Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dirjen Pesantren Kemenag, Basnang Said (dok. Kemenag)
  • Kemenag menggagas program pengembangan 1.000 doktor bagi Ma’had Aly selama 2027–2031 melalui pemetaan kebutuhan dosen dan lulusan potensial.

  • Pengembangan Ma’had Aly mencakup fasilitas pendidikan, integrasi data akademik, akses bantuan pendidikan, dan penguatan pengakuan lulusan.

  • Kemenag juga mendorong pengembangan karier dosen hingga jenjang profesor dengan tetap mempertahankan kekhasan tradisi keilmuan pesantren.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2027–2031

Program pengembangan 1.000 doktor bagi Ma’had Aly direncanakan berlangsung selama periode ini.

Kamis (5/11/2026)

Basnang Said menyampaikan gagasan program saat membuka Forum Konsultasi Akademik Nasional dan Pemetaan Kebutuhan Kurikulum Ma’had Aly di Tangerang.

Jumat (6/11/2026)

Pernyataan Basnang mengenai pemetaan kebutuhan dosen dikutip dalam keterangannya.

2027

Kemenag mengusulkan pembangunan fasilitas khusus pada lima hingga sepuluh Ma’had Aly.

2026

Insentif dosen Ma’had Aly meningkat dari Rp250 ribu menjadi Rp1 juta per bulan bagi dosen yang memenuhi persyaratan.

sebelum memasuki tahun anggaran 2027

Pembahasan teknis lintas kementerian dan lembaga diharapkan menghasilkan langkah konkret terkait integrasi data akademik Ma’had Aly.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Kemenag menggagas program pengembangan 1.000 doktor bagi Ma’had Aly serta pembenahan fasilitas, integrasi data, dan karier akademik dosen.
  • Who?
    Kementerian Agama melalui Direktur Jenderal Pesantren Basnang Said, bersama pengelola dan pemangku kepentingan Ma’had Aly.
  • Where?
    Gagasan disampaikan dalam Forum Konsultasi Akademik Nasional dan Pemetaan Kebutuhan Kurikulum Ma’had Aly di Tangerang.
  • When?
    Gagasan disampaikan Kamis (5/11/2026), dengan program doktor yang direncanakan berlangsung selama 2027–2031.
  • Why?
    Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memenuhi kebutuhan tenaga pengajar, memperkuat fasilitas, dan meningkatkan pengakuan akademik lulusan Ma’had Aly.
  • How?
    Melalui pemetaan kebutuhan 95 Ma’had Aly, kerja sama pembiayaan dengan LPDP, pembangunan fasilitas, integrasi data, dan pengembangan regulasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kemenag ingin membantu Ma’had Aly punya lebih banyak dosen yang sekolah sampai doktor. Basnang Said menjelaskan rencana ini untuk 95 Ma’had Aly. Mereka juga ingin memperbaiki gedung, data kuliah, bantuan pendidikan, dan karier dosen. Programnya direncanakan mulai 2027 sampai 2031, tetapi masih perlu persiapan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Gagasan pengembangan 1.000 doktor menunjukkan adanya perhatian terhadap peningkatan kualitas pendidikan tinggi pesantren secara menyeluruh. Rencana ini tidak hanya berfokus pada kualifikasi dosen, tetapi juga mempertimbangkan fasilitas, integrasi data, bantuan pendidikan, serta pengembangan karier akademik. Pendekatan tersebut memberi ruang bagi Ma’had Aly untuk berkembang tanpa kehilangan kekhasan tradisi keilmuannya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kementerian Agama (Kemenag) menyiapkan gagasan program pengembangan 1.000 doktor bagi Ma’had Aly untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di lingkungan pendidikan tinggi pesantren. Program yang direncanakan berlangsung selama periode 2027–2031 ini akan dimulai dengan memetakan kebutuhan tenaga pengajar dan potensi lulusan dari 95 Ma’had Aly di berbagai daerah.

Direktur Jenderal Pesantren Kemenag, Basnang Said, menyampaikan gagasan tersebut saat membuka Forum Konsultasi Akademik Nasional dan Pemetaan Kebutuhan Kurikulum Ma’had Aly di Tangerang, Kamis (5/11/2026).

Basnang mengatakan, peningkatan kualitas akademik Ma’had Aly membutuhkan perencanaan yang matang dan berkelanjutan. Pemerintah perlu mengetahui kebutuhan tenaga pengajar di setiap lembaga, termasuk kesesuaian bidang keilmuan, jumlah mahasantri, jenjang pendidikan dosen, serta lulusan potensial yang dapat dikembangkan menjadi tenaga pendidik.

“Kita harus ada peta kebutuhan dosen kita selama lima tahun dan kita perjuangkan,” ujar Basnang dalam keterangannya, dikutip Jumat (6/11/2026).

