Orangtua Siswa SDN Pondok Kelapa 1 Turut Alami Keracunan MBG

- Puluhan siswa SDN Pondok Kelapa 1 dan beberapa orang tua mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Duren Sawit, Jakarta Timur.
- Salah satu orang tua, Wati, turut alami diare setelah memakan sisa makanan anaknya dan menilai saus dalam menu MBG terasa asam serta mencurigai kualitas bahan makanannya.
- Badan Gizi Nasional menghentikan sementara operasional SPPG Pondok Kelapa 2 dan berjanji menanggung biaya pengobatan seluruh korban sambil memperbaiki standar keamanan pangan.
Jakarta, IDN Times - Di bawah pohon di depan SDN Pondok Kelapa 1, seorang ibu duduk menunggu putranya yang masih duduk di kelas 1. Sesekali dia memandang ke arah gedung kelas. Dia adalah salah satu orangtua murid yang ikut terdampak setelah kasus keracunan makanan program MBG terjadi.
Dia ikut menjadi korban keracunan MBG yang dialami puluhan siswa di Duren Sawit, Jakarta Timur. Wati, begitu dia disapa, baru menyadari bahwa makanan MBG yang dibagikan pada Kamis (2/4/2026) lalu diduga menjadi penyebabnya mengalami gejala keracunan pada malam harinya.
Wati mengaku mengonsumsi MBG sisa dari anaknya yang membawa pulang makanan tersebut. Saat dibuka, hanya tersisa saus, bola-bola daging, dan buah stroberi.
“Saya lihat spagetinya sudah gak ada, udah dimakan, jadi yang lain saya makan. Ada bakso dua biji, stroberi, kayak bola kalau gak salah," ujar dia kepada IDN Times, Senin (6/4/2026).
"Habis itu malamnya perut saya gak karu-karuan. Saya kira masuk angin. Rasanya ada yang jalan di perut, buang angin tapi panas, lalu buang air besar. Diare, sampai gak bisa tidur. Saya gak ngeh kalau itu keracunan,” kata dia.
1. Alami diare

Beruntung, anak Wati yang mengonsumsi MBG itu juga tidak sampai dirawat di rumah sakit. Dia hanya diare dan tidak sampai membutuhkan perawatan di rumah sakit. Wati pun menduga ada yang tidak beres dari makanan yang dikonsumsinya dan anaknya.
"Mungkin saosnya kok asam atau basi ya? Soalnya anak saya makan spagetinya. Alhamdulillah anak saya gak sampai kena yang parah,” kata dia.
2. Orangtua khawatir kualitas MBG

Wati juga menyampaikan kekhawatirannya terhadap keamanan makanan program MBG ke depan. Dia berharap ke depan jenis makanan yang dibagikan lebih aman dan mudah diawasi kualitasnya.
“Saya khawatir banget, takutnya ada sabotase. Padahal program ini sebenarnya membantu banget buat ibu-ibu. Tapi kalau ada kejadian begini jadi ngeri. Kalau bisa jangan makanan yang gampang basi. Susu, roti yang fresh, buah yang segar. Diawasi benar-benar. Lebih sehat susu, lebih aman. Yang penting diawasi, soalnya ngeri juga kalau begini," kata dia.
3. Sebanyak 72 siswa alami keracunan

Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pondok Kelapa 2, Duren Sawit, Jakarta Timur usai 72 siswa keracunan makanan dalam program MBG yang disediakan SPPG tersebut.
Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati, menyampaikan permohonan maaf atas kejadian menonjol insiden keamanan pangan dalam MBG.
"Kami menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini. BGN juga akan bertanggung jawab terhadap seluruh biaya pengobatan di rumah sakit," ujar Nanik.
Nanik mengatakan, BGN juga telah mengambil langkah tegas sebagai bentuk tanggung jawab dan pengamanan dengan menghentikan operasional SPPG tersebut.
"Selain itu, SPPG Pondok Kelapa kami suspend untuk waktu yang tidak terbatas karena kondisi dapur, termasuk tata letak dan IPAL, masih belum memenuhi standar," kata dia.
Insiden keracunan ini terjadi pada Jumat (3/4/2026), setelah sebelumnya pada Kamis sore, pihak SPPG menerima laporan dari guru tentang 36 siswa yang mengalami gejala sakit perut, diare, dan mual usai mengonsumsi MBG.
Menu yang disajikan saat itu meliputi spageti bolognese, bola-bola daging, scramble egg tofu, sayuran campur, serta buah stroberi.



















