Comscore Tracker

Tak Hanya Fashion, Bisnis Sepatu Lokal Ini Suarakan Peduli Lingkungan

Sepatunya terbuat dari bahan yang unik, lho

Jika melihat sekilas produk sepatu buatan Nurman Farieka, mungkin tidak ada yang menyangka bahwa sepatu tersebut terbuat dari bahan yang unik, yaitu kulit ceker ayam. Tidak hanya untuk terlihat unik, ada pesan penting yang ingin disuarakan bisnis sepatu milik Nurman tersebut. Di tengah pandemik ini, Nurman pun belajar banyak hal baru dalam mengelola bisnisnya.

Baca Juga: Gerakan #BanggaBuatanIndonesia Bantu UMKM Hadapi Masa Pandemik

1. Melalui proses riset yang panjang sejak 2015

Tak Hanya Fashion, Bisnis Sepatu Lokal Ini Suarakan Peduli Lingkunganinstagram.com/hirka.official

Tahun 2015, Nurman memulai perjalanan bisnis sepatu kulit ceker ayam yang ia beri nama Hirka. Tidak langsung memasarkan produknya, Nurman perlu terlebih dahulu melakukan beberapa tahap riset dan pengembangan produk. Pertama, Nurman melakukan riset terhadap bahan baku kulit ceker ayam untuk menemukan komposisi yang pas. “Tidak ada yang jual kulit ceker ayam siap pakai. Kita harus mengumpulkan dan mengolah sendiri, mencari durability, kelenturan, dan ketebalan yang pas. Saat ini memang belum sempurna, tapi setidaknya sudah layak jual,” jelas Nurman.

Nurman melanjutkan risetnya di tahun 2016 untuk menentukan produk apa yang akan ia jual. Akhirnya ia memutuskan memulai dari produk fashion yang ia nilai paling sulit diproduksi, yaitu sepatu. “Menurut saya, sepatu adalah aksesoris paling susah karena berhubungan dengan anatomi, construction, serta menggabungkan aspek fungsi dan estetika. Pokoknya kompleks kalau ngomongin sepatu. Dan butuh adaptasi juga mencari cara menggabungkan puluhan ceker ayam menjadi satu material dan kuat,” lanjutnya. Nurman pun bisa mengklaim bahwa Hirka adalah produsen sepatu dari kulit ceker ayam pertama di dunia.

2. Alasan memilih kulit ceker ayam

Tak Hanya Fashion, Bisnis Sepatu Lokal Ini Suarakan Peduli LingkunganPexels.com/Pixabay

Sebelum menjual sepatu dari bahan kulit ceker ayam, Nurman bercerita dirinya pun pernah mencoba berjualan sepatu model canvas pada umumnya. Namun persaingan pasar mendorongnya mencari inovasi baru. Ia pun terinspirasi dari jurnal ilmiah orang tuanya yang meneliti berbagai jenis kulit hewan.

Alasan pertama Nurman memilih kulit ceker ayam dikarenakan ceker ayam merupakan limbah dan mudah didapatkan dalam jumlah banyak. “Kita tahu di Indonesia ceker ayam itu melimpah banyak dari sisa restoran-restoran siap saji. Kita tidak pernah lihat mereka jual ceker ayam, kan. Itu jadi alasan kami memikirkan bagaimana caranya mengolah limbah menjadi produk yang memiliki nilai lebih,” jelas Nurman.

Kedua, eksklusivitas yang ditawarkan dari kulit ceker ayam. Berbeda dengan produksi sepatu pada umumnya, produk sepatu Hirka harus terlebih dahulu melalui proses penyusunan pola kulit ceker ayam. Meskipun diupayakan semirip mungkin, Nurman menjelaskan biasanya kemiripan yang dihasilkan sekitar 90%-98%. Jadi meski produknya serupa, pola dan gradasi kulit ceker ayam yang dihasilkan pada sebuah sepatu dengan yang lainnya akan berbeda. Selain itu, kulit ceker ayam juga memiliki pola berbentuk berlian yang tidak kalah eksotis dengan produk fashion dari kulit reptil pada umumnya.

3. Berharap memberikan dampak positif bagi lingkungan

Tak Hanya Fashion, Bisnis Sepatu Lokal Ini Suarakan Peduli Lingkunganaugustman.com

Tidak hanya menghasilkan produk fashion yang berkualitas, Hirka juga memiliki visi besar untuk mengubah dunia menjadi lebih baik. Nurman menjelaskan, saat ini Indonesia masih menjadi salah satu eksportir kulit ular terbesar di dunia untuk dijadikan produk fashion. “Ini sudah diatur oleh CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), namun pelaksanaannya masih sulit. Tetap banyak praktik ilegal. Akibatnya populasi ular atau buaya yang kulitnya diperdagangkan itu menjadi terancam,” ujarnya.

