Jakarta, IDN Times - Presiden ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku turut mengamati krisis energi yang mulai dialami oleh sejumlah negara. Pasar global mulai bergejolak, terutama dipicu minyak, gas dan BBM. Dampak buruknya, kata SBY, sudah mulai dirasakan oleh semua negara, termasuk Indonesia.
SBY mengaku mengetahui banyak negara telah melakukan sejumlah langkah nyata untuk menyelamatkan ekonominya masing-masing. Caranya berbeda-beda tetapi dalam pandangannya, hal tersebut masuk akal.
SBY memantau dari dekat pernyataan dari Pemerintah Filipina yang menyatakan darurat energi nasional. Dengan begitu, pemerintah memberikan kewenangan kepada Kementerian Energi untuk membayar di muka 15 persen untuk mengamankan kontrak bahan bakar. Pemerintah Filipina juga menargetkan praktik penimbunan dan pengambilan keuntungan yang tidak wajar.
Sementara, Korea Selatan mengaktifkan mode tanggap darurat nasional untuk meredam dampak ekonomi. Di dalam rapat kabinet Korsel, pemerintah memutuskan untuk mengaktivasi sistem darurat lintas kementerian.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia? SBY pun mendorong Indonesia tak perlu panik. "Namun, langkah-langkah kita tidak boleh terlambat dan tak tepat," demikian yang dicuit oleh SBY di akun media sosialnya dan dikutip pada Kamis (26/3/2026).
