Jusuf Kalla Sebut Presiden AS Donald Trump Sakit Jiwa

- Jusuf Kalla menyebut Donald Trump sebagai pemimpin yang mengidap gangguan kejiwaan karena kebijakannya yang gemar memicu perang dan bertindak berdasarkan insting tanpa pertimbangan matang.
- JK menilai tidak ada presiden Amerika sebelumnya yang seagresif Trump dalam mencari konflik, serta menyoroti kecenderungan Trump mengambil keputusan sepihak terkait serangan ke negara lain.
- Dalam pertemuan di Istana, JK menjelaskan pembahasan antara Presiden Prabowo dan para tokoh nasional mengenai situasi geopolitik, Board of Peace, serta dampak perjanjian resiprokal Indonesia-AS terhadap sikap diplomatik Indonesia.
Jakarta, IDN Times - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK) menyebut Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump sebagai figur yang mengidap sakit kejiwaan.
Hal tersebut disampaikan JK menanggapi dinamika peperangan yang terjadi imbas AS dan Israel melakukan penyerangan terhadap Iran.
1. AS selalu mencari alasan untuk menyerang

Menurut JK, pemerintah AS di bawah kepemimpinan Trump selalu berupaya mencari masalah dengan melakukan penyerangan ke negara lain.
"Cuma saya bilang, Amerika itu memang selalu mencari alasan untuk menyerang orang dan saya kira dia sakit jiwa itu," kata dia dalam acara Ngobrol Seru by IDN Times bersama Pemimpin Redaksi IDN Times, Uni Lubis di rumah pribadi JK, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (4/3/2026).
2. Tidak ada Presiden AS yang suka perang seperti Trump

JK mengatakan, tidak ada Presiden AS yang punya kebijakan buruk seperti Trump. Dia mengatakan, Trump gemar memicu peperangan ketimbang perdamaian.
JK menilai, Trump selalu membuat kebijakan sendiri dengan hanya mempertimbangkan insting dan instan.
"Trump itu menurut saya sakit jiwa. Tidak ada Presiden Amerika seperti itu yang kerjanya mencari perang dan dia menjelaskan sendiri, mengambil tindakan sendiri. Ya, selalu dia berpikir insting dan instan," kata dia.
3. Pembicaraan Prabowo dengan eks presiden-wapres di Istana

JK juga mengungkap isi pembicaraan Presiden RI, Prabowo Subianto dengan sejumlah mantan presiden, mantan wakil presiden, mantan Menteri Luar Negeri, dan ketua umum partai politik di Istana Kepresidenan Jakarta, pada Selasa (3/3/2026) malam.
JK menyebut, pertemuan itu membahas situasi geopolitik terkini. Prabowo mengungkap soal pandangan dan informasi strategis, mulai dari situasi di Timur Tengah hingga kunjungan luar negeri yang telah dilakukan sebelumnya.
Selain itu, Prabowo memaparkan perkembangan sebelum dan sesudah eskalasi konflik yang melibatkan Iran.
“Ya, tentu beliau memberikan kita pandangan-pandangan juga semacam informasi dari suasana sebelum dan sesudah Iran juga sebelumnya kunjungannya ke Amerika, ke Eropa, itu antara lain disampaikan dan juga sikap pendirian Indonesia tentang situasi ini. Kurang lebih begitulah,” ujar JK.
Pertemuan ini turut dibahas langkah Indonesia bergabung ke forum yang disebut sebagai Board of Peace (BoP). Disebutkan pula bahwa BoP jadi satu-satunya cara untuk meredam konflik saat ini.
“Ya, dibahas bahwa satu-satunya cara untuk sementara ini menghentikan konflik itu dan menurut saya, saya kira oke kalau soal itu. Cuma nanti ujungnya kita tidak tahu apa,” kata dia.
JK menambahkan, langkah tersebut memang menuai beragam pandangan. Namun menurutnya, jika bisa menghentikan konflik meski sementara, hal itu patut dipertimbangkan sebagai opsi diplomatik.
Selain isu konflik Timur Tengah, JK juga menyinggung perjanjian yang baru diteken Indonesia dengan Amerika Serikat, yakni perjanjian resiprokal.
Dia mengakui, Presiden saat ini berada dalam posisi terikat perjanjian tersebut sehingga ruang geraknya dalam menyampaikan sikap terhadap Iran menjadi terbatas.
“Ya, ini karena Indonesia, Presiden sudah terikat dengan perjanjian dengan Amerika. Yang banyak pihak, termasuk saya, (menilai) itu terlalu memihak, memberikan hak ke Amerika terlalu banyak dibanding kita. Sehingga itu mengikat, beliau tidak banyak memberikan komentar tentang Iran justru. Karena dalam perjanjian itu Indonesia harus ikut kebijakan Amerika. Ya, tidak bisa bertentangan ke Amerika,” kata JK.
JK pun menyampaikan kepada Prabowo agar Indonesia tidak terlalu mengikuti arah kebijakan AS hanya karena persoalan tarif.
“Walaupun di dalam tanya jawab saya sampaikan, jangan karena tarif itu kita terlalu ikut Amerika. Karena tarif itu sebenarnya tidak terlalu penting menurut saya. Karena yang bayar bukan kita, Amerika yang bayar, orang Amerika yang bayar bukan kita,” katanya.
“Reciprocal. Artinya, kedua belah pihak. Walaupun kedua belah pihak itu tidak seimbang. 200 haknya Amerika, kita punya hanya 9 berapa 16 ya. Jadi saya bilang tidak seimbang. Tapi nah mungkin, ya, sudah terjadi,” sambung dia.
Namun, dia berharap, masih ada ruang penyesuaian, terlebih jika terdapat perkembangan hukum baru di Amerika Serikat yang bisa menjadi dasar asumsi atau keputusan baru.
Menurut JK, secara keseluruhan pertemuan di Istana berlangsung dalam suasana penjelasan terbuka dari Presiden, termasuk alasan di balik penandatanganan perjanjian dan keputusan terkait Board of Peace.
“Beliau menjelaskan kenapa Palestina, kenapa dia menandatangani itu, kenapa Board of Peace. Tapi menurut saya kalau Board of Peace itu setidak-tidaknya bisa menghentikan sementara konflik itu,” ucap JK.















