Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Polisi Sebut Sopir Taksi Lalai Faktor Utama Kecelakaan Kereta Bekasi
Proses evakuasi bangkai gerbong KRL perempuan yang mengalami kecelakaan dengan KA Argo Bromo Anggrek masih berlangsung hingga Selasa (28/4/2026) sore. (IDN Times/Pitoko)
  • Polisi menyimpulkan kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur disebabkan kelalaian sopir taksi Green SM yang tidak memperhatikan kondisi sekitar di perlintasan tanpa palang pintu.
  • Olah TKP menggunakan teknologi 3D scanner dan LiDAR menghasilkan rekonstruksi visual akurat, membantu penyidik memahami kronologi dua kecelakaan kereta yang terjadi pada waktu berdekatan.
  • Kecelakaan pertama dikategorikan sebagai kecelakaan lalu lintas jalan raya sesuai PP Nomor 72 Tahun 2009, sementara lokasi kejadian diketahui minim fasilitas keselamatan resmi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
27 April 2026

Kecelakaan kereta terjadi di perlintasan sebidang Stasiun Bekasi Timur. Insiden melibatkan taksi listrik Green SM dan KRL KA 5181B rute Cikarang–Bekasi Timur, serta satu kecelakaan lain dengan KA Argo Bromo Anggrek antara pukul 21.00 hingga 22.00 WIB.

1 Mei 2026

Brigjen Pol. Faizal menyampaikan hasil asistensi olah TKP di DPR RI. Ia menyebut kelalaian sopir taksi sebagai faktor utama kecelakaan dan menegaskan pentingnya evaluasi keselamatan di perlintasan sebidang.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Kecelakaan terjadi antara taksi listrik Green SM dan kereta KRL KA 5181B di perlintasan sebidang Stasiun Bekasi Timur, yang menurut polisi disebabkan oleh kelalaian pengemudi taksi.
  • Who?
    Brigjen Pol. Faizal dari Dirgakkum Korlantas Polri menyampaikan hasil investigasi; pengemudi taksi Green SM diduga lalai; penyidik Laka Lantas Satlantas Bekasi Kota menangani kasus tersebut.
  • Where?
    Peristiwa berlangsung di perlintasan sebidang dekat Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada jalur rel tanpa palang pintu atau sinyal resmi.
  • When?
    Kecelakaan terjadi pada Senin, 27 April 2026, sekitar pukul 21.00 hingga 22.00 WIB; hasil temuan disampaikan Brigjen Pol. Faizal pada Jumat, 1 Mei 2026.
  • Why?
    Penyebab utama kecelakaan diduga karena sopir taksi tidak memperhatikan kondisi sekitar dan tidak mendahulukan perjalanan kereta api di perlintasan tanpa palang pintu.
  • How?
    Penyidik melakukan olah TKP menggunakan teknologi 3D scanner dan LiDAR untuk merekonstruksi kronologi visual secara akurat dalam analisis
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada mobil taksi nabrak kereta di Stasiun Bekasi Timur. Polisi bilang sopirnya lalai dan tidak lihat sekitar waktu mau lewat rel yang tidak ada palang pintunya. Polisi pakai alat canggih buat lihat kejadian itu. Ada dua kecelakaan malam itu, tapi di tempat rel yang beda. Sekarang polisi masih periksa kasusnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Meskipun kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur menjadi peristiwa tragis, penanganannya menunjukkan keseriusan aparat dalam meningkatkan keselamatan transportasi. Penggunaan teknologi canggih seperti 3D scanner dan LiDAR memperlihatkan komitmen Polri terhadap investigasi yang akurat dan transparan, sementara hasil evaluasi ini berpotensi memperkuat perhatian nasional terhadap keamanan di perlintasan sebidang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Dirgakkum Korlantas Polri, Brigjen Pol. Faizal mengungkap faktor utama kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) diduga karena kelalaian sopir taksi Green SM.

Temuan itu didapat dari hasil asistensi olah tempat kejadian perkara dengan metodologi Traffic Accident Analysis (TAA) dalam penanganan kecelakaan lalu lintas di perlintasan sebidang Stasiun Bekasi Timur.

“Pengemudi telah lalai tidak memperhatikan kondisi sekitar, khususnya keberadaan perlintasan kereta api tanpa palang pintu,” kata Faizal di DPR RI, Jumat (1/5/2026).

“Peristiwa ini pun menjadi catatan penting dalam evaluasi keselamatan transportasi nasional. Khususnya terkait pengamanan perlintasan sebidang yang masih banyak tersebar di berbagai wilayah,” sambungnya.

Faizal menjelaskan, olah TKP dilakukan dengan teknologi seperti 3D scanner dan LiDAR. Dengan teknologi itu, penyidik memperoleh gambaran kronologi visual secara akurat dalam mendukung proses penyidikan kecelakaan.

Berdasarkan hasil analisis yuridis tim TAA, terdapat dua kejadian kecelakaan kereta api yang terjadi pada hari yang sama pada pukul 21.00 hingga 22.00 WIB. Pada TKP pertama, kecelakaan melibatkan taksi listrik bernomor polisi B-2864-SBX dengan KRL KA 5181B rute Cikarang–Bekasi Timur.

Sementara itu, TKP kedua melibatkan KRL antarkota dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi.

Kedua kejadian tersebut terjadi pada jalur rel yang berbeda. Namun, keduanya sama-sama berada di perlintasan sebidang, yakni perlintasan antara jalan dan rel kereta tanpa pemisah ketinggian seperti flyover atau underpass.

Adapun kecelakaan pada TKP pertama taksi dengan kereta api KRL KA 5181B dikategorikan sebagai kecelakaan lalu lintas jalan raya, bukan kecelakaan perkeretaapian.

Hal ini mengacu pada Pasal 110 ayat (3) PP Nomor 72 Tahun 2009, karena melibatkan kendaraan umum yang tidak mendahulukan perjalanan kereta api. Dengan demikian, penanganan kasus tersebut berada di bawah kewenangan penyidik Laka Lantas Satlantas Bekasi Kota.

Selain itu, ditemukan bahwa lokasi perlintasan tidak dilengkapi dengan palang pintu maupun sinyal peringatan resmi. Meski demikian, terdapat upaya swadaya masyarakat dengan menggunakan alat sederhana seperti bambu sebagai tanda peringatan.

“Namun, kondisi tersebut tidak menjadi alasan pengecualian. Pengguna jalan tetap wajib memastikan keamanan sebelum melintas di perlintasan sebidang,” ujarnya.

Editorial Team