Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kisah Pierre Tendean, Ajudan Jenderal Nasution di Peristiwa G30S
Pierre Tendean bersama keluarga (Dok. Buku Pierre Tendean karya Masykuri 1983/1984).

  • Pierre Tendean keturunan Prancis dan Minahasa, lahir di Jakarta pada 21 Februari 1939. Ayahnya berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara, dan ibunya adalah keturunan Belanda-Prancis.

  • Pierre kecil hidup sederhana di Cisarua, Jawa Barat. Keluarganya tinggal di rumah sederhana dan ayahnya bekerja di rumah sakit. Mereka kemudian pindah ke Magelang.

  • Pierre Tendean kecil suka menolong teman-temannya, baik di dalam maupun di luar sekolah. Ia juga membantu keluarganya dengan menanami tanah kosong di sekitar rumahnya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
21 Februari 1939

Pierre Andries Tendean lahir di Rumah Sakit CBZ Jakarta, yang kini menjadi RSCM.

Ketika Pierre berumur setahun

Ayah Pierre dipindahkan dari Jakarta ke Tasikmalaya, lalu keluarga ikut pindah ke Cisarua saat ayahnya dirawat.

Menjelang kedatangan tentara Jepang di Tanah Air

Keluarga Tendean pindah ke Magelang, tempat Pierre menjalani masa kanak-kanak dan menyelesaikan sekolah dasar.

Pada era penjajahan Jepang dan awal Revolusi Kemerdekaan

Keluarga Tendean menghadapi kondisi ekonomi sulit dan tidak bekerja sama dengan Jepang maupun Belanda.

Pada zaman Revolusi Kemerdekaan

Keluarga Tendean diam-diam membantu obat-obatan bagi gerilyawan, sementara ibunya mengumpulkan dana untuk pemuda yang bergerilya.

30 September 1965

Peristiwa G30S/PKI menyebabkan gugurnya para Pahlawan Revolusi, termasuk Pierre Tendean yang melindungi Jenderal AH Nasution.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Pierre Andries Tendean, ajudan Jenderal AH Nasution, gugur dalam peristiwa G30S setelah mengaku sebagai Nasution saat pasukan Cakrabirawa mencari sang jenderal.
  • Who?
    Pierre Andries Tendean adalah perwira TNI muda berdarah Prancis-Minahasa, putra Dr. AL Tendean dan seorang ibu keturunan Belanda-Prancis, serta ajudan Jenderal AH Nasution.
  • Where?
    Penangkapan Pierre terjadi di kediaman Jenderal AH Nasution di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat. Pierre lahir di Jakarta dan menjalani masa kecil di Cisarua serta Magelang.
  • When?
    Peristiwa G30S terjadi pada 30 September 1965. Pierre Tendean lahir pada 21 Februari 1939 di Rumah Sakit CBZ Jakarta, yang kini bernama RSCM.
  • Why?
    Pierre mengaku sebagai Jenderal AH Nasution ketika pasukan Cakrabirawa mencari Nasution, sebagai upaya melindungi jenderal yang menjadi atasannya.
  • How?
    Saat pasukan Cakrabirawa mendatangi rumah Nasution, Pierre menyatakan dirinya sebagai Nasution. Ia kemudian gugur dalam rangkaian peristiwa G30S/PKI.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Dulu, Pierre Tendean adalah tentara muda. Saat orang-orang Cakrabirawa mencari Jenderal AH Nasution, Pierre bilang ia adalah Nasution supaya sang jenderal selamat. Pierre lalu meninggal. Waktu kecil, ia hidup sederhana di Cisarua dan Magelang. Ia ramah, suka menolong teman, mencari siput, menanam sayur, dan bermain di sungai. Kisahnya masih dikenang pada peristiwa G30S.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah kehidupan keluarga yang sederhana dan masa penuh kesulitan, Pierre Tendean tumbuh dalam lingkungan yang menempatkan kepedulian pada sesama sebagai kebiasaan. Keramahan kepada teman, kesediaannya membantu mencari makanan, serta ketekunannya menanam bahan pangan menggambarkan masa kecil yang hangat, mandiri, dan sarat tanggung jawab sosial.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Tanggal 30 September diperingati sebagai peristiwa gerakan 30 September 1965 yang menyebabkan gugurnya Pahlawan Revolusi atau lebih dikenal dengan peristiwa G30S/PKI. Selain keenam jenderal, ada seorang perwira TNI muda dalam yang bernama Pierre Andries Tendean.

Pierre Tendean rela mati demi melindungi Jenderal AH Nasution, dengan mengaku sebagai Nasution, ketika pasukan Cakrabirawa mencari sang Jenderal di kediamannya, Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat.

Pierre Tendean kecil dikenal suka dengan militer, sebelum akhirnya masuk pendidikan militer. Pierre Tendean merupakan pemuda berdarah Prancis dan Minahasa yang lahir di Jakarta.

Yuk kenali lebih jauh sosok Pierre Tendean kecil dikutip dari buku Pierre Tendean karya Masykuri dari laman repositori.kemdikbud.go.id.

