Cerita Suami Harum Korban Kereta Bekasi: Telepon Istri Diangkat Damkar

- Harum Anjarsari menjadi korban kecelakaan KRL Bekasi–Cikarang saat perjalanan pulang setelah acara kantor, meninggalkan suami dan dua anaknya.
- Suaminya, Radit, sempat menunggu kabar selama 40 menit dan mencoba menghubungi Harum, namun panggilan akhirnya dijawab oleh petugas pemadam kebakaran.
- Radit kemudian menemukan fakta bahwa istrinya termasuk korban meninggal dunia setelah proses identifikasi di RS Polri melalui pencocokan ciri dan DNA keluarga.
Jakarta, IDN Times - Pekan ini harusnya menjadi momen bahagia Harum Anjarsari (30) bersama suami Radit (36) dan dua anaknya. Mereka berencana pergi berlibur sebelum Radit dipindah tugaskan dari Jakarta ke Tasik, Jawa Barat.
Harum sudah mengajukan cuti, namun ia tetap harus ke kantor untuk acara halal bihalal pada Senin (27/4/2024). Singkat cerita, Harum pulang ke rumah pada malam hari.
Radit bersama anak bungsunya yang berusia tiga tahun menjemput Harum. Keduanya menuju Stasiun Tambun dan sampai pada pukul 20.55 WIB.
“Istri masih kabar-kabaran. Pas sampai di Bekasi Timur tuh dia bilang, 'Sayang, ini keretanya nabrak ini,' katanya, 'nabrak mobil,” pesan terakhir Harum lewat percakapan WhatsApp kepada sang suami.
1. 40 menit menunggu kabar Harum

Radit kemudian meminta Harum untuk turun dan shareloc agar selanjutnya dijemput. Namun, hingga 40 menit menunggu, Harum tak kunjung membalas pesan.
Radit kemudian menuju Bekasi Timur, sesampainya di sana ia mendapati situasi yang sudah chaos.
“Udah chaos, saya pulang dulu ke Tambun, nidurin anak saya,” kata Radit.
2. Radit menelepon Harum, diangkat petugas Damkar

Setelah itu, dia mendapati kabar jika KRL Jakarta-Cikarang yang ditumpangi istrinya mengalami kecelakaan. Dia pun mencoba menelepon sang istri, tetapi tak ada jawaban.
Radit memutuskan untuk ke RSUD, tempat para korban mendapatkan perawatan. Namun, dari beberapa rumah sakit yang dikunjungi, Ia tak menemukan Harum.
“Ibu mertua saya nelepon, 'Coba angkat telepon lagi ke nomornya Arum,' katanya. Saya telepon, ternyata yang angkat Damkar (Pemadam Kebakaran),” ujar Radit yang berusaha tegar di dekat pusara Harum.
3. Radit dikabari istrinya meninggal dunia

Petugas Damkar yang mengangkat telepon Radit kemudian memintanya untuk ke Stasiun Bekasi Timur. Sesampainya di sana, petugas Damkar memberikan HP milik Harum.
Saat memegang HP Harum, Radit berharap istrinya selamat dari musibah. Dia pun memutuskan untuk menunggu proses evakuasi hingga pukul 09.00 WIB, keesokan harinya.
“Sampai akhirnya saya ke RSUD lagi, di RSUD diarahin, karena infonya ada 10 orang yang dibawa ke RS Polri. Akhirnya saya ke RS Polri bareng mertua saya. Sudah mulai, forensik semua, DNA ayah mertua saya, terus saya nyebutin ciri-cirinya juga dan memang ya… pas (sesuai),” ujar Radit.
“Setengah lima (sore) ditelepon, dan tahu (Harum meninggal dunia), ya udah terima saja gitu. Memang udah takdirnya,” ujar dia.
Berdasarkan keterangan resmi Kementerian Perhubungan, insiden bermula ketika rangkaian KRL relasi Bekasi–Cikarang tertemper mobil di perlintasan sebidang JPL 85.
Akibat kejadian tersebut, rangkaian KRL harus dievakuasi dan ditetapkan sebagai Perjalanan Luar Biasa (PLB) dengan kode 5181 karena berhenti berdinas dan berjalan di luar jadwal reguler.
Sebagai dampak peristiwa itu, petugas lalu memberhentikan satu rangkaian KRL lainnya dengan kode PLB 5568 yang mengarah ke Cikarang di peron Stasiun Bekasi Timur.
Namun, KA Argo Bromo Anggrek (KA 4) relasi Jakarta-Surabaya tidak sempat berhenti sepenuhnyasehingga terlibat insiden dengan KA PLB 5568 yang sedang berhenti.
















