Jakarta, IDN Times - Lonjakan harga energi dan bahan bakar global tidak hanya mempengaruhi kondisi ekonomi, tetapi juga berpotensi memperlebar ketimpangan gender. UN Women menilai perempuan kerap menjadi pihak yang paling terdampak dalam krisis biaya hidup, terutama karena mereka memikul tanggung jawab lebih besar dalam mengatur kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Dalam laporan Gender and the Cost-of-Living Crisis (2025) yang dirilis UN Women Data Hub, perempuan disebut sering berperan sebagai “peredam” tekanan ekonomi keluarga. Ketika harga kebutuhan pokok meningkat dan anggaran rumah tangga semakin terbatas, perempuan cenderung mencari alternatif yang lebih murah meski membutuhkan waktu dan tenaga lebih banyak, termasuk dalam memperoleh dan mengolah makanan bagi keluarga. Dalam situasi tersebut, perempuan juga lebih sering mengurangi konsumsi pribadi dan menjadi pihak yang makan paling sedikit serta terakhir di dalam rumah tangga.
"Dengan meningkatnya tekanan pada anggaran rumah tangga, perempuan sering bertindak sebagai ‘peredam guncangan’ selama krisis ekonomi dengan memilih cara yang lebih murah tetapi lebih memakan waktu untuk mendapatkan dan menyiapkan makanan bagi keluarga mereka atau makan paling sedikit dan terakhir," tulis laporan ini, dikutip Senin (13/4/2026).
Gangguan pasokan energi nasional di subsektor migas rentan terjadi dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah yang berujung pada blokade Selat Hormuz. Ketegangan yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel itu menyebabkan gangguan arus keluar-masuk kapal tanker pengangkut bahan bakar.