Permasalahan tersebut lah yang juga menjadi latar belakang lahirnya Hirka. Melalui produk Hirka, Nurman berharap bisa melakukan gerakan kecil untuk mengalihkan penggunaan kulit eksotis reptil ke kulit ceker ayam yang tidak kalah indah. Tak hanya itu, Hirka juga menggunakan platform-nya untuk mengkampanyekan isu lingkungan lain, seperti dampak fast fashion pada lingkungan. Nurman pun menceritakan apa yang Hirka lakukan ternyata mendapat perhatian positif dari media luar, “Respon yang masuk ke kita luar biasa. Isu yang kita coba angkat juga banyak diperhatikan di luar sana. Jadi produk kita seperti menjadi solusi bagi orang luar atas concern mereka dengan isu tersebut.”

4. Mengenalkan Hirka ke masyarakat Indonesia

Tak Hanya Fashion, Bisnis Sepatu Lokal Ini Suarakan Peduli LingkunganDok. Blibli

Tahun 2017 saat Hirka pertama kali mulai memasarkan produknya, sebagian besar pesanan berasal dari luar negeri. Saat itu produk Hirka memang masih berfokus di sepatu formal dengan target pasar pengusaha, pemerintahan, kolektor sepatu, dan pekerja seni. Dengan pertimbangan meningkatkan cash flow dan lebih memperkenalkan produknya di dalam negeri, Hirka mulai melirik jenis sepatu yang sedang tren di Indonesia, yaitu sneakers. “Kalau luar negeri mereka mencarinya produk formal, tapi di Indonesia yang hype lain. Percuma juga kalau kita besar di luar tapi orang-orang Indonesia tidak tahu produk kita. Kita juga mau orang Indonesia tahu dan bangga menggunakan produk Hirka,” jelas Nurman.

Dengan produk model sneakers, Nurman berharap bisa menjangkau pasar dalam negeri yang lebih luas sekaligus mengedukasi masyarakat tentang brand Hirka. Namun Nurman mengakui bahwa salah satu kendala bagi produk-produk dalam negeri dengan originality serupa Hirka adalah pada harga. “Bagi produk yang ‘berbau’ eco-friendly, biasanya memang harganya tidak bisa murah. Ibaratnya kita mengorbankan harga untuk value lain, yaitu lingkungan. Makanya Hirka juga berusaha agar harga produknya lebih affordable meski keuntungan tidak begitu besar. Yang penting masyarakat kenal Hirka dulu,” lanjutnya. Upaya mengenalkan Hirka kepada pasar Indonesia juga dilakukan dengan mengikuti kompetisi-kompetisi bisnis, seperti saat Hirka berhasil menjadi finalis Blibli The Big Start tahun 2019 lalu.

5. Banyak belajar dari pandemik Corona

Tak Hanya Fashion, Bisnis Sepatu Lokal Ini Suarakan Peduli Lingkunganinstagram.com/hirka.official

Nurman bercerita timnya sudah merancang strategi bisnis baru untuk pasar di Indonesia, namun pandemik Corona memaksanya untuk mengatur ulang strategi agar bisnisnya bisa bertahan. Terlebih lagi, tutupnya restoran-restoran membuat supply ceker ayam berkurang drastis. “Di awal strategi kami lancar-lancar saja bahkan lebih dari yang diharapkan. Pandemik ini bukan mengganggu, tapi mengajak kita untuk berpikir ulang bagaimana caranya survive. Karena kedepannya akan banyak muncul krisis lainnya. Saya belajar untuk aware dengan keadaan dunia saat ini dan apa pengaruhnya bagi Indonesia,” cerita Nurman.

Tidak dapat dipungkiri, pandemik ini memang berdampak begitu besar bagi UMKM. Di saat kegiatan ekonomi terhenti sementara, para pemilik bisnis seperti Nurman harus berusaha bertahan demi pekerja-pekerja yang bergantung pada bisnisnya. Karena itu, Nurman mengatakan bahwa selama ini Hirka selalu berusaha untuk mendukung inisiatif dari pihak manapun yang menbantu UMKM dan semangat local pride, seperti gerakan #BanggaBuatanIndonesia yang merupakan kolaborasi pemerintah Indonesia dan Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) di masa pandemik ini.

Topic:

  • Saraya Adzani

Berita Terkini Lainnya