Jakarta, IDN Times - Pakar Hukum Tata Negara dari Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Jentera, Bivitri Susanti, mengaku tidak terkejut dengan isi laporan Majalah asal Inggris, The Economist yang diturunkan pada Jumat, 14 Mei 2026. Sebab, di dua laporan berbeda, The Economist menyebut Indonesia kini dipimpin presiden yang boros dan otoriter.
Dua laporan itu berjudul "Indonesia's President is Jeopardising the Economy and Democracy" (Presiden Indonesia Membahayakan Ekonomi dan Demokrasi) dan "Indonesia, the Biggest Muslim-Majority Country is on a Risky Path" (Indonesia, Negara dengan Populasi Muslim Terbesar Berada di Jalan yang Terjal). Namun, perbedaannya kini, kata Bivitri, publik internasional dapat gambaran nyata tentang apa yang sedang terjadi di Indonesia.
Situasi itu berbeda dari apa yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di kunjungan ke negara-negara asing. Di sisi lain, penulis artikelnya kemungkinan kecil tak akan mendapat teror karena sudah mengkritisi pemerintahan Prabowo.
"(Tulisan di Majalah The Economist) gak mengejutkan sama sekali, karena yang menulis hal itu sudah banyak kan? Beberapa media, termasuk Tempo dan IDN Times sendiri juga saya lihat pernah menulis. Tetapi karena yang menerbitkan tulisan itu orang luar (Indonesia), jadi gak bisa dibungkam atau diteror dengan dikirimin kepala babi," kata Bivitri seraya tertawa, kepada IDN Times, melalui saluran telepon, Jumat malam, 14 Mei 2026.
Di sisi lain, tulisan yang ditulis dua editor, Aaron Connelly dan Ethan Wu bisa menjangkau publik lebih luas, karena ditulis dalam Bahasa Inggris. Dengan begitu, publik memiliki persepsi lain selain yang disampaikan Prabowo ketika melakukan kunjungan ke luar negeri.
"Harus diakui, gak semua orang tahu bagaimana situasi real di Indonesia seperti apa. Pak Prabowo sendiri kalau berkunjung ke mana-mana kan sering mengatakan hal yang tidak jujur, misalnya seperti kesuksesan program MBG (Makan Bergizi Gratis)," tutur dia.
