Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Polusi Udara Jakarta Menurun, Efek Modifikasi Cuaca Masih Dikaji
Ilustrasi Polusi Udara Jakarta. (IDN Times/Chaesya Pricilla)
  • DLH DKI mencatat PM2,5, PM10, dan SO2 menurun di lima wilayah Jakarta pada 24 Oktober pagi, dengan PM2,5 Jakarta Selatan dan Utara berada di bawah baku mutu.
  • Penurunan polutan dapat dipengaruhi meteorologi, emisi lokal, dan modifikasi cuaca; DLH masih mengkaji kontribusi tiap faktor serta keberlanjutan perbaikan kualitas udara.
  • OMC dilakukan empat sorti pada 21–23 Oktober dan disertai hujan. Minggu pagi, IQAir mencatat kualitas udara Jakarta sedang dengan PM2,5 24 µg/m³.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Udara Jakarta pada Sabtu pagi jadi lebih bersih di banyak tempat. Dudi dari DLH bilang debu kecil di udara menurun. Mungkin karena hujan dari modifikasi cuaca, tapi masih diperiksa. Pesawat sudah menabur garam untuk membantu hujan. Sekarang udara Jakarta sedang, dan anak atau orang yang mudah sakit diminta mengurangi main di luar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Penurunan konsentrasi sejumlah polutan di berbagai wilayah Jakarta pada pagi hari menunjukkan bahwa pemantauan kualitas udara dan langkah-langkah pengelolaan lingkungan terus berjalan. Meski pengaruh modifikasi cuaca masih dikaji, pelaksanaan operasi yang dipantau bersama BMKG serta penyemprotan kabut air mencerminkan upaya terkoordinasi untuk mendukung kenyamanan masyarakat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta melalui Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU) mencatat konsentrasi polutan PM2,5, PM10, dan sulfur dioksida (SO2) cenderung menurun pada Sabtu (24/10) pagi, terutama pukul 04.00–07.00 WIB.

“Pemantauan SPKU menunjukkan kecenderungan penurunan konsentrasi polutan di lima wilayah Jakarta pada Sabtu pagi," kata Kepala DLH DKI Jakarta, Dudi Gardesi dalam keterangan resminya, Minggu (25/10/2026).

Di Jakarta Selatan, konsentrasi PM2,5 pada pukul 04.00–05.00 WIB turun hingga kisaran 12–32 mikrogram per meter kubik (µg/m³), di bawah baku mutu 55 µg/m³. Sementara itu, kawasan pesisir Jakarta Utara mencatat penurunan PM2,5 hingga kisaran 9–17 µg/m³ pada pukul 04.00–07.00 WIB.

Tren penurunan juga terpantau di Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Jakarta Pusat. Di Jakarta Pusat, konsentrasi PM2,5 dan PM10 pada pagi hari tercatat dalam kisaran 12–43 µg/m³.

DLH DKI Jakarta menjelaskan, penurunan konsentrasi polutan dapat dipengaruhi kondisi meteorologi, aktivitas sumber emisi lokal, serta kemungkinan dampak operasi modifikasi cuaca (OMC). Hujan yang dipicu melalui modifikasi cuaca berpotensi membantu membersihkan partikulat di atmosfer melalui proses deposisi basah (wet deposition).

“Namun, diperlukan analisis lanjutan untuk memastikan besarnya pengaruh masing-masing faktor dan keberlanjutan perbaikan kualitas udara,” kata Dudi.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Marulitua Sijabat, menyampaikan bahwa OMC dilaksanakan untuk mengoptimalkan potensi hujan dan membantu menciptakan kondisi yang lebih nyaman bagi masyarakat.

Kami terus memantau perkembangan cuaca bersama BMKG agar pelaksanaan OMC dapat dilakukan secara tepat sasaran,” kata Marulitua.

Berdasarkan laporan BPBD, OMC telah dilaksanakan melalui empat sorti penerbangan pada 21–23 Oktober menggunakan pesawat PK-SNH dengan bahan semai natrium klorida (NaCl). Penyemaian dilakukan di kawasan Bogor, Depok, Bekasi, dan Jakarta Selatan.

Operasi tersebut disertai kejadian hujan dengan intensitas bervariasi di sejumlah wilayah sekitar Jakarta. Pada Jumat (23/10), hujan ringan hingga sedang tercatat di Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Depok, Bogor, dan Tangerang Selatan.

Selain OMC, Pemprov DKI Jakarta juga melakukan penyemprotan kabut air (water mist) di sejumlah ruas jalan yang menjadi lintasan JRF 2026. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan bersama Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI untuk membantu menyejukkan lingkungan dan meningkatkan kenyamanan pelari.

Sementara itu, pada Minggu pagi ini, kualitas udara Kota Jakarta tercatat sedang, demikian menurut laman IQAir, dengan pembaruan pada pukul 06.00 WIB.

IQAir mencatat kualitas udara Jakarta berada pada poin 79 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 24 mikrogram per meter kubik atau 4,8 kali lebih tinggi nilai panduan kualitas udara tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Panduan kesehatan untuk kondisi ini yakni anjuran bagi kelompok sensitif mengurangi kegiatan di luar ruang dan mengenakan masker. Selain itu, menutup jendela untuk menghindari udara kotor masuk dan anjuran menyalakan pemurni udara untuk kelompok sensitif.

Curated For You

Editorial Team

Related Article