Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Lonjakan Harga Energi Bebani Perempuan dalam Krisis Global
Minyak Goreng (RDNE Stock project, Pexels.com)
  • UN Women menyoroti lonjakan harga energi dan bahan bakar global yang memperburuk ketimpangan gender, karena perempuan lebih terdampak dalam mengatur kebutuhan rumah tangga di tengah krisis biaya hidup.
  • Perempuan sering menjadi peredam tekanan ekonomi keluarga dengan mencari alternatif murah, mengurangi konsumsi pribadi, serta menanggung beban kerja domestik dan perawatan tanpa bayaran yang semakin berat.
  • Krisis biaya hidup global meningkatkan risiko kehilangan pekerjaan, kesehatan terganggu, dan kesejahteraan menurun bagi perempuan, sehingga diperlukan kebijakan ekonomi yang mempertimbangkan dampak berbasis gender.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
2025

UN Women Data Hub merilis laporan 'Gender and the Cost-of-Living Crisis (2025)' yang menyoroti peran perempuan sebagai peredam tekanan ekonomi keluarga saat harga energi dan kebutuhan pokok meningkat.

13 April 2026

Laporan UN Women dikutip pada Senin (13/4/2026), menegaskan perempuan sering makan paling sedikit dan terakhir di rumah tangga selama krisis biaya hidup akibat lonjakan harga energi global.

kini

Krisis biaya hidup global terus berlangsung, memperburuk ketimpangan gender dan meningkatkan beban kerja domestik perempuan di tengah tekanan ekonomi dunia.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Lonjakan harga energi dan bahan bakar global menambah tekanan ekonomi serta memperburuk ketimpangan gender, dengan perempuan menjadi kelompok yang paling terdampak dalam krisis biaya hidup.
  • Who?
    UN Women melaporkan bahwa perempuan di berbagai negara, terutama dari kelompok ekonomi rentan, mengalami dampak paling besar akibat kenaikan harga energi dan kebutuhan pokok.
  • Where?
    Dampak krisis terjadi secara global, termasuk di Indonesia, sementara gangguan pasokan energi dipicu oleh situasi di Timur Tengah yang memengaruhi jalur pelayaran Selat Hormuz.
  • When?
    Laporan UN Women dirilis pada April 2026 melalui publikasi Gender and the Cost-of-Living Crisis (2025), di tengah berlanjutnya eskalasi konflik kawasan Timur Tengah.
  • Why?
    Kenaikan harga energi dan bahan bakar akibat gangguan pasokan global serta konflik geopolitik menyebabkan biaya hidup meningkat tajam dan memperbesar beban ekonomi rumah tangga.
  • How?
    Perempuan menyesuaikan diri dengan mengurangi konsumsi pribadi, mencari alternatif kebutuhan lebih murah, serta menanggung beban kerja domestik tambahan tanpa bayaran untuk menjaga kesejahteraan keluarga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Harga bensin dan energi naik di banyak negara. Karena itu, hidup jadi lebih susah. Banyak ibu harus kerja lebih keras di rumah supaya keluarga bisa makan. Kadang ibu makan paling akhir dan paling sedikit. UN Women bilang perempuan paling kena dampaknya karena mereka urus rumah, anak, dan orang tua saat uang makin sedikit sekarang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Lonjakan harga energi dan bahan bakar global tidak hanya mempengaruhi kondisi ekonomi, tetapi juga berpotensi memperlebar ketimpangan gender. UN Women menilai perempuan kerap menjadi pihak yang paling terdampak dalam krisis biaya hidup, terutama karena mereka memikul tanggung jawab lebih besar dalam mengatur kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Dalam laporan Gender and the Cost-of-Living Crisis (2025) yang dirilis UN Women Data Hub, perempuan disebut sering berperan sebagai “peredam” tekanan ekonomi keluarga. Ketika harga kebutuhan pokok meningkat dan anggaran rumah tangga semakin terbatas, perempuan cenderung mencari alternatif yang lebih murah meski membutuhkan waktu dan tenaga lebih banyak, termasuk dalam memperoleh dan mengolah makanan bagi keluarga. Dalam situasi tersebut, perempuan juga lebih sering mengurangi konsumsi pribadi dan menjadi pihak yang makan paling sedikit serta terakhir di dalam rumah tangga.

"Dengan meningkatnya tekanan pada anggaran rumah tangga, perempuan sering bertindak sebagai ‘peredam guncangan’ selama krisis ekonomi dengan memilih cara yang lebih murah tetapi lebih memakan waktu untuk mendapatkan dan menyiapkan makanan bagi keluarga mereka atau makan paling sedikit dan terakhir," tulis laporan ini, dikutip Senin (13/4/2026).

Gangguan pasokan energi nasional di subsektor migas rentan terjadi dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah yang berujung pada blokade Selat Hormuz. Ketegangan yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel itu menyebabkan gangguan arus keluar-masuk kapal tanker pengangkut bahan bakar.

1. Perempuan jadi peredam saat krisis ekonomi

Ilustrasi Minyakita (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

UN Women dalam artikel opini Always on the Frontline in Every Crisis turut menegaskan, dampak krisis global tidak dirasakan secara setara antara laki-laki dan perempuan. Dalam berbagai krisis, baik ekonomi, konflik, maupun bencana, perempuan dan anak perempuan secara konsisten mengalami dampak yang lebih besar dan lebih kompleks.

Selain tekanan ekonomi, krisis juga berkontribusi pada meningkatnya beban kerja domestik perempuan. Masih merujuk pada publikasi yang sama, dalam kondisi ekonomi yang memburuk dan ketika anggaran publik semakin terbatas, perempuan lebih rentan kehilangan pekerjaan dibandingkan laki-laki. Namun pada saat yang sama, mereka justru mengambil lebih banyak tanggung jawab dalam pekerjaan perawatan keluarga tanpa bayaran, seperti merawat anak, lansia, hingga mengelola kebutuhan rumah tangga.

2. Beban ganda perempuan

Minyak goreng merek Minyak Kita (Foto: IDN Times/Halbert Caniago)

Situasi ini menunjukkan bahwa krisis ekonomi tidak hanya berdampak pada pendapatan, tetapi juga memperbesar ketimpangan dalam pembagian kerja di dalam rumah tangga. Perempuan kerap berada dalam posisi yang harus menyeimbangkan tekanan ekonomi sekaligus tuntutan sosial yang melekat pada peran domestik mereka.

UN Women juga memperingatkan tentang krisis biaya hidup global yang berisiko mengancam mata pencaharian, kesehatan, dan kesejahteraan perempuan. Lonjakan harga energi, bahan bakar, serta pangan disebut sebagai faktor utama yang memperburuk kerentanan tersebut, terutama bagi perempuan di kelompok ekonomi rentan.

3. Krisis biaya hidup perburuk ketimpangan gender

Ilustrasi memasak (freepik.com/freepik)

Dengan demikian, krisis biaya hidup global tidak hanya menjadi persoalan ekonomi semata, tetapi juga persoalan ketimpangan sosial yang memerlukan perhatian lebih luas dalam perumusan kebijakan.

Pendekatan yang mempertimbangkan dampak berbasis gender dinilai penting untuk mencegah semakin lebarnya kesenjangan antara laki-laki dan perempuan di tengah tekanan ekonomi global yang terus berlangsung.

"Krisis biaya hidup yang dihadapi dunia membahayakan mata pencaharian, kesehatan, dan kesejahteraan perempuan," tulis UN Women.

Editorial Team