ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Argo mengungkapkan, kebakaran itu berawal dari kesalahan prosedur pengelasan yang dilakukan di salah satu kapal. "Jadi penyebab dari kebakaran ini adalah sumbernya itu dari ruang mesin kapal Artamina Jaya. (Berasal dari) ruang mesin kapal," ungkap Argo.
Selain itu, lanjut Argo, dalam pengelasan seharusnya ada blower, jauh dari benda yang mudah terbakar, serta adanya alat penyedot panas. Penyidik kemudian mengangkat kapal yang terbakar itu ke daratan untuk diselidiki. Dari hasil penyelidikan, kebakaran ini berawal dari percikan las yang kemudian mengenai bahan yang mudah terbakar, seperti solar, fiber, dan barang lain.
"Jadi bukan saat ngelas lalu terbakar, bukan seperti itu. Tapi saat melakukan pengelasan itu kan ada percikan yang ke mana-mana, yang bersifat flamem-able tadi. Itu di situ yang akhirnya menyebabkan kebakaran," ucap Argo.
Kapal Artamina Jaya kemudian terbakar dan api mulai menyambar ke 33 kapal lainnya. Api yang menyambar itu disebabkan gelombang laut yang membuat kapal saling bersenggolan. Tidak hanya itu, embusan angin yang kuat juga membuat api tersebut semakin besar.
"Jadi, saat kebakaran, kapal itu kan mengikat yang satu dengan yang lain. Kemudian saat kebakaran, tali pengikat itu lepas, kapal itu terbakar, lalu lepas, kemudian kapal Artamina Jaya ini bergerak, bergerak mengikuti arus gelombang air," jelas Argo.