Bunga Bangkai Raksasa Mekar di Kebun Raya Bogor Setelah Dinanti 12 Tahun

- Ukuran jumbo yang bikin takjubBunga bangkai raksasa memiliki dimensi fantastis, tingginya mencapai 140 cm dengan diameter bunga 56 cm. Meskipun terlihat besar, bunga aslinya berukuran kecil.
- Penyerbukannya harus dibantu tangan manusiaDi Kebun Raya Bogor, penyerbukan bunga bangkai harus dibantu manusia karena waktu kematangan bunga jantan dan betina tidak bersamaan. Di alam liar, serangga membantu penyerbukan.
- Sedang diupayakan agar bisa tumbuh di banyak daerahPemerintah Kota Bogor dan BRIN ingin mengembangkan bunga bangkai agar bisa dinikmati di wilayah lain selain Bogor, Jambi, dan Bengkulu.
Bogor, IDN Times - Bunga bangkai raksasa jenis Amorphophallus titanum akhirnya mekar sempurna di Kebun Raya Bogor (KRB). Fenomena langka ini sukses menyedot perhatian ribuan pengunjung yang rela antre panjang demi mengabadikan momen spesial tersebut.
Bunga dengan nomor koleksi 382 ini bukan tanaman sembarangan. Dibutuhkan kesabaran ekstra untuk melihatnya mekar, karena siklus hidupnya yang unik dengan adanya fase dorman atau istirahat.
Terakhir kali bunga jenis ini mekar di Kebun Raya Bogor pada 2020, namun untuk bunga yang satu ini, penantiannya mencapai 12 tahun.
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menyebutkan, ini adalah momen yang sangat berharga bagi Kota Bogor. "Alhamdulillah, Kota Bogor melalui Kebun Raya Bogor berkesempatan menikmati mekarnya bunga bangkai yang hanya berlangsung selama empat sampai lima hari," ujar Dedie saat meninjau lokasi, Sabtu (7/2/2026).
1. Ukuran jumbo yang bikin takjub

Berdasarkan data dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bunga yang berasal dari bibit Jambi ini memiliki dimensi yang cukup fantastis. Tingginya mencapai 140 sentimeter dengan diameter bunga mencapai 56 sentimeter.
Meski terlihat besar, Peneliti Ahli Madya BRIN, Dian Latifah, menjelaskan bahwa bunga aslinya justru berukuran kecil.
"Meskipun disebut bunga bangkai raksasa, sebenarnya bunga jantan dan betinanya berukuran kecil dan mengelompok di bagian bawah spadiks yang menjulang tinggi," paparnya.
2. Penyerbukannya harus dibantu tangan manusia

Berbeda dengan habitat aslinya di hutan Sumatra yang dibantu oleh serangga, bunga bangkai di Kebun Raya Bogor membutuhkan campur tangan manusia untuk proses reproduksi. Hal ini dikarenakan waktu kematangan bunga jantan dan betina yang tidak berbarengan.
Dian Latifah menjelaskan, di alam liar serangga harus terbang puluhan kilometer untuk membawa serbuk sari.
"Sementara di Kebun Raya, penyerbukan harus dibantu oleh manusia (hand pollination), karena bunga jantan dan betinanya tidak masak pada waktu yang bersamaan," tambah Dian.
3. Sedang diupayakan agar bisa tumbuh di banyak daerah

Melihat antusiasme masyarakat yang luar biasa, Pemerintah Kota Bogor dan BRIN mulai melirik potensi pengembangan bunga bangkai agar bisa dinikmati di wilayah lain, tidak hanya terbatas di Bogor, Jambi, atau Bengkulu saja.
Dedie Rachim berharap, teknologi riset dari KRB bisa membawa bunga kebanggaan Indonesia ini lebih dekat ke masyarakat luas.
"Saat ini sedang diupayakan apakah memungkinkan bunga bangkai ini tidak hanya bisa tumbuh di Bogor, Jambi, dan Bengkulu, tetapi juga di banyak tempat lain, dan mungkin dapat dikembangkan dari Kebun Raya Bogor," pungkasnya.
















