Jusuf Kalla Ungkap Alasan Iran Tak Akan Menyerah Lawan AS-Israel

- Jusuf Kalla menilai Iran tidak akan menyerah menghadapi tekanan AS dan Israel karena faktor sejarah, ideologi, serta karakter bangsa Persia yang dikenal pantang tunduk sejak dahulu.
- Ia mengungkapkan kemampuan presisi serangan Iran didukung teknologi satelit dan sistem persenjataan dari China, bahkan disebut ada peran Rusia dalam hubungan militer dengan Iran.
- JK menjelaskan strategi hujan roket Iran bertujuan melemahkan pertahanan lawan, sementara konflik berpotensi bergeser ke perang drone akibat efisiensi biaya dan ketergantungan suplai senjata.
Jakarta, IDN Times - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla meyakini Iran tidak akan menyerah menghadapi tekanan militer dari Amerika Serikat (AS) dan Israel. Ia menilai, faktor sejarah, ideologi, hingga dukungan teknologi dari negara lain membuat posisi Iran tidak mudah dilemahkan dalam konflik yang terus memanas di Timur Tengah.
Menurut JK, karakter bangsa Persia yang kini menjadi Iran sudah terbentuk sejak lama dan tidak pernah tunduk dalam sejarahnya.
1. Sejarah dan ideologi jadi fondasi perlawanan

JK mengatakan, Iran memiliki tradisi panjang sebagai bangsa yang tidak mudah menyerah. Ia menambahkan, aspek ideologis dan agama juga menjadi faktor penting yang memperkuat mental perlawanan.
“Saya yakin Iran tidak akan menyerah. Dalam sejarahnya, Iran tidak pernah menyerah, sejak dulu itu Persia. Tidak pernah menyerah,” kata dia dalam acara Ngobrol Seru bersama IDN Times by Pemimpin Redaksi IDN Times, Uni Lubis di rumah pribadi JK, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (4/3/2026).
“Apalagi mereka berdasar kepada agama. Sehingga kalaupun ada yang tewas, syahid. Jadi mereka tidak takut,” sambung dia.
2. Dukungan teknologi dari China

JK mengungkapkan, kemampuan Iran menyerang target secara presisi tidak lepas dari dukungan teknologi luar negeri. Ia menyebut sistem persenjataan dan teknologi satelit yang digunakan Iran berasal dari China.
“Kalau roket itu walaupun jaraknya ribuan km bisa kena tempat yang dituju, itu butuh teknologi satelit yang rumit. Amerika punya tentu, tapi Iran sekarang pakai China punya. China kasih,” ungkapnya.
Ia bahkan menilai serangan presisi Iran ke target strategis Israel dimungkinkan berkat bantuan teknologi tersebut. Dalam perbincangan itu, juga disebut peran Rusia yang selama ini memiliki hubungan militer erat dengan Iran.
Menurut JK, tanpa dukungan sistem navigasi dan satelit canggih, akurasi serangan jarak jauh sulit dicapai.
3. Strategi hujan roket dan ancaman perang berkepanjangan

Selain teknologi, JK menyoroti strategi Iran yang menembakkan roket dalam jumlah besar secara bertubi-tubi. Strategi ini, kata dia, bukan semata soal harga roket yang lebih murah dibanding sistem pertahanan seperti rudal patriot milik AS, tetapi soal kuantitas.
“Bukan soal murahnya, roket banyak sehingga tidak sempat terdeteksi oleh Patriot,” ujarnya.
Dengan pola serangan massal, meski sebagian roket berhasil dihancurkan, masih ada yang lolos dan mencapai sasaran.
JK juga menyinggung soal stok persenjataan. Ia menyebut ada analisis yang memperkirakan Iran masih memiliki sekitar 3.000 roket. Jika diluncurkan 100 per hari, persediaan itu bisa bertahan sekitar sebulan, bahkan lebih lama jika intensitasnya berbeda.
Namun, ia mengingatkan bahwa bukan hanya Iran yang berisiko kehabisan pasokan.
“Amerika juga begitu. Israel juga begitu. Bisa kekurangan supply,” katanya.
Pada akhirnya, JK melihat konflik ini berpotensi berubah menjadi perang berbasis drone, mengingat biaya lebih murah dan efektivitasnya dalam perang modern. Ia pun menilai dinamika suplai senjata dan teknologi akan sangat menentukan arah konflik ke depan.

