Ia menjelaskan, pemetaan tersebut nantinya menjadi landasan untuk membangun kerja sama pembiayaan pendidikan lanjutan dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Melalui skema tersebut, dosen maupun lulusan potensial Ma’had Aly diharapkan memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang magister dan doktoral sesuai kebutuhan masing-masing lembaga.

Basnang menilai kebutuhan tenaga pengajar di setiap program studi tidak bisa disamaratakan. Sejumlah bidang keilmuan, seperti sejarah peradaban Islam, hadis, fikih, dan tafsir, membutuhkan ketersediaan dosen dengan kompetensi khusus.

Karena itu, penentuan penerima kesempatan pendidikan lanjutan harus mempertimbangkan kebutuhan akademik setiap Ma’had Aly. Ia juga mendorong pendataan lulusan potensial, terutama alumni dari beberapa angkatan terakhir, agar dapat dipersiapkan mengikuti program peningkatan kualifikasi pendidikan.

Menurutnya, program tersebut perlu disertai komitmen antara peserta dan lembaga asal. Dengan demikian, peningkatan pendidikan para lulusan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan institusi pesantren.

“Sekarang kita petakan 95 Ma’had Aly itu. Kita pasang program 1.000 doktor Ma’had Aly,” katanya.

1. Kemenag siapkan model pengembangan gedung Ma’had Aly

Dirjen Pesantren Kemenag, Basnang Said (dok. Kemenag)

Selain meningkatkan kualitas tenaga pengajar, Kemenag turut memberikan perhatian terhadap ketersediaan fasilitas pendidikan di lingkungan Ma’had Aly. Basnang menilai sarana dan prasarana yang memadai diperlukan untuk menunjang kegiatan pembelajaran, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat.

Ia mengungkapkan, masih terdapat Ma’had Aly yang harus berbagi ruang belajar dengan satuan pendidikan lain di lingkungan pesantren. Kondisi tersebut dinilai perlu dibenahi agar pendidikan tinggi pesantren memiliki fasilitas yang mendukung aktivitas akademik secara optimal.

“Saya membayangkan bahwa Ma’had Aly itu perguruan tinggi. Sama dengan UIN, sama dengan PTKI yang lain, sama dengan PTU, tidak ada bedanya,” ungkapnya.

Sebagai salah satu upaya pembenahan, Basnang mengusulkan penyusunan rancangan bangunan Ma’had Aly yang dapat dijadikan referensi bagi pengembangan fasilitas kampus. Rancangan tersebut mencakup kebutuhan ruang pimpinan, ruang dosen, ruang perkuliahan, serta fasilitas untuk menunjang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Untuk tahap awal, ia mengusulkan pembangunan fasilitas khusus di lima hingga sepuluh Ma’had Aly pada 2027. Penentuan lembaga penerima pembangunan akan mempertimbangkan kesiapan lahan, tingkat kebutuhan, jumlah mahasantri, dan kapasitas anggaran yang tersedia.

Dalam forum tersebut, turut dibahas perkiraan kebutuhan dana pembangunan sekitar Rp1 miliar untuk setiap lokasi. Meski demikian, angka tersebut masih membutuhkan kajian lebih lanjut serta penyesuaian dengan kemampuan keuangan pemerintah.

Basnang menegaskan, penyusunan model bangunan tidak bertujuan menciptakan keseragaman di seluruh lembaga. Setiap Ma’had Aly tetap harus mempertahankan identitas, karakteristik, dan tradisi keilmuan pesantren masing-masing.

“Tidak ada niatnya untuk menyeragamkan, karena Undang-Undang Pesantren kan mengakui keunikan kekhasannya,” tegasnya.

2. Integrasi data menjadi perhatian pengembangan Ma’had Aly

Dirjen Pesantren Kemenag, Basnang Said (dok. Kemenag)

Dalam forum tersebut, Basnang juga mendorong percepatan integrasi data akademik Ma’had Aly. Menurutnya, pembenahan sistem pendataan menjadi langkah penting untuk memperkuat pengakuan terhadap kualifikasi lulusan pendidikan tinggi pesantren.

Ia menilai, lulusan Ma’had Aly perlu mendapatkan kepastian rekognisi akademik ketika memasuki dunia kerja maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Untuk itu, koordinasi dengan Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan serta pengelola Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) perlu terus diperkuat.

Basnang menyebut komunikasi dengan pihak terkait sudah dilakukan. Namun, proses tersebut masih membutuhkan tindak lanjut agar data akademik Ma’had Aly dapat terintegrasi dengan sistem pendidikan tinggi nasional.

Ia berharap persoalan administrasi dan verifikasi data tidak lagi menghambat kesempatan lulusan Ma’had Aly untuk memperoleh hak dan akses yang setara dengan lulusan perguruan tinggi lainnya.

