Perjalanan Terakhir Harum: Akhirnya Pulang ke Rumah Ayah, Kamu, Mbak!

- Harum Anjarsari (30) menjadi salah satu korban meninggal dalam kecelakaan kereta di Bekasi Timur, setelah keluarga melakukan pencarian ke berbagai rumah sakit dan akhirnya mendapat kabar resmi dari RS Polri.
- Sebelum meninggal, Harum sempat meminta ibunya merapikan rumah menjelang Lebaran dan memberikan uang untuk perbaikan, menjadi kenangan terakhir bagi keluarga sebelum kepergiannya.
- Beberapa hari sebelum kecelakaan, Harum sering mengungkapkan keinginan untuk pulang ke rumah orang tuanya di Cipayung, yang kemudian dianggap sebagai pertanda sebelum ia berpulang selamanya.
Jakarta, IDN Times - Sri Lestari (58) duduk lemas di kursi plastik di depan rumahnya. Dia berusaha tegar mengenang anak pertamanya, Harum Anjarsari (30) yang meninggal dunia dalam kecelakaan kereta di Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam.
Sri pada malam peristiwa ditelepon oleh suami Harum, Radit (36) sekitar pukul 22.00 WIB.
“‘Ma, Arum ada di gerbong yang kecelakaan itu. 'Terus gimana? Gimana akhirnya?' kata aku. ‘Belum, ada kabarnya Ma, aku sudah nyebar anak buah aku sama teman-teman ke semua rumah sakit, dan aku nungguin di tempat evakuasi sampai kelar semua dievakuasi,” kata Sri menirukan percakapannya dengan sang menantu, di rumah duka, Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (29/4/2026).
1. Keluarga mendapatkan kabar Harum masuk dalam daftar korban meninggal dunia

Pencarian Harum dilakukan ke semua rumah sakit, tempat para korban dievakuasi, tetapi keluarga tidak menemukan Harum. Sampai pada akhirnya, keluarga mendapatkan kabar bahwa ada beberapa korban yang dibawa ke Rumah Sakit Polri.
Sang ayah bersama suami Harum bergegas ke RS Polri. Mereka diminta untuk memberikan data dan menjalankan sejumlah rangkaian pemeriksaan forensik.
Hingga berganti hari, para tetangga berbondong-bondong mendatangi rumah Sri. Mereka menyampaikan duka cita setelah mendapatkan informasi dari tayangan berita bahwa terdapat nama Harum dalam dalam daftar 10 korban meninggal dunia.
“Aku telepon suamiku, aku bilang, ‘Ayah, Mbak Arum sudah gak ada.' ‘Mama tahu dari mana? Di sini belum ada diumumin.’ ‘Ini tetangga sudah ada namanya Harum di TV’. Suamiku nangis, dia (Harum) kan minta pulang pulang mulu, 'Akhirnya pulang juga ke rumah ayah, kamu Mbak,” kata Sri menirukan ucapan ayah Harum.
2. Harum minta orangtua merapikan rumah

Sri mengaku sangat dekat dengan Harum, meski sudah tidak tinggal satu atap karena kini Harum harus menemani sang suami. Sesekali dia pulang ke Cipayung, Jakarta Timur untuk mengajak orangtua dan adiknya makan di luar.
Kenangan terakhir, Harum memberikan sejumlah uang kepada sang ibu untuk merapikan rumah sebelum Lebaran.
“Seminggu mau Lebaran dia minta dirapiin rumah ini. Kita gak tahu kalau tanda-tanda mau ada gini kan. ‘Mama rapiin, Ma, seminggu lagi mau Lebaran, harus keburu.’ Suamiku kan tukang, jadi ngerjain sendiri. Rapi benar, rapi,” kata Sri.
3. Pulang selamanya

Sebelum peristiwa kecelakaan itu, Harum juga beberapa kali menyampaikan kepada Sri bahwa dirinya ingin pulang ke Cipayung.
“Dia sebelum meninggal dia minta pulang. ‘Aku mau pulang ke rumah Mama, aku mau pulang.’ Itu tandanya dia, ya, itu, ya, akhirnya pulang,” ujar Sri.
Selain kepada ibunya, Harum sudah menyampaikan pesan yang sama kepada sejumlah temannya.
“Kalau sama teman-temannya malah ngomong, ‘Aku mau pulang, sudah capek.’ Capek apa aku gak tahu, aku tahunya pas dari teman-temannya, dia sama teman-temannya begitu juga bilang, ‘Mau pulang ke rumah Mama, ah, capek,’ gitu. Eh, dia pulangnya selamanya,” kata Sri.
Berdasarkan keterangan resmi Kementerian Perhubungan, insiden tabrakan kereta di Stasiun Bekasi Timur, bermula ketika rangkaian KRL relasi Bekasi–Cikarang tertemper mobil di perlintasan sebidang JPL 85.
Akibat kejadian tersebut, rangkaian KRL harus dievakuasi dan ditetapkan sebagai Perjalanan Luar Biasa (PLB) dengan kode 5181 karena berhenti berdinas dan berjalan di luar jadwal reguler.
Sebagai dampak peristiwa itu, petugas lalu memberhentikan satu rangkaian KRL lainnya dengan kode PLB 5568 yang mengarah ke Cikarang di peron Stasiun Bekasi Timur. Namun, KA Argo Bromo Anggrek (KA 4) relasi Jakarta–Surabaya tidak sempat berhenti sepenuhnya, sehingga terlibat insiden dengan KA PLB 5568 yang sedang berhenti.
Harum menjadi salah satu dari 16 orang yang meninggal dunia akibat kecelakaan tersebut.


















