Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Peringati 20 Tahun Tsunami Pangandaran, BMKG Resmikan 7 Desa Siaga
Ilustrasi gelombang tsunami. (IDN Times/Mardya Shakti)
  • BMKG meresmikan tujuh desa pesisir sebagai Tsunami Ready Community bertepatan dengan 20 tahun tsunami Pangandaran, mendapat pengakuan UNESCO-IOC untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman tsunami.
  • Sistem peringatan dini tsunami Indonesia kini mampu mengeluarkan informasi kurang dari tiga menit setelah gempa, didukung jaringan sensor real-time dan teknologi komputasi canggih milik BMKG.
  • BMKG menegaskan teknologi tak akan efektif tanpa kesiapsiagaan masyarakat, sehingga edukasi, simulasi rutin, dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci menjaga kesadaran bencana yang jarang terjadi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2004

Sistem peringatan dini tsunami Indonesia (InaTEWS) mulai dibangun setelah tsunami Aceh 2004.

2006

Pembangunan InaTEWS dipercepat setelah tsunami Pangandaran 2006.

16 Juli 2026

Dalam webinar 'A 20 Years Commemoration of the 2006 Pangandaran Tsunami', Kepala BMKG menjelaskan kemampuan sistem peringatan dini yang kini dapat mengeluarkan informasi kurang dari tiga menit setelah gempa.

17 Juli 2026

BMKG meresmikan tujuh desa pesisir sebagai Tsunami Ready Community bertepatan dengan peringatan 20 tahun tsunami Pangandaran. UNESCO-IOC memberikan pengakuan terhadap inisiatif ini.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    BMKG meresmikan tujuh desa pesisir sebagai Tsunami Ready Community yang diakui UNESCO-IOC, bertepatan dengan peringatan 20 tahun tsunami Pangandaran.
  • Who?
    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama UNESCO Intergovernmental Oceanographic Commission serta pemerintah daerah dan masyarakat setempat.
  • Where?
    Desa Tua Pejat di Kepulauan Mentawai, Desa Amping Parak di Sumatra Barat, Desa Citepus dan Cikakak di Pelabuhanratu, serta Desa Teluk Serpang, Penurunan, dan Lempuing di Bengkulu.
  • When?
    Peresmian dilakukan pada Kamis, 16 Juli 2026, dalam rangka memperingati dua dekade tsunami Pangandaran yang jatuh pada 17 Juli 2026.
  • Why?
    Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat pesisir terhadap ancaman tsunami melalui edukasi, sistem peringatan dini, dan penguatan budaya siaga bencana.
  • How?
    BMKG mengembangkan sistem InaTEWS yang mampu mengeluarkan peringatan dini kurang dari tiga menit setelah gempa serta mendorong simulasi rutin dan kolaborasi lintas sektor untuk kesiapsiagaan masyarakat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
BMKG bikin tujuh desa jadi desa siaga tsunami pas ulang tahun dua puluh tahun tsunami Pangandaran. Desa itu di Mentawai, Sumatra Barat, Jawa Barat, dan Bengkulu. BMKG bilang sekarang bisa kasih tahu bahaya tsunami kurang dari tiga menit setelah gempa. Tapi orang juga harus siap dan tahu cara lari kalau ada tsunami datang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Peresmian tujuh desa sebagai Tsunami Ready Community menunjukkan kemajuan nyata dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat pesisir. Dengan dukungan teknologi peringatan dini yang kini mampu bekerja dalam waktu kurang dari tiga menit, kolaborasi antara BMKG, pemerintah daerah, dan warga memperlihatkan sinergi kuat antara inovasi sains dan kesadaran komunitas untuk menjaga keselamatan bersama.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meresmikan tujuh desa di berbagai wilayah pesisir Indonesia sebagai Tsunami Ready Community yang mendapat pengakuan dari UNESCO Intergovernmental Oceanographic Commission (UNESCO-IOC). 

Peresmian ini dilakukan bertepatan dengan peringatan 20 tahun tsunami Pangandaran yang jatuh pada 17 Juli 2026. 

Program Tsunami Ready Community bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat pesisir terhadap ancaman tsunami. Setiap desa diwajibkan memiliki peta kawasan rawan bencana, rencana evakuasi yang jelas, hingga sistem peringatan dini yang aktif. 

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan, peringatan dua dekade tsunami Pangandaran menjadi momentum untuk memperkuat budaya siaga bencana di tengah masyarakat.