1. Pierre Tendean keturunan Prancis dan Minahasa dan mempunyai dua saudara

Pierre Tendean saat masih kecil. (Dok. buku Pierre Tendean karya Masykuri 1983/1984)

Pierre Tendean yang bernarma lengkapnya Pierre Andries Tendean, dilahirkan di Rumah Sakit CBZ, yang sekarang menjadi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, pada 21 Februari 1939.

Ayahnya, Dr AL Tendean, yang ketika itu bekerja di rumah sakit tersebut berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara. lbunya seorang keturunan Belanda-Prancis. ltulah sebabnya ia diberi nama Prancis "Pierre".

Pierre Tendean merupakan satu-satunya anak laki-laki dari keluarga AL Tendean. Ia mempunyai dua saudara kandung. Kakaknya perempuan bernama Mitze Farre, yang lahir pada 30 Desember 1933, sedangkan adiknya bernama Rooswidiati yang lahir di Megelang, Jawa Tengah.

2. Pierre kecil hidup sederhana di Cisarua, Jawa Barat dan Magelang, Jawa Tengah

Pierre Tendean di salah satu kegiatan bersama Jenderal Nasution (Dok. Buku Pierre Tendean karya Masykuri 1983/1984)

Ketika Pierre berumur setahun, ayahnya dipindahkan dari Jakarta ke Tasikmalaya, Jawa Barat. Tak lama sesudah bertugas di sana, AL Tendean jatuh sakit hingga perlu perawatan di Sanatorium Rumah Sakit Cisarua. Seluruh keluarganya ikut pindah ke sana. Setelah sembuh, ia tetap tinggal di Cisarua, dan bekerja di rumah sakit tersebut.

Keluarga AL Tendean hidup sederhana, karena hanya mengandalkan gaji dari pemerintah, tidak membuka praktik di luar. Di daerah pegunungan itu mereka tinggal di rumah sederhana, namun sejuk dan nyaman, karena sang ibunda rajin menanami halamannya dengan bunga.

Menjelang kedatangan tentara Jepang di Tanah Air, keluarga Tendean pindah ke Magelang, Jawa Tengah. Di Magelang, AL Tendean menjabat sebagai Wakil Kepala Rumah Sakit Jiwa Keramat. Di kota inilah Pierre Tendean melewati masa kanak-kanak hingga menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya.

3. Pierre Tendean kecil suka menolong dan disayangi teman-temannya

(Dok. Buku Sang Patriot: Kisah Seorang Pahlawan Revolusi - Biografi Resmi Pierre Tendean)

Di dalam maupun di luar sekolah, Pierre sangat disayangi teman-temannya, karena sifatnya yang ramah. Pierre juga dikenal tak suka membeda-bedakan teman. Ia pandai bergaul dengan baik dengan teman seusianya.

Pada era penjajahan Jepang dan awal Revolusi Kemerdekaan, keadaan perekonomian Bangsa Indonesia sangat memprihatinkan. Terutama dirasakan pegawai-pegawai pemerintah, termasuk keluarga AL Tendean.

Kendati, keluarga AL Tendean tidak mau bekerja sama dengan Jepang maupun Belanda, yang ingin menjajah kembali Tanah Air. Pada zaman Revolusi Kemerdekaan, keluarga AL Tendean diam-diam membantu obat-obatan para gerilyawan.

lbunda Pierre giat mengumpulkan dana dari para simpatisan, guna membantu pemuda-pemuda yang sedang bergerilya.

Pierre yang pada waktu itu masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), telah memperlihatkan sifat tanggung-jawabnya terhadap masyarakat sekitarnya.

Ketika libur sekolah, Pierre Tendean suka membantu teman-temannya pergi ke sawah mencari siput, untuk menambah lauk-pauk di rumah orangtua mereka.

4. Pierre kecil juga gemar bercocok tanam dan tidak manja

Pierre Tendean (Dok. Buku 30 Tahun Indonesia Merdeka-Kementerian Penerangan RI/Kominfo.

Untuk mengurangi beban keluarganya, Pierre kecil juga gemar menanami tanah kosong di sekitar rumahnya dengan singkong, ubi, pepaya, dan sayur-sayuran.

Kakaknya, Mitze Farre, menyebutkan Pierre sejak kecil hingga akhir hayatnya merupakan anak yang sederhana dalam segala hal. Dia rajin dan tekun serta tidak manja, meskipun menjadi satu-satunya anak laki-laki di keluarganya.

Di sekitar rumah keluarga AL Tendean di Magelang itu terdapat sungai kecil. Pierre gemar sekali berenang dan bermain di sungai itu. Warna air sungai yang kecokelatan karena kotor, membuat orangtua Pierre melarangnya bermain di sungai itu.

Meski dilarang, Pierre tetap bermain di sungai itu. Kelak, kepandaiannya berenang itulah yang akan menyelamatkan dirinya dari pengejaran tentara Inggris saat misi intelijen di Malaysia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article