Bogor, IDN Times – Matahari di Kebun Raya Bogor (KRB) pada Selasa (10/2/2026) siang tak begitu menyengat, tetapi suasana di lembaga konservasi itu terasa berbeda. Di sana, sisa-sisa kemegahan Amorphophallus titanum atau bunga bangkai masih berdiri, meski seludangnya yang merah hati mulai meredup dan menguncup.
Dia telah melewati masa puncaknya, tetapi sihir sang bunga raksasa belum benar-benar hilang.
Bram, pengunjung asal Tangerang, perjalanan jauhnya menuju Bogor adalah tentang menuntaskan rasa penasaran. Di bawah naungan pohon-pohon besar, dia berdiri memandangi sosok tumbuhan yang selama ini hanya dilihatnya melalui layar kaca.
"Tadinya memang mau lihat, sekalian mampir dari Tangerang ke Bogor. Katanya ada bunga bangkai lagi mekar," ujar Bram kepada IDN Times, sambil membelakangi sang bunga langka.
Baginya, melihat langsung bunga setinggi 140 cm itu pun memberikan perspektif baru.
"Ternyata gak seperti yang dibayangkan. Kalau di TV ada yang kecil tapi lebar, ada yang tinggi," ujar dia.
Layu Bunga Bangkai Setelah Mekar, Wangi Langka di Jantung Kota Bogor

Intinya sih...
12 tahun penantian bunga bangkai mekar setelah tiga kali merekah sejak 1990-an, mengingatkan akan keajaiban siklus alam.
Bunga bangkai adalah tanaman pemalu untuk reproduksi, butuh bantuan manusia dalam proses penyerbukan di Kebun Raya Bogor.
1. Penantian 12 tahun dalam kesunyian
Apa yang dilihat Bram bukanlah sekadar tanaman layu. Itu adalah puncak dari drama botani selama 12 tahun, setelah tiga kali merekah sejak pertama kali dibawa ke Kebun Raya Bogor tahun 1990-an.
Bunga dengan nomor koleksi 382 ini telah melalui fase tidur panjang (dorman) dan fase berdaun (vegetatif) yang melelahkan sebelum akhirnya pamer kecantikan pada Minggu, 25 Januari 2026.
Tepat pada Kamis (5/2/2026) malam pukul 00.24 WIB, seludangnya terbuka sempurna. Saat itulah, aroma khas yang dirancang alam untuk memanggil serangga penyerbuk menguar hebat.
"Mekarnya bunga bangkai raksasa bukan sekadar peristiwa botani, melainkan pengingat akan keajaiban siklus alam. Setiap mekarnya adalah pesan sunyi dari hutan hujan," ujar Horticulture Senior Manager PT Mitra Natura Raya, Yudhistira.
2. Cinta yang harus dibantu manusia
Keunikan bunga bangkai bukan hanya soal baunya yang menyengat atau ukurannya yang kolosal dengan diameter mencapai 56 cm.
Secara biologis, dia adalah tanaman yang pemalu untuk urusan reproduksi. Peneliti Ahli Madya dari BRIN, Dian Latifah, mengatakan, meski terlihat perkasa, bunga jantan dan betinanya sangat kecil dan tersembunyi di pangkal tongkolnya.
Masalahnya, mereka tidak matang bersamaan. Di habitat aslinya di Jambi, serangga harus terbang berkilo-kilometer untuk membawa serbuk sari.
"Sedangkan di Kebun Raya, harus dibantu manusia (hand pollination)," jelas Dian.
Inilah yang membuat setiap keberhasilan mekar di KRB menjadi prestasi besar bagi dunia konservasi flora Nusantara.
3. Edukasi di balik kelopak yang layu
Meski sang primadona kini mulai menunduk, antusiasme masyarakat tak lantas layu. Di sekitar pagar pembatas, puluhan siswa sekolah dasar tampak berkerumun.
Dengan penuh antusias, mereka tekun membaca setiap papan petunjuk. Bagi mereka, ini adalah laboratorium alam yang tak bisa digantikan oleh buku teks mana pun.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, yang sempat meninjau lokasi pun menaruh harapan besar. Dia ingin keajaiban ini tak hanya milik Bogor atau Sumatra semata.
Riset sedang diupayakan agar bunga kebanggaan Indonesia ini kelak bisa tumbuh dan dinikmati di lebih banyak daerah.
Bagi pengunjung seperti Bram, mungkin bunga itu terlihat berbeda dari bayangannya. Namun, bagi Kebun Raya Bogor, mekar singkat selama empat hingga lima hari itu adalah sebuah kemenangan.