergaya Eropa, istana ini tetap menyimpan identitas lokal. Ornamen khas Luwu, halaman luas, hingga simbol pajung atau payung kebesaran kerajaan masih menjadi bagian penting dari bangunan tersebut. Di dalamnya tersimpan berbagai benda pusaka, foto para Datu Luwu, serta jejak perjalanan kerajaan yang pernah disegani di jazirah Sulawesi.

3. Dipimpin Andi Maradang Mackulau Opu To Bau

Kedatuan Luwu di Kota palopo, Sulawesi Selatan. (IDN Times/Lia Hutasoit)

Istana Kedatuan Luwu kini menjadi salah satu penanda sejarah utama di Palopo. Di tengah perkembangan kota, bangunan ini tetap berdiri jadi pengingat Luwu bukan hanya cerita masa lalu, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat yang masih hidup hingga hari ini.

Kini, Kesatuan Luwu dipimpin oleh Andi Maradang Mackulau Opu To Bau. Dia menjadi Datu Luwu ke-40 yang dinobatkan pada Desember 2012, melanjutkan estafet kepemimpinan dari kakaknya, Andi Luwu Opu Daengna Patiware Petta Mattinroe Ri Alebirenna.

4. Istana Datu Luwu punya denah persegi panjang

Kedatuan Luwu di Kota palopo, Sulawesi Selatan. (IDN Times/Lia Hutasoit)

Istana Datu Luwu memiliki denah persegi panjang dengan pola menyerupai huruf H dan atap limasan berbahan sirap kayu ulin. Bangunan ini terdiri dari empat bagian utama.

Ruang depan yang paling luas kini difungsikan sebagai museum koleksi kerajaan. Bagian tengah digunakan sebagai ruang Datu Luwu dan tempat penyimpanan arajang atau pusaka kerajaan yang dihubungkan lorong dan dilengkapi kamar mandi.

Sementara bagian belakang dipakai sebagai ruang makan, kamar tidur, gudang, dan fasilitas lainnya. Istana tersebut memiliki 17 jendela bercorak klasik dengan perpaduan warna hijau dan kuning. Pintu dan jendelanya berbentuk segi empat dengan ornamen krepyak dan beberapa dilengkapi terali besi.

5. Wisata edukasi anak-anak

Kedatuan Luwu di Kota palopo, Sulawesi Selatan. (IDN Times/Lia Hutasoit)

Dari pantauan IDN Times tak sedikit masyarakat yang mengunjungi Istana ini. Sejumlah anak sekolah juga tampak melaksanakan wisata edukasi di istana yang bersejarah tersebut.

Kunjungan ke Istana Kedatuan Luwu merupakan bagian dari perjalanan IDN Times dan beberapa media dengan Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Palopo. Kepala Kantor Imigrasi Palopo, Yogie Kashogi, mengatakan, pihaknya tak sekali dua kali melakukan koordinasi dengan Kedatuan Luwu.

"Karena sejatinya kami ini di Imigrasi Palopo membawahi Luwu Raya serta Luwu Utara, jadi kami pun senantiasa berkoordinasi dengan Kedatuan. Alhamdulillah ada beberapa kesempatan kami sempat bertemu dengan Datu Luwu di sini, waktu kemarin ada kegiatan Hari Perlawanan Rakyat Luwu di sini," kata Yogie.

Editorial Team