Jakarta, IDN Times — Di bawah kibaran Merah Putih, puluhan anak berlarian di tanah merah. Tawa mereka pecah di antara rumah-rumah kayu yang rapuh berdiri di atas rawa, sementara di sekelilingnya sampah berserakan dan genangan menghitam di sejumlah cekungan tanah. Pemandangan itu terasa ganjil untuk sebuah kota yang menyandang predikat sebagai Ibu Kota Indonesia.
Jakarta dikenal dengan gedung-gedung pencakar langit, jalan layang yang membelah kota, pusat bisnis bahjan digadang-gadang menjadi Kota Global. Namun, di balik wajah metropolitan itu, masih ada warga belum bisa mengakses akhir bersih, sanitasi, dan rumah.
Di Kampung Bengek, Jakarta Utara, kemerdekaan punya arti yang jauh lebih sederhana. Bagi warga di sana, merdeka berarti bisa membuka keran dan mendapatkan air bersih. Merdeka berarti memiliki toilet untuk buang air tanpa harus mencari lahan kosong atau bersembunyi di balik ilalang atau rawa. Merdeka juga berarti punya rumah yang aman tanpa dihantui kemungkinan digusur sewaktu-waktu.
Untuk menuju Kampung Bengek, IDN Times harus melewati sejumlah gang sempit dan pengap. Jalan kemudian berubah menjadi pijakan papan di antara rumah-rumah kayu yang berdiri di atas rawa. Setiap langkah menimbulkan bunyi krek dari papan-papan tua yang rapuh, seolah sewaktu-waktu bisa patah dan membuat kaki terperosok ke bawah.