1. Tujuh desa mendapat pengakuan UNESCO-IOC

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meresmikan tujuh desa di berbagai wilayah pesisir Indonesia sebagai Tsunami Ready Community pada Kamis (16/7/2026). (dok. BMKG)

Desa yang diresmikan sebagai Tsunami Ready Community meliputi, Desa Tua Pejat di Kabupaten Kepulauan Mentawai dan Desa Amping Parak di Sumatra Barat. Kemudian, Desa Citepus dan Desa Cikakak di Pelabuhanratu, Jawa Barat, serta Desa Teluk Serpang, Desa Penurunan, dan Desa Lempuing di Bengkulu. 

Melalui program tersebut, BMKG bersama pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan mendorong masyarakat memiliki kapasitas untuk mengenali ancaman tsunami, memahami jalur evakuasi serta mampu merespons peringatan dini secara mandiri.

2. BMKG kini bisa keluarkan peringatan dini tsunami kurang dari tiga menit

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam webinar A 20 Years Commemoration of the 2006 Pangandaran Tsunami: Understanding The Past and Strengthening The Future Resilience, Kamis (16/7/2026). (dok. BMKG)

Dalam kesempatan tersebut, Faisal mengatakan, sistem peringatan dini tsunami Indonesia atau Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) telah berkembang signifikan sejak dibangun pascatsunami Aceh 2004 dan dipercepat setelah tsunami Pangandaran 2006. 

Saat ini, kata Faisal, BMKG didukung jaringan sensor seismograf real-time, ratusan stasiun pengukur pasang surut (tide gauge), serta sistem komputasi berkinerja tinggi. 

“Melalui inovasi modern ini, BMKG kini mampu menyiarkan informasi peringatan dini tsunami dalam waktu kurang dari tiga menit setelah gempa bumi terjadi,” kata Faisal dalam webinar A 20 Years Commemoration of the 2006 Pangandaran Tsunami: Understanding The Past and Strengthening The Future Resilience, Kamis (16/7/2026). 

Kendati demikian, menurut Faisal, teknologi saja tidak cukup untuk menyelamatkan masyarakat apabila tidak dibersamai dengan kesiapsiagaan. 

“Selanjutnya, aksi dini harus dijaga melalui edukasi yang tiada henti, simulasi rutin, dan kolaborasi lintas sektor,” kata dia. 

3. Teknologi tak akan efektif tanpa masyarakat yang siap

ilustrasi dampak tsunami Pangandaran tahun 2006 (alchetron.com)

Faisal kembali menegaskan, kecanggihan teknologi pemantauan di hulu tidak akan mampu menyelamatkan nyawa apabila terputus dari masyarakat di sektor hilir. 

Karena itu, pemerintah daerah bersama masyarakat diminta memahami dan memanfaatkan informasi peringatan dini BMKG, agar dapat segera melakukan evakuasi ketika ancaman tsunami muncul. 

“Kesiapan dalam hitungan detik yang kritis inilah yang menjadi ujung tombak rantai keselamatan,” kata Faisal. 

Sementara itu, Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, mengatakan, tantangan terbesar mitigasi tsunami adalah menjaga kesadaran masyarakat terhadap ancaman bencana yang tergolong rare events atau jarang terjadi. 

Menurut Nelly, karakteristik tsunami yang tidak sering terjadi membuat kesadaran risiko masyarakat perlahan memudar. Sebab itu, peringatan 20 tahun tsunami Pangandaran harus menjadi momentum untuk terus merawat ingatan publik. 

“Kesiapsiagaan akan terwujud selama kita terus menjaga kesadaran tersebut tetap hidup. Hal ini merupakan tanggung jawab kita bersama,” ujar Nelly.

4. UNESCO sebut tsunami tak selalu didahului gempa yang terasa kuat

Keadaan Kota Palu, Sulawesi Tengah setelah terjadi Gempa dan Tsunami pada 28 September 2018 (IDN Times/Fitang Budhi Adhitia)

Head of ICG/IOTWMS Secretariat UNESCO-IOC, Srinivas Kumar Tummala, mengatakan, peringatan tsunami Pangandaran menjadi pengingat bahwa ancaman tsunami tidak selalu ditentukan oleh besarnya guncangan gempa yang dirasakan masyarakat. 

“Memperingati tsunami Pangandaran hari ini, marilah kita menghormati ingatan mereka yang kehilangan nyawa dengan memperkuat komitmen terhadap sains, kesiapsiagaan, dan ketangguhan komunitas,” kata dia. 

Srinivas juga menyoroti masih minimnya pemahaman masyarakat mengenai tsunami nonseismik. Menurut dia, peristiwa seperti tsunami di Palu, Selat Sunda, dan letusan Gunung Tonga menunjukkan masih banyak aspek mitigasi dan edukasi yang perlu diperkuat bersama.

Curated For You

Editorial Team

Related Article