Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Korban Keracunan MBG di Duren Sawit Terus Bertambah, Kini Ada 104 Orang
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, meninjau penanganan korban dugaan keracunan MBG di Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Duren Sawit, Sabtu (4/4/2026). (Website/jakarta.go.id)
  • Total korban keracunan Program Makan Bergizi Gratis di Duren Sawit mencapai 104 orang, dengan 37 pasien masih dirawat di berbagai rumah sakit Jakarta Timur.
  • Dinas Kesehatan DKI menjelaskan lama perawatan berbeda karena respons tubuh tiap individu dipengaruhi usia, daya tahan tubuh, dan jumlah makanan yang dikonsumsi.
  • Dugaan awal penyebab keracunan berasal dari jeda waktu panjang antara proses memasak dan distribusi makanan, meski hasil laboratorium resmi belum diumumkan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
2 April 2026

Insiden keracunan terjadi pada sore hari dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan oleh SPPG Pondok Kelapa 2 di Duren Sawit, Jakarta Timur.

8 Mei 2026

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, melaporkan total 104 orang telah mengakses fasilitas kesehatan sejak insiden. Sebanyak 37 pasien masih dirawat di berbagai rumah sakit dan kondisi mereka mulai membaik.

kini

Jumlah korban yang masih dirawat terus menurun dan sebagian besar pasien berada dalam tahap pemulihan. Pemerintah daerah melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG serta pengawasan kebersihan makanan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Insiden keracunan massal terjadi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Duren Sawit, Jakarta Timur, dengan total 104 orang terdampak dan sebagian masih menjalani perawatan medis.
  • Who?
    Korban terdiri dari peserta program MBG yang menerima makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pondok Kelapa 2. Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, memberikan keterangan resmi terkait perkembangan kasus.
  • Where?
    Kejadian berlangsung di wilayah Duren Sawit, Jakarta Timur. Para korban dirawat di beberapa rumah sakit seperti RS Harum, RS Islam Pondok Kopi, RSUD Tarakan, dan sejumlah fasilitas kesehatan lainnya di Jakarta.
  • When?
    Kasus keracunan terjadi pada Kamis sore, 2 April 2026. Hingga Rabu pagi, 8 Mei 2026, sebanyak 37 pasien masih menjalani perawatan medis di berbagai rumah sakit.
  • Why?
    Dugaan awal menunjukkan adanya jeda waktu cukup lama antara proses memasak hingga distribusi makanan. Hasil laboratorium untuk memastikan penyebab pasti masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.
  • How?
    Makanan didistribusikan melalui program MBG oleh SPPG Pondok Kelapa 2. Setelah dikonsumsi peserta, banyak yang mengalami gejala
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Banyak orang di Duren Sawit sakit perut setelah makan dari program makan bergizi. Ada seratus empat orang yang ke rumah sakit, tapi sekarang tinggal tiga puluh tujuh yang masih dirawat. Bu Ani dari Dinas Kesehatan bilang mereka sedang sembuh dan beda-beda waktunya. Katanya mungkin makanannya lama dikasih sesudah dimasak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Meskipun jumlah korban keracunan cukup besar, perkembangan situasi menunjukkan arah yang membaik dengan penurunan signifikan pasien yang masih dirawat dari 60 menjadi 37 orang. Pernyataan Kepala Dinas Kesehatan bahwa seluruh pasien kini dalam tahap pemulihan mencerminkan efektivitas penanganan medis serta koordinasi rumah sakit yang cepat dan terarah.Penanganan cepat dan terkoordinasi dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta menunjukkan kesigapan pemerintah dalam menghadapi insiden keracunan ini. Jumlah pasien yang dirawat terus menurun, menandakan proses pemulihan berjalan baik. Selain itu, evaluasi menyeluruh terhadap prosedur distribusi makanan mencerminkan komitmen untuk memperkuat pengawasan dan memastikan keamanan program gizi di masa mendatang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Korban Keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pondok Kelapa 2, Duren Sawit, Jakarta Timur terus bertambah.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, mengatakan, sampai saat ini lebih dari 100 orang yang mengakses fasilitas kesehatan pascainsiden keracunan pada Kamis (2/4/2026) sore.

"Korbannya ada 100-an. Hari ini yang dirawat tinggal 37 orang, dari sebelumnya semuanya ada 104 yang akses rumah sakit ya. Dari 104 itu kan gak semuanya rawat inap, ada yang datang terus boleh pulang gitu. Beberapa dirawat," ujar Ani di Balai Kota, Rabu (8/5/2026).

1. Sebanyak 37 korban masih dirawat

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, meninjau penanganan korban dugaan keracunan MBG di Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Duren Sawit, Sabtu (4/4/2026). (Website/jakarta.go.id)

Ani merinci, jumlah pasien yang masih dirawat terus menurun dibandingkan hari sebelumnya yang masih berada di kisaran 60 orang. Per Rabu pagi pukul 08.00 WIB, tersisa 37 pasien yang masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit.

Sebanyak 7 pasien dirawat di Duren Sawit, 6 orang di Rumah Sakit Islam Pondok Kopi, dan 19 orang di RS Harum. Sementara itu, masing-masing satu pasien dirawat di RS UIN Syarif Hidayatullah, RS Polri, RS Budhi Asih, RS Hermina Jatinegara, dan RSUD Tarakan.

“Pada prinsipnya semuanya tinggal pemulihan saja,” kata dia.

2. Respons tubuh tiap orang berbeda

Kepala Dinas Ani Ruspitawati di Balai Kota, Rabu (8/4/2026)/ IDN Times Dini Suciatiningrum

Ani mengatakan, perbedaan lama perawatan dipengaruhi respons tubuh masing-masing individu. Faktor usia, daya tahan tubuh, hingga jumlah makanan yang dikonsumsi menjadi penentu tingkat keparahan gejala.

“Respons setiap orang beda-beda. Kita tunggu sampai benar-benar stabil, sudah tidak panas, tidak muntah, tidak diare, semua keluhannya hilang, baru boleh pulang,” kata dia.

3. Dugaan awal jeda waktu pemberian makanan

SPPG Pondok Kelapa Jakarta Timur. (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Terkait evaluasi, Ani mengatakan, program MBG merupakan program pemerintah pusat, sementara Dinas Kesehatan berperan dalam pembinaan dan pengawasan.

Dia memastikan, sebelumnya seluruh penjamah makanan di SPPG telah mendapatkan pelatihan serta mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Namun, pengawasan tetap harus dilakukan secara konsisten setiap hari.

“Harus dipastikan kepatuhan terhadap bahan yang tidak terkontaminasi, proses pengolahan yang benar, dan distribusinya,” ujar dia.

Meski hasil laboratorium masih belum keluar, Dinkes memiliki dugaan awal terkait penyebab insiden tersebut, yakni jeda waktu yang terlalu lama antara makanan selesai dimasak hingga didistribusikan.

“Dari analisis sementara, kemungkinan ada jarak waktu yang cukup lama antara makanan matang sampai didistribusikan. Karena sebagian besar korban adalah yang makan siang,” ucap Ani.

Editorial Team