Comscore Tracker

IDAI: Mayoritas Anak yang Meninggal Akibat COVID Berusia 10-18 Tahun

Ada 177 anak meninggal dari 37.706 kasus terkonfirmasi COVID

Jakarta, IDN Times - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan, pada rentang Maret hingga Desember 2020, terdapat 37.706 anak yang terkonfirmasi positif COVID-19. Mirisnya, banyak anak yang tidak bisa bertahan usai terinfeksi virus Sars-CoV-2 itu.

Angka kematian tertinggi pada anak terjadi pada usia 10-18 tahun (sebanyak 26 persen), 1-5 tahun (23 persen), usia 29 hari (23 persen), usia 0-28 hari (15 persen), dan kurang dari usia 10 tahun (13 persen).

Data itu diperoleh IDAI dari gelombang pertama COVID-19 di Indonesia. Hasil penelitian IDAI itu kemudian dipublikasikan di jurnal ilmiah Frontiers in Pediatrics yang terbit pada 23 September 2021. 

"Penelitian ini adalah gambaran data terbesar pertama kasus COVID anak di Indonesia pada gelombang pertama. Angka kematian yang cukup tinggi adalah hal yang ke depan harus dicegah dengan deteksi dini dan tata laksana yang cepat dan tepat," ungkap Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, Dr Aman B Pulungan, seperti dikutip dari keterangan tertulis IDAI pada Minggu (26/9/2021). 

Sementara, menurut Sekretaris Umum Pengurus Pusat IDAI, Dr Hikari Ambara Sjakti, angka case fatility rate (CFR) COVID-19 anak di Indonesia lebih tinggi bila dibandingkan Amerika Serikat (AS). CFR pada kasus suspek dari 35.506 anak yang kemungkinan tertular COVID-19, sebanyak 522 anak meninggal dunia. 

Sedangkan, dari 37.706 kasus COVID-19 pada anak yang terkonfirmasi, ditemukan 177 anak yang meninggal. Mengapa tingkat keparahan COVID-19 pada anak di Indonesia lebih tinggi ketimbang Negeri Paman Sam?

1. CFR COVID-19 anak jauh lebih tinggi di RI ketimbang di AS karena jumlah testing rendah

IDAI: Mayoritas Anak yang Meninggal Akibat COVID Berusia 10-18 TahunIlustrasi anak-anak (IDN Times/Sunariyah)

Berdasarkan riset IDAI, angka CFR COVID-19 anak di Indonesia lebih tinggi dibandingkan AS karena kapasitas pemeriksaan testing yang rendah. Alhasil, banyak kasus yang tidak terdeteksi. 

Di dalam laporan yang dimuat di jurnal ilmiah Frontiers in Pediatrics, tertulis penyebab kematian anak akibat COVID-19 disebabkan karena faktor gagal napas, sepsis/syok sepsis dan penyakit bawaan (komorbid).

"Sedangkan, komorbid terbanyak yang dialami anak COVID-19 yang meninggal yakni malnutrisi dan keganasan. Lalu, disusul penyakit jantung bawaan, kelainan genetik, tuberkulosis (TBC), penyakit ginjal kronik, celebral palsy, dan autoimun," demikian isi laporan di jurnal ilmiah tersebut. 

Baca Juga: Psikolog: Banyak Anak-Anak Depresi Akibat Pandemik COVID-19

2. Sebanyak 62 anak dilaporkan meninggal tanpa komorbid

IDAI: Mayoritas Anak yang Meninggal Akibat COVID Berusia 10-18 TahunIlustrasi anak-anak (IDN Times/Aryodamar)

Sementara, menurut data di jurnal ilmiah Frontiers in Pediatrics, terdapat 62 anak meninggal tanpa komorbid. Ketua Satuan Tugas COVID-19 IDAI, Dr Yogi Prawira, mengatakan faktor penyebab gagal napas dan sepsis/syok sepsis terjadi pada kondisi COVID yang berat.

"Maka, pemantauan kondisi serta tata laksana secara dini dan tepat sangat penting untuk mencegah terjadinya dua kondisi tersebut," demikian isi jurnal ilmiah tersebut. 

3. IDAI meminta agar anak tetap lebih banyak di rumah selama pandemik COVID-19

IDAI: Mayoritas Anak yang Meninggal Akibat COVID Berusia 10-18 TahunMural pandemik COVID-19. (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)

Pemerintah pada awal Juli 2021 memperbolehkan anak usia 12-17 tahun divaksinasi COVID-19. Maka, IDAI mendorong agar anak-anak tetap di rumah. 

Dokter spesialis anak RSA UGM Ade Febriana berpendapat selama masa pandemik ini, anak harus tetap di rumah dan dipenuhi kebutuhan dasar mereka. Artinya, kebutuhan asah asih asuh harus didapatkan anak selama berada di rumah.

“Orang tua wajib menyediakan dan menyiapkan rumah sebagai tempat anak merasa nyaman, bahagia, dan menyenangkan sehingga anak tidak merasa terkungkung atau terisolasi di rumah," ujar Ade pada awal Juli 2021. 

Orang tua harus menyiapkan bahan pangan yang sehat dan mainan untuk bahan stimulasi yang sesuai usia anak. Selain itu, orang tua diharapkan banyak berinteraksi dengan anak untuk bisa mengajarkan budi pekerti yang baik.

Secara langsung, katanya, orang tua bisa memberikan contoh penggunaan alat pelindung diri seperti masker serta kebiasaan dan cara mencuci tangan yang benar. Hal ini perlu dilakukan karena sebenarnya anak memiliki kebiasaan meniru.

“Tunjukkan bahwa orang tua selalu konsisten menggunakan masker. Menggunakan masker untuk saat ini adalah keharusan," tutur dia lagi.

Baca Juga: 2.972 Anak Kena COVID-19, Gubernur Banten Batalkan Sekolah Tatap Muka

Topic:

  • Jihad Akbar

Berita Terkini Lainnya