Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
JPPI Catat 37.270 Korban Keracunan MBG Sejak Januari 2025-Mei 2026
Ilustrasi MBG. (IDN Times/Tunggul Damarjati)
  • JPPI mencatat total 37.270 korban keracunan Program Makan Bergizi Gratis sejak Januari 2025 hingga Mei 2026, dengan Jawa Tengah menjadi provinsi dengan jumlah kasus tertinggi.
  • Jumlah korban pada awal 2026 mencapai ribuan sejak Januari, menandakan potensi peningkatan kasus dibandingkan tahun sebelumnya menurut Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji.
  • Sebagian besar dari 26.097 SPPG belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi, memicu risiko makanan tidak matang dan distribusi lambat yang berpotensi menyebabkan keracunan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Januari 2025

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai berjalan dan data korban keracunan mulai dicatat oleh JPPI.

Agustus 2025

Pada tahun 2025, lonjakan besar kasus keracunan MBG baru terjadi mulai bulan ini menurut catatan JPPI.

7 April 2026

JPPI mencatat jumlah korban keracunan MBG telah mencapai 5.523 orang sejak awal tahun.

31 Mei 2026

Total korban keracunan MBG sepanjang Januari hingga akhir Mei 2026 tercatat sebanyak 9.167 orang.

Mei 2026

Data JPPI menunjukkan total korban keracunan MBG sejak Januari 2025 hingga Mei 2026 mencapai 37.270 orang di seluruh Indonesia.

kini

JPPI menilai kasus keracunan MBG berpotensi meningkat dan merekomendasikan agar pemerintah memperketat standar keamanan pangan serta melarang SPPG tanpa SLHS menyediakan makanan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Kasus keracunan akibat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tercatat mencapai 37.270 korban sejak Januari 2025 hingga Mei 2026 di berbagai daerah Indonesia.
  • Who?
    Korban berasal dari peserta program MBG, dengan data dihimpun oleh Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI). Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, memberikan keterangan terkait temuan tersebut.
  • Where?
    Kejadian keracunan terjadi di sejumlah provinsi, terutama Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Beberapa wilayah seperti Kalimantan Utara dan Maluku tercatat tanpa kasus.
  • When?
    Kasus berlangsung sejak Januari 2025 hingga Mei 2026, dengan peningkatan signifikan pada awal tahun 2026 dibandingkan periode sebelumnya.
  • Why?
    Penyebab utama diduga karena banyak dapur penyedia makanan MBG beroperasi melebihi kapasitas dan sebagian besar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
  • How?
    Makanan diproduksi dalam jumlah besar sehingga tidak matang sempurna dan waktu distribusi terlalu lama. Kondisi ini meningkatkan risiko kontaminasi yang menyebabkan keracunan massal di kalangan penerima manfaat program.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Banyak orang sakit perut karena makan dari program Makan Bergizi Gratis. Katanya sudah ada lebih dari tiga puluh tujuh ribu orang yang keracunan sejak tahun lalu. Paling banyak di Jawa Tengah, lalu di Jawa Timur dan Jawa Barat. Ada bapak bernama Ubaid bilang dapurnya masak terlalu banyak jadi makanannya bisa tidak matang. Sekarang mereka disuruh hati-hati biar tidak ada yang keracunan lagi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Meskipun data JPPI menunjukkan tingginya angka keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis, laporan ini mencerminkan adanya pemantauan yang aktif dan transparan terhadap pelaksanaan program. Fakta bahwa sejumlah provinsi tercatat nihil kasus menunjukkan adanya praktik pengelolaan yang lebih aman di beberapa daerah, memberi dasar bagi perbaikan mutu dan penerapan standar keamanan pangan secara lebih luas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Data terbaru Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menunjukkan total korban keracunan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mencapai 37.270 orang sejak program tersebut berjalan pada bulan Januari 2025 hingga Mei 2026.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 9.167 korban tercatat sepanjang Januari hingga 31 Mei 2026. Angka itu menunjukkan kasus keracunan masih terus terjadi di berbagai daerah di Indonesia sejak lebih dari satu tahun pelaksanaannya.


1. Jateng jadi provinsi korban keracunan terbanyak

Prabowo Minta MBG Fokus untuk Anak Kurang Gizi, Pengamat: Langkah yang Tepat sumber: https://nasional.kompas.com/read/2026/04/13/19544441/prabowo-minta-mbg-fokus-untuk-anak-kurang-gizi-pengamat-langkah-yang-tepat.

Menurut data dari JPPI, korban keracunan MBG paling banyak terjadi di Provinsi Jawa Tengah dengan 2.924 korban. Kemudian, disusul Jawa Timur sebanyak 1.512 korban dan Jawa Barat 793 korban. 

Sementara itu, Provinsi Kalimantan Utara, Maluku, Riau, Kalimantan Selatan, dan Papua Barat Daya tercatat nihil atau tidak ada korban keracunan karena MBG



2. Korban keracunan tahun 2026 dinilai berpotensi meningkat

Korban keracunan MBG di Amanuban, TTS, NTT. (Dok Polres TTS)

Melansir NEW Indonesia JPPI, Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, menilai jumlah korban yang tercatat sejak awal tahun menunjukkan potensi kasus yang lebih besar dibandingkan tahun 2025.

Ubaid mengungkapkan, hingga 7 April 2026, jumlah korban keracunan MBG telah mencapai 5.523 orang. Angka tersebut dinilai sebagai sinyal bahaya karena pada 2025 lonjakan kasus dalam jumlah besar baru terjadi mulai Agustus.

Sedangkan pada 2026, ribuan korban sudah tercatat sejak Januari. Menurut dia, kondisi ini menunjukkan bahwa kasus keracunan MBG berpotensi meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

3. Banyak SPPG belum kantongi SLHS

Pekerja menyiapkan paket Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)

Selain itu, Ubaid juga menyoroti bertambahnya jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Berdasarkan data Badan Gizi Nasional (BGN), terdapat 26.097 SPPG yang beroperasi, tetapi sebagian besar disebut belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). 

Menurut Ubaid, peningkatan jumlah penerima manfaat membuat dapur MBG harus memproduksi makanan dalam jumlah besar di luar kapasitas sehingga berpotensi menyebabkan makanan tidak matang sempurna. 

"Dengan jumlah penerima manfaat terus meningkat, dapur-dapur dipaksa memasak porsi yang sangat besar di luar kapasitas idealnya. Hal ini menyebabkan makanan tidak matang sempurna dan waktu tunggu distribusi terlalu lama," ujar Ubaid. 


4. Saran JPPI agar keracunan tak terulang

Ilustrasi kunjungan ke salah SPPG di Kota Semarang. (IDN Times/bt)

Ubaid menilai, program MBG sebaiknya diprioritaskan bagi anak-anak yang mengalami stunting dan kekurangan gizi, bukan diterapkan secara merata kepada seluruh siswa.

Selain itu, dia menyarankan agar pemerintah tidak menggunakan anggaran pendidikan untuk membiayai MBG. Menurut dia, masih banyak persoalan di sektor pendidikan yang membutuhkan perhatian.

Terakhir, dia merekomendasikan agar pemerintah melarang SPPG yang tidak memiliki SLHS tidak dizinkan untuk menyediakan MBG serta memastikan standar keamanan pangan diterapkan guna mencegah terulangnya kasus keracunan. 

"Jangan izinkan SPPG yang tidak punya SLHS untuk menyediakan MBG. Standar operasional keamanan pangan harus dilaksanakan supaya mencegah kasus keracunan tak terulang lagi," kata Ubaid. 

Editorial Team

Related Article