Ilustrasi lakukan jualan online dengan live(pexels.com/Liza Summer)
Lalu, mengapa platform e-commerce tetap menaikkan biaya layanan?
Di tengah persaingan industri yang semakin ketat, platform e-commerce kini tidak lagi hanya berfokus mengejar pertumbuhan pengguna, tetapi juga keberlanjutan bisnis, demi mendukung para penjual untuk jangka panjang. Seiring industri yang semakin matang, platform dituntut terus berinovasi agar penjual dapat menjangkau pasar lebih luas sekaligus memperoleh pengunjung yang lebih berkualitas.
Kenaikan biaya layanan pun dipandang sebagai bagian dari investasi untuk mempertahankan dan mengembangkan ekosistem digital yang aman dan mumpuni. Marketplace kini telah berevolusi dari sekadar platform transaksi menjadi ekosistem terintegrasi yang menggabungkan konten, livestream, kreator, pembayaran, hingga logistik dalam satu pengalaman belanja yang lebih personal dan interaktif.
Perubahan ini juga membuka peluang baru bagi UMKM. Melalui fitur konten dan kolaborasi kreator, brand kecil kini dapat membangun audiens dan meningkatkan visibilitas secara lebih organik tanpa harus sepenuhnya bergantung pada anggaran iklan besar.
“Investor sekarang sudah mengubah pola pikirnya. Platform tidak bisa terus membakar uang terlalu lama. Mereka sekarang mengejar profitabilitas, terutama perusahaan terbuka. Dalam beberapa tahun terakhir kita melihat hal ini lewat munculnya biaya platform dan kenaikan biaya administrasi, semua mencerminkan pergeseran dari fokus pada valuasi menuju keberlanjutan dan pertumbuhan,” jelas Nailul.
Pertanyaannya sekarang adalah: bagaimana brand dapat memanfaatkan marketplace sambil memperkuat kanal milik sendiri agar tidak terlalu bergantung pada platform?
Menurut Sekretaris Jenderal Asosiasi E-Commerce Indonesia (iDEA), Budi Primawan, sebagian penjual mulai memperkuat kanal lain seperti media sosial dan website pribadi sebagai bagian dari strategi omnichannel.
“Penjual masih melihat marketplace sebagai kanal penting karena lalu lintas pengunjung, sistem pembayaran, logistik, promosi, dan basis konsumennya yang besar. Ini lebih kepada diversifikasi kanal penjualan, bukan sepenuhnya meninggalkan marketplace,” ujarnya.
“E-commerce itu seperti pusat perbelanjaan, di mana konsumen bisa membandingkan harga dari banyak toko dalam satu aplikasi. Sementara media sosial atau website pribadi lebih seperti toko mandiri,” jelas Nailul. Menurutnya, inilah salah satu keunggulan utama yang akan hilang jika platform e-commerce benar-benar ditinggalkan.
Hal ini menunjukkan bahwa platform e-commerce tetap relevan dan penting bagi penjual, terutama UMKM yang sangat bergantung pada trafik dan dukungan infrastruktur dari platform.
Gracia Monica memilih pendekatan berbeda. Ia tetap memanfaatkan e-commerce sebagai kanal penjualan sekaligus membangun jaringan agen dan reseller di berbagai daerah.
Mercon Merah Putih, UMKM Makanan Siap Saji (dok. Istimewa)
“Sejak 2024 kami mulai mengembangkan sistem keagenan. Produk kami bisa tahan hingga 12 bulan, sehingga dapat didistribusikan ke seluruh Indonesia, dari Aceh sampai Sulawesi dan Papua. Agen di tiap daerah kemudian mendistribusikannya secara lokal,” jelas Gracia dalam wawancara telepon bersama IDN Times.