Acara HUT ke-84 Tahun Jusuf Kalla di kediamannya, Jakarta Selatan (16/5/2026)(IDN Times/Uni Lubis)
Dalam pidatonya, JK berbicara pelan, namun hangat. Usia 84 tahun membuatnya lebih banyak melihat ke belakang, memungut ulang perjalanan yang pernah ia lalui.
“Apabila kita bersyukur merayakan umur yang alhamdulillah cukup panjang, tentu kita merasa bersyukur atas apa yang telah kami lakukan,” ujar JK.
Baginya, hidup berjalan seperti tiga babak yang berbeda. Masa kecil hingga usia 25 tahun diisi sekolah dan organisasi. Setelah itu, ia masuk ke dunia usaha, melanjutkan perusahaan sang ayah. Lalu perlahan masuk ke politik dan pemerintahan.
“Hidup saya itu terbagi tiga bagian. Sepertiga, sepertiga. Dari kecil sampai 25 tahun, sekolahan. Sambil aktif bermacam-macamlah kalau dihitung jumlahnya kegiatan itu. Segala macam organisasi dijalani, 25 tahun,” kata dia.
Ia lalu mengenang satu percakapan sederhana dengan ayahnya. Saat itu, JK baru menyelesaikan skripsi tentang beras dan sempat ditawari menjadi Kepala Bulog. Namun ayahnya bertanya satu hal yang mengubah arah hidupnya.
“Begitu tanya bapak saya, cuma satu jawabannya, ‘Jadi? Siapa lanjutkan perusahaan?’ Waduh,” ucap JK.
Kariernya kemudian tumbuh perlahan. Dari anggota DPR, menteri, Menko Kesra, hingga akhirnya menjadi wakil presiden. Meski begitu, ia menyadari jalan politiknya tak selalu mudah.
“Jadi anggota DPR dulu, jadi menteri, kemudian jadi Menko Kesra, wakil presiden, ke presiden gagal. Memang kita orang luar Jawa masih agak sulit, mesti susah lah,” ujar dia.
Kini, di usia senjanya, JK mengaku hidupnya lebih sederhana. Ia menyebut hanya mengurus empat hal: agama, bisnis, sosial, dan damai.
“Sekarang, saya bilang saya hanya urus A-B-S-D. Urus agama, sebagai Ketua Dewan Masjid. Urus bisnis, lihat anak saya sini yang pegang, saya lihat-lihat saja,” katanya.