Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Membawa Titipan Suara Korban Karhutla ke Jakarta
Plt. Ketua BEM Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Kalimantan Selatan, Satria Bima Agatha. (IDN Times/Lia Hutasoit)
  • Kabut asap selama empat bulan mengganggu pendidikan, perekonomian, dan kesehatan warga Kalimantan Selatan.

  • Satria menilai kebakaran masih terjadi setiap hari, sementara perubahan dari penanganan pemerintah belum dirasakan masyarakat.

  • Mahasiswa ULM datang ke Jakarta untuk menyampaikan keresahan warga dalam aksi bersama sejumlah organisasi mahasiswa.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Selama empat bulan

Kabut asap menyelimuti kehidupan warga di Kalimantan Selatan. Kondisi tersebut mengganggu pendidikan, perekonomian, dan kesehatan masyarakat.

Selasa (20/10/2026)

Satria Bima Agatha ditemui di Tugu Proklamasi, Jakarta. Ia menyampaikan bahwa kondisi yang seharusnya membaik justru semakin memburuk.

Selasa sore

Aksi yang diikuti Satria dan satu mahasiswa BEM ULM dijadwalkan berlanjut ke Tugu Tani.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Satria Bima Agatha membawa keresahan warga Kalimantan Selatan ke Jakarta dan mengikuti aksi bersama sejumlah organisasi mahasiswa.
  • Who?
    Plt Ketua BEM ULM Satria Bima Agatha bersama satu mahasiswa lain dari BEM ULM.
  • Where?
    Keresahan berasal dari Kalimantan Selatan dan disampaikan di Jakarta, termasuk di Tugu Proklamasi serta Tugu Tani.
  • When?
    Warga telah menghadapi kabut asap selama empat bulan. Satria ditemui pada Selasa (20/10/2026), dan aksi dijadwalkan berlanjut Selasa sore.
  • Why?
    Karhutla mengganggu pendidikan, perekonomian, dan kesehatan warga, sementara perubahan dari penanganan pemerintah belum dirasakan.
  • How?
    Satria dan seorang mahasiswa menempuh perjalanan melalui jalur udara dan darat untuk mengikuti aksi Komite Selamatkan Daulat Rakyat (Sadar).
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Selama empat bulan, warga Kalimantan Selatan menghirup asap dan mahasiswa tetap pergi ke kampus. Satria Bima Agatha dan seorang mahasiswa ULM datang ke Jakarta untuk menyampaikan keluhan warga. Mereka ikut aksi bersama organisasi mahasiswa. Kebakaran masih terjadi setiap hari, dan warga masih menghadapi masalah kesehatan serta kegiatan yang terganggu.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kehadiran mahasiswa ULM di Jakarta membuka ruang bagi keresahan warga Kalimantan Selatan untuk disampaikan secara langsung. Mereka juga membawa persoalan pendidikan, kesehatan, dan aktivitas sehari-hari ke dalam aksi bersama organisasi mahasiswa. Langkah tersebut menunjukkan adanya upaya mahasiswa untuk menyuarakan kondisi masyarakat yang masih menghadapi dampak karhutla.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Empat bulan sudah kabut asap menyelimuti kehidupan warga di Kalimantan Selatan. Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) pun turut terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) itu. Mereka tetap harus belajar di kampus, menerjang asap setiap hari.

Pelaksana Tugas (Plt.) Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa ULM, Satria Bima Agatha, pun membawa keresahan masyarakat Kalsel ke Jakarta, untuk disampaikan kepada pemerintah dalam momentum dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Mereka berharap penderitaan yang dialami masyarakat Kalimantan segera berakhir.

"Untuk progress yang seharusnya membaik, tapi sampai per hari ini malah lebih memburuk," kata Satria saat ditemui di Tugu Proklamasi, Jakarta, Selasa (20/10/2026).

1. Empat bulan hidup di tengah kabut asap karhutla

Plt Ketua BEM Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Kalimantan Selatan, Satria Bima Agatha. (IDN Times/Lia Hutasoit)

Bagi warga Kalimantan Selatan, karhutla bukan sekadar persoalan kebakaran hutan dan lahan. Kabut asap yang menyelimuti wilayah mereka turut mengganggu aktivitas pendidikan hingga perekonomian.

Di tengah situasi tersebut, mahasiswa tetap harus belajar, berangkat ke kampus, meski udara yang mereka hirup dipenuhi asap karhutla.

"Bagaimana pada akhirnya mau menempuh pendidikan pun di sana juga harus menerjang asap," ujar Satria, sambil menahan terik matahari.

Satria menyebut masyarakat di Kalimantan Selatan sudah menderita akibat kabut asap karhutla selama empat bulan ini. Bahkan, kabut asap sudah memakan korban jiwa. Ada seorang guru dan balita yang meninggal dunia, serta ribuan warga harus mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

2. Kebakaran masih terjadi, perubahan belum dirasakan

Ilustrasi kabut asap karhutla. (Dok. AHM)

Di tengah kondisi yang tak kunjung membaik, Satria menilai kunjungan Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dan sejumlah menteri ke Kalimantan Selatan, belum membawa perubahan yang dirasakan warga. Setali tiga uang, upaya pemerintah daerah pun belum membuahkan hasil.

"Dan bagaimana respons dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, masih kurang becus menangani hal-hal ini," ujarnya.

Menurut Satria, kebakaran masih terjadi setiap hari, pagi maupun malam. Sementara, aktivitas perkuliahan di kampusnya tetap berjalan. Asap dan ancaman kesehatan pun menjadi bagian dari persoalan yang harus dihadapi warga di tengah aktivitas sehari-hari.

3. Pergi ke Jakarta demi menyampaikan suara warga

Kondisi kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kota Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)

Bersama seorang rekan mahasiswa lain dari BEM ULM, Satria rela menempuh perjalanan jauh melalui jalur udara dan darat, demi menyampaikan suara keluhan masyarakat Kalimantan Selatan ke Jakarta.

Satria dan rekannya datang untuk mengikuti aksi Komite Selamatkan Daulat Rakyat (SADAR), yang melibatkan sejumlah organisasi mahasiswa, sekaligus membawa keresahan masyarakat yang belum terselesaikan di daerah mereka.

"Bagaimana untuk pesan dari kawan-kawan di daerah, itu adalah kami berusaha di sini untuk menyuarakan atas keresahan, dan bagaimana hal yang dirasakan oleh masyarakat, terlebih di Kalimantan, atas permasalahan yang masih belum tuntas sampai per hari ini," kata Satria mengenakan almamater berwarna kuning itu.

Sebagaimana diketahui, aksi Satria bersama mahasiswa lain yang tergabung dalam SADAR, dijadwalkan berlanjut dari Tugu Proklamasi ke Tugu Tani pada Selasa sore.

Bagi Satria, kedatangan mereka menjadi kesempatan untuk menyampaikan persoalan karhutla yang dirasakan masyarakat Kalimantan Selatan, khususnya, di momen dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Semoga pemerintah mendengar aspirasi Satria dan mahasiswa lain!

Curated For You

Editorial Team

Related Article