Jakarta, IDN Times - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf "JK" Kalla mengatakan Presiden Prabowo Subianto tak banyak memberikan komentar soal agresi Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran, karena sudah terikat perjanjian dagang tarif resiprokal.
Alhasil, kata JK, Indonesia tak bisa menyampaikan sikap keras, termasuk mengutuk agresi militer yang terjadi di Tehran sejak Sabtu, 28 Februari 2026. Prabowo dinilai khawatir sikap yang keras akan mengubah pikiran Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dan menaikkan tarif bea masuk impor bagi produk-produk Indonesia.
"Presiden kan sudah terikat dengan perjanjian dengan Amerika Serikat, yang mana dinilai banyak pihak, termasuk saya memberikan hak terlalu banyak ke AS, sehingga mengikat. Sehingga, Beliau tidak terlalu banyak berkomentar tentang Iran," ujar JK dalam wawancara Ngobrol Seru dengan Pemimpin Redaksi IDN Times, Uni Lubis, yang tayang di kanal YouTube, Rabu, 4 Maret 2026.
"Karena dalam perjanjian itu, Indonesia harus ikut kebijakan Amerika. Tidak bisa bertentangan dengan (sikap) Amerika," imbuhnya.
Pernyataan senada disampaikan JK dalam pertemuan dengan mantan presiden, mantan wakil presiden, mantan menteri luar negeri, hingga ketua umum partai politik di Istana Kepresidenan pada Selasa, 3 Maret 2026 . Mantan Ketua Umum Partai Golkar itu mengatakan pertemuan berlangsung 3,5 jam yang dimulai pukul 19.00 WIB.
Prabowo membuka pertemuan dengan memberikan penjelasan selama 1,5 jam. Sisa 2 jam diisi dengan diskusi. JK mengaku menjadi orang pertama yang memberikan pandangan kepada Prabowo, sebab, ketika sesi diskusi dibuka, semua peserta semula hanya diam.
Pandangan JK itu seolah mengonfirmasi sikap diam Prabowo terhadap agresi militer yang dilakukan Israel dan Negeri Paman Sam. Publik di Tanah Air menantikan sikap mengecam pemerintah terhadap agresi militer tersebut.
"Di dalam sesi tanya jawab saya sampaikan, jangan karena (perjanjian) tarif, lalu kita terlalu ikut (sikap) Amerika. Karena tarif (bea masuk untuk barang impor) tidak terlalu penting. Kan yang bayar (tarif) bukan kita tapi rakyat Amerika," tutur dia.
