Comscore Tracker

COVID-19 Memengaruhi Psikologis Seseorang, Ini Cara Mengetahuinya

Manusia perlu merasa puas dengan hal sederhana

Jakarta, IDN Times - Pandemik COVID-19 masih menjadi momok menyeramkan bagi masyarakat Indonesia. Tak hanya bertempur melawan virus, kesehatan mental di tengah pandemik juga dirasakan oleh penyintas, pasien COVID-19, hingga masyarakat biasa.

Maklum, virus tersebut sudah menjadi ancaman di tanah air sejak pertama kali diumumkan 22 Mei 2020 oleh Presiden Joko "Jokowi" Widodo. Hal itu sedikit-banyak memengaruhi kondisi psikologis masyarakat.

Bersama dokter spesialis kedokteran jiwa rumah sakit Omni Alam Sutera dr. Andri, SpKJ, FAPM, IDN Times membuka topik mengenai hal tersebut.

Berikut adalah pembahasan dokter Andri mengenai kondisi psikologis masyarakat dalam menghadapi COVID-19.

1. Pengaruh psikologis yang dialami penyintas COVID-19

COVID-19 Memengaruhi Psikologis Seseorang, Ini Cara MengetahuinyaDea Winnie Pertiwi, Penyintas COVID-19 dan dr. Andri, SpKJ, FAPM, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RS. OMNI ALAM SUTERA dalam program Ngobrol Seru by IDN Times "Kisah Penyintas COVID-19" Rabu (25/11/2020) (Dok. IDN Times)

Membahas mengenai penyintas COVID-19, dokter Andri berpendapat bahwa seseorang yang sedang mengalami kondisi terpuruk bisa juga mengalami gangguan di dalam psikologisnya. Gangguan itu bisa terjadi secara langsung, contohnya seseorang menjadi tidak bisa melakukan kegiatan, karena terus memikirkan kejadian yang dialaminya.

"Karena saking banyak yang harus dilakukan, akhirnya beradaptasi sistem saraf tubuhnya itu molor, adrenalin yang dominan yang akhirnya bisa membuat seseorang seolah-olah kuat menghadapi hal tersebut, tapi setelahnya mengalami gangguan," kata dia dalam program Ngobrol Seru by IDN Times dengan tema Kisah Penyintas COVID-19 yang tayang Rabu (25/11/2020).

Salah satu gangguan yang dirasakan adalah kecemasan atau kesulitan tidur hingga depresi. Maka dari itu dia melihat bahwa setiap penyintas COVID-19 memiliki karakteristik yang berbeda-beda ada yang biasa saja, tetapi ada juga yang terpengaruh secara psikologis.

"Kita melihat daya adaptasi seseorang pada situasi ini berbeda-beda, ada yang biasa saja, jadi kalau kita melihat di dalam konteks kedokteran jiwa, sebenarnya berat tidaknya gejala fisik medis itu akan berpengaruh juga pada respons psikologis orang tersebut," ujar dia.

Maka dari itu, kepada para penyintas, dokter Andri memberikan saran agar kondisi psikologis bisa dikendalikan agar tidak mempengaruhi kondisi fisik mereka

2. COVID-19 ambil keterhubungan manusia satu dengan lainnya

COVID-19 Memengaruhi Psikologis Seseorang, Ini Cara MengetahuinyaSuasana restoran cepat saji saat PSBB Jakarta (IDN Times/Besse Fadhilah)

Andri mengatakan bahwa COVID-19 ini mengambil salah satu bagian terpenting dalam hidup manusia, yaitu bagaimana manusia bisa beradaptasi dan bertahan dalam menghadapi stres.

"Jadi daya tahan stres kita itu sangat dihubungkan dengan suatu kondisi yang dinamakan connection atau keterhubungan, nah seakan-akan mengambil itu dengan adanya COVID-19," ujar dia.

Akibat dari COVID-19 yang merenggut interaksi sosial, virus ini juga akhirnya menimbulkan jarak di antara manusia, yakni ketika seseorang memberi jarak untuk mengantisipasi agar tidak tertular COVID-19. Hal itulah yang bisa memengaruhi kondisi psikologis seseorang, yakni terputusnya hubungan dengan orang lain.

Keadaan sosial yang berjarak itulah yang juga menimbulkan stigma negatif kepada seseorang yang terinfeksi atau sudah sembuh dari COVID-19.

Stigma itu merupakan hasil dari hilangnya koneksi dan interaksi antara satu sama lain.

3. Khawatir berlebih pada COVID-19 bisa turunkan kondisi fisik

COVID-19 Memengaruhi Psikologis Seseorang, Ini Cara MengetahuinyaIlustrasi Keluarga (IDN Times/Mardya Shakti)

Andri juga tak lupa membahas mengenai self diagnosis dari sisi psikologis, yaitu keadaan ketika seseorang merasa bahwa dirinya terkena COVID-19.