Pembahasan teknis lintas kementerian dan lembaga diharapkan menghasilkan langkah konkret sebelum memasuki tahun anggaran 2027.

Selain integrasi data, Kemenag juga menyoroti akses bantuan pendidikan bagi para mahasantri. Basnang meminta kebutuhan penerima bantuan didata secara menyeluruh sebagai dasar penyusunan skema pembiayaan pendidikan.

Salah satu peluang yang ingin dijajaki adalah akses terhadap Program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Pelaksanaannya akan disesuaikan dengan persyaratan dan ketentuan program bantuan pendidikan tersebut.

3. Kemenag buka peluang dosen Ma’had Aly menjadi profesor

Para petugas haji berfoto bersama Wakil Menteri Haji dan Umrah (Dok. Media C

Pengembangan karier akademik tenaga pengajar juga masuk dalam agenda peningkatan kualitas Ma’had Aly. Basnang mendorong kajian mengenai mekanisme rekognisi pembelajaran lampau (RPL), pengakuan kualifikasi dosen, serta pengembangan jenjang jabatan akademik.

Ia menilai, para pengajar yang memiliki penguasaan mendalam terhadap ilmu keislaman dan pengalaman panjang dalam pendidikan pesantren perlu mendapatkan kesempatan memperoleh pengakuan akademik melalui prosedur yang sesuai regulasi.

“Siapa kira-kira suatu waktu Ma’had Aly yang pertama kali melahirkan profesor?” ujarnya.

Basnang berharap cita-cita tersebut dapat diwujudkan melalui pembenahan tata kelola tenaga pengajar, pemenuhan administrasi akademik, dan penyusunan regulasi pendukung. Dengan persiapan tersebut, dosen Ma’had Aly diharapkan memiliki kesempatan mengembangkan karier akademik hingga jenjang tertinggi.

Ia juga menyampaikan perkembangan dukungan kesejahteraan bagi dosen Ma’had Aly pada 2026. Insentif yang sebelumnya diberikan sebesar Rp250 ribu meningkat menjadi Rp1 juta per bulan bagi dosen yang memenuhi persyaratan.

Bantuan tersebut diberikan selama delapan bulan. Basnang berharap dukungan kesejahteraan tenaga pengajar dapat terus ditingkatkan sejalan dengan pembenahan pendataan dosen dan kemampuan anggaran pemerintah.

Forum konsultasi menjadi dasar peta jalan transformasi Ma’had Aly

Direktur Jenderal Pesantren Kemenag, Basnang Said (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Sementara itu, Direktur Ma’had Aly, Adib, menjelaskan forum konsultasi tersebut menjadi pertemuan resmi pertama yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan Ma’had Aly sejak pembentukan Direktorat Ma’had Aly di bawah Direktorat Jenderal Pesantren.

Kegiatan ini melibatkan pengurus Asosiasi Ma’had Aly serta pimpinan dari sembilan lembaga Ma’had Aly. Sejumlah agenda yang dibahas meliputi kebutuhan akademik, pemetaan kelembagaan, dan strategi pengembangan pendidikan tinggi berbasis pesantren.

Adib mengatakan, forum tersebut juga dimanfaatkan untuk memperkuat koordinasi integrasi data dengan Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Agama. Berbagai masukan yang dihimpun akan digunakan sebagai bahan penyusunan cetak biru pengembangan Ma’had Aly agar sejalan dengan Peta Jalan Pesantren.

Selain itu, Direktorat Ma’had Aly tengah merumuskan sejumlah rekomendasi untuk mendukung pembahasan kebijakan pembangunan nasional. Salah satu fokusnya adalah memperjelas posisi serta kontribusi pendidikan tinggi pesantren dalam sistem pendidikan Indonesia.

Basnang berharap berbagai usulan yang muncul dalam pertemuan tersebut dapat segera ditindaklanjuti menjadi program dan kebijakan konkret. Setiap gagasan perlu memiliki sasaran, perencanaan, serta tahapan pelaksanaan yang terukur.

Ia menilai pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren menjadi kesempatan penting untuk memperkuat peran Ma’had Aly dalam sistem pendidikan nasional. Penguatan tersebut harus tetap berjalan dengan menghormati kekhasan tradisi keilmuan yang menjadi identitas pendidikan pesantren.

Melalui peningkatan kualitas dosen, pembangunan fasilitas pendidikan, integrasi data akademik, dan perluasan akses pembiayaan, Kemenag berharap Ma’had Aly mampu menghasilkan lulusan dengan penguasaan ilmu keislaman yang mendalam sekaligus memiliki pengakuan akademik yang kuat.

“Silakan masukkan semua ide-idenya. Nanti kemudian tentu akan dirintis oleh Pak Direktur bersama tim untuk menjadi kebijakan Kementerian Agama di masa yang akan datang,” pungkasnya.

Editorial Team

Related Article