Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Satgas: Normalisasi Sungai Terdampak Bencana Sumatra Jadi Prioritas
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian (dok. Kemendagri)
  • Satgas PRR menegaskan normalisasi sungai di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara jadi prioritas utama pemulihan jangka panjang untuk mendukung irigasi sawah dan tambak warga.
  • Terdapat lebih dari 140 sungai terdampak bencana dengan tingkat kerusakan berbeda, mencakup sedimentasi berat hingga perubahan alur sungai di tiga provinsi tersebut.
  • Penanganan dilakukan melalui pendekatan tanggap darurat serta rehabilitasi-rekonstruksi yang terintegrasi dengan pemulihan sektor pertanian, perikanan, dan infrastruktur masyarakat sekitar daerah aliran sungai.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Normalisasi dan rehabilitasi sungai di tiga provinsi Sumatra menjadi prioritas utama dalam program pemulihan pascabencana yang dijalankan oleh Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR).
  • Who?
    Satuan Tugas PRR Pascabencana Sumatra di bawah koordinasi Muhammad Tito Karnavian bersama pemerintah daerah di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.
  • Where?
    Kegiatan difokuskan pada wilayah terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara, mencakup puluhan sungai di berbagai kabupaten dan kota.
  • When?
    Pernyataan disampaikan pada Kamis, 26 Maret 2026, sementara proses penanganan berlangsung secara bertahap dalam fase pemulihan jangka panjang.
  • Why?
    Normalisasi dilakukan karena banyak sungai mengalami pendangkalan akibat sedimentasi yang mengganggu irigasi sawah dan tambak warga serta berpotensi menimbulkan dampak lanjutan bila tidak segera ditangani.
  • How?
    Penanganan dilakukan melalui dua pendekatan: tanggap darurat untuk mencegah risiko tambahan serta rehabilitasi dan rekonstruksi guna memastikan perbaikan permanen secara terintegrasi dengan sektor pertanian dan permukiman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Banyak sungai di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara rusak karena bencana. Sungainya jadi dangkal dan alirannya berubah. Pak Tito dan Satgas mau bersihkan sungai supaya airnya lancar lagi untuk sawah dan tambak orang. Mereka kerja lama karena sungainya banyak sekali. Sekarang jalan sudah bisa dipakai lagi, jadi bantu perbaikan sungai lebih cepat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Penegasan Satgas PRR bahwa normalisasi sungai menjadi prioritas menunjukkan komitmen pemerintah terhadap pemulihan berkelanjutan di Sumatra. Pendekatan terintegrasi antara perbaikan sungai, irigasi, dan sektor pertanian serta perikanan mencerminkan perhatian pada kesejahteraan masyarakat. Dengan infrastruktur jalan nasional yang sudah pulih, proses rehabilitasi dapat berlangsung lebih lancar dan efisien.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatra menegaskan penanganan infrastruktur sungai di tiga provinsi terdampak jadi salah satu prioritas penanganan jangka panjang dalam fase pemulihan. Upaya ini akan mendukung irigasi untuk sawah dan tambak warga.

Ketua Satgas PRR Muhammad Tito Karnavian mengatakan, normalisasi sungai penting untuk menunjang kehidupan masyarakat yang bergantung pada sektor ekonomi primer, seperti pertanian dan perikanan. Berdasarkan data Satgas PRR, sungai terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara mayoritas mengalami pendangkalan akibat sedimentasi.

“Sungai bagi saya penting, ini akan makan waktu panjang untuk sungai karena jumlahnya banyak. Totalnya itu banyak yang sedimen, panjang dan lebar. Penanganan ini mendesak karena berkaitan langsung dengan sawah dan tambak milik warga,” kata Tito dalam keterangannya di Jakarta, dikutip Kamis (26/3/2026).

1. Sungai di Aceh paling banyak terdampak

Warga Aceh Tengah gunakan sling untuk menyeberangi sungai (dok.Pemkab Aceh Tengah)

Data Satgas PRR menunjukkan, di wilayah terdampak terdapat puluhan sungai dengan kondisi bervariasi, mulai dari sedimentasi berat, kerusakan tanggul, hingga perubahan alur sungai. Di Provinsi Aceh, tercatat 55 sungai yang terdampak dan memerlukan penanganan bertahap.

Sebaran kerusakan sungai di Aceh meliputi wilayah Aceh Utara, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tengah, Bener Meriah, Langsa, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Aceh Selatan, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Tenggara, dan Subulussalam.

Di Provinsi Sumatera Utara, terdapat 48 sungai terdampak yang wilayahnya mencakup Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Sibolga, Medan, Deli Serdang, Langkat, Serdang Bedagai, Mandailing Natal, dan Batu Bara.

Di Sumatera Barat, tercatat 43 sungai terdampak dengan wilayah mencakup Padang, Padang Pariaman, Pasaman, Pasaman Barat, Solok, Tanah Datar, Agam, dan Pesisir Selatan.

2. Penanganan sungai dilakukan melalui dua pendekatan

Warga berada di atas jembatan yang putus akibat bencana banjir dan luapan Sungai Peusangan di Peusangan Selatan, Bireuen, Aceh, Rabu (3/12/2025) (ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)

Tito menjelaskan, penanganan sungai dilakukan melalui dua pendekatan utama, yakni tanggap darurat untuk mengantisipasi dampak lanjutan, serta rehabilitasi dan rekonstruksi untuk memastikan perbaikan permanen. Menurutnya, kondisi geografis wilayah terdampak yang tersebar juga menjadi tantangan tersendiri dalam pemulihan sungai, berbeda dengan bencana yang terpusat di satu lokasi.

“Kalau kita masuk ke daerah yang dekat sungai itu kena. Jadi ini sifatnya tersebar, sporadis. Itu yang membuat penanganannya membutuhkan waktu,” kata Tito.

Meski demikian, Satgas PRR memastikan upaya penanganan terus berjalan paralel dengan pemulihan sektor lainnya. Hingga saat ini, sebagian besar jalan nasional telah kembali fungsional 100 persen dan distribusi logistik tidak lagi terhambat, sehingga mendukung percepatan perbaikan sungai di berbagai wilayah.

3. Pemerintah pastikan penanganan sungai terintegrasi dengan pemulihan sektor lain

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menumpang sepeda motor trail untuk meninjau lokasi rencana pembangunan jembatan gantung Sungai Gomo di Desa Sifalago Gomo, Kabupaten Nias, Sumatra Utara. (Dokumentasi Sekretariat Wapres)

Selain itu, pemerintah memastikan penanganan sungai terintegrasi dengan pemulihan sektor lain seperti pertanian, tambak, serta hunian masyarakat yang berada di sepanjang daerah aliran sungai.

Tito menegaskan pemulihan pascabencana tidak hanya diukur dari berkurangnya jumlah pengungsi, tetapi juga dari kemampuan wilayah untuk kembali aman dan produktif, termasuk dari sisi pengendalian sungai.

“Variabel yang kita lihat bukan hanya pengungsi, tapi juga sungai, sawah, tambak, dan infrastruktur lainnya. Semua itu menjadi bagian dari pemulihan,” pungkasnya.

Editorial Team