Melalui kacamata keilmuan yang ditekuninya yakni psychosomatic, dokter Andri mengatakan kekhawatiran yang berlebihan itu justru menimbulkan semakin banyak keluhan pada fisik seseorang.

"Tapi sekarang sudah tidak lagi, sudah berkurang di banding waktu pada Maret, April, Mei, Juni itu banyak yang mengalami gejala-gejala ketakutan. Kalau sekarang itu lebih karena kondisi resesinya yang seolah-olah ini kapan selesai, ya kondisi ini yang lebih dominan, termasuk juga berpengaruh ke kemampuan ekonomi maupun adaptasi yang cukup lama," kata Andri.

4. Penuhi rasa puas untuk kurangi rasa stres

COVID-19 Memengaruhi Psikologis Seseorang, Ini Cara MengetahuinyaIlustrasi bekerja (IDN Times/Panji Galih Aksoro)

Membahas mengenai mekanisme adaptasi masyarakat terhadap COVID-19, dokter Andri mengatakan yang paling penting adalah seseorang punya kemampuan untuk mengatasi stres.

Stres menurut dokter Andri berasal dari bermacam faktor, namun yang ada tiga faktor yang paling utama, yakni pertama adalah kepuasan atau satisfaction. Di tengah pandemik, masyarakat perlu meningkatkan rasa puasnya namun dengan batasan yang sederhana.

"Dengan hal-hal dasar yang bisa penuhi, yaitu makan, minum, sandang, pangan, papan cukup. Kita gak perlu lagi terlalu mikirin mau liburan ke mana akhir tahun atau mau beli apa, yang paling penting itu dulu. Karena ketika kita berbicara tentang mekanisme adaptasi stres, yang paling penting ketika orang mempunyai daya lenting atau ressilance yang pertama adalah satisfaction, dia merasa puas dengan keadaan ini," bebernya.

Dokter Andri mengatakan selama manusia itu hidup, manusia mempunyai daya juang secara natural, "Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang bertahan hidup," ujar dia.

Baca Juga: Picu Kekerasan Rumah Tangga, Ini Dampak Psikologis COVID-19

5. Manusia perlu jaga kemananan dan koneksi agar terhindar dari stres

COVID-19 Memengaruhi Psikologis Seseorang, Ini Cara MengetahuinyaIlustrasi physical distancing. (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)

Kemudian yang kedua, keamanan atau safety juga menjadi faktor utama seseorang bisa menjadi stres di tengah pandemik ini. Salah satunya adalah dengan menjaga diri agar terhindar dari COVID-19.

Hal ini berkaitan dengan faktor ketiga, yakni keterhubungan manusia dengan orang lain. Namun di tengah pandemik ini interaksi sosial menjadi terbatas karena setiap orang membutuhkan keamanan agar tidak tertular COVID-19.

Jadi pada intinya untuk menghindari rasa stres di tengah pandemik dokter Andri mengatakan manusia harus bisa memenuhi rasa puasnya yang tidak terlalu tinggi atau dasar saja. Kedua keamanan dan yang ketiga adalah koneksi dengan orang lain

"Asal itu terpenuhi dengan baik dengan daya tahan yang sudah dipunyai masing-masing orang, mudah-mudahan setiap orang bisa membantu dirinya sendiri dengan baik," kata doa.

6. Samakan prespektif bahwa vaksin untuk kurangi resiko COVID-19 yang lebih buruk

COVID-19 Memengaruhi Psikologis Seseorang, Ini Cara MengetahuinyaIlustrasi Vaksin COVID-19 (Website/shutterstock.com)

Dokter Andri juga berpendapat tak jarang orang justru mengharapkan vaksin sebagai solusi agar mereka bisa kembali beraktivitas seperti biasa dan lepas dari protokol kesehatan. Padahal menurut dia, vaksin hanya membantu menurunkan risiko penularan COVID-19 agar semakin buruk.

"Sebenarnya vaksin itu hanya untuk mengurangi," kata dia.

Maka dari itu para tenaga kesehatan menurut dia berharap agar vaksin bisa digunakan untuk mencegah kasus kasus COVID-19 yang luar biasa salah satunya menurunkan tingkat kematian.

Hal itulah yang menurutnya perlu dibicarakan oleh pemerintah dengan cara komunikasi publik yang baik, agar masyarakat bisa lebih dipahami dan menyamakan perspektif bahwa vaksin adalah salah satu cara untuk mengurangi risiko besar penularan COVID-19.

Baca Juga: Pendampingan Psikologis Diberikan bagi Pasien COVID-19 di Tulungagung

Topic:

  • Lia Hutasoit
  • Ilyas Listianto Mujib

Berita Terkini Lainnya