Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Survei Kemendikdasmen, MBG Meningkatkan Siswa Fokus Belajar
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti memantau pelaksanaan MBG. (dok. Kemendikdasmen)

Intinya sih...

  • Menurut hasil survei Kemendikdasmen sekolah penerima MBG mencatatkan rata-rata penurunan gangguan belajar akibat lapar

  • MBG disebut jadi kunci penting untuk menghapus kesenjangan di Indonesia timur

  • Pemilihan responden dalam survei ini dilakukan dengan pendekatan systematic sampling

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Survei Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Penguatan Karakter berdasarkan hasil survei evaluasi yang terintegrasi dalam kerangka Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH) menilai, program Makan Bergizi Gratis (MBG) menunjukkan dampak positif dalam mengurangi gangguan konsentrasi akibat rasa lapar dan peningkatan fokus belajar murid.

Temuan ini disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti. Dia menegaskan MBG merupakan bagian dari strategi pembangunan manusia jangka panjang.

“Program MBG yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto merupakan investasi jangka panjang pembangunan manusia Indonesia. Kita sedang menyiapkan generasi 2045, yakni mereka yang hari ini masih berada di bangku PAUD, SD, SMP, SMA, bahkan yang masih dalam kandungan, agar tumbuh sehat, cerdas, dan kuat secara fisik maupun mental,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (19/2/2026).

1. Sekolah penerima MBG mencatatkan rata-rata penurunan gangguan belajar akibat lapar

Siswa di SDN 5 Nanggalo menikmati menu MBG (Foto: IDN Times/Halbert Caniago)

Berdasarkan evaluasi implementasi 7KAIH pada tahap baseline yakni Mei sampai Juni 2025 hingga endline November sampai Desember 2025 yang melibatkan 1.203.309 responden murid secara nasional, sekolah penerima MBG mencatatkan rata-rata penurunan gangguan belajar akibat lapar lebih besar 2,37 poin persentase dibandingkan sekolah yang belum menerima.

Di wilayah Indonesia timur, penurunan gangguan belajar akibat lapar pada sekolah penerima MBG bahkan tercatat 14,85 poin persentase lebih besar, dibandingkan sekolah yang belum melaksanakan MBG.

2. MBG kunci penting untuk menghapus kesenjangan di Indonesia timur

Paket MBG makanan kering untuk siswa SDN 34 Ampenan Kota Mataram. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Capaian ini mengisyaratkan intervensi gizi melalui MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar murid, tetapi juga memperkuat kesiapan dalam mengikuti pembelajaran.

Selain itu, menurut Kemendikdasmen data ini dianggap menjadi bukti kuat bagi anak-anak di wilayah Indonesia timur, kehadiran program MBG adalah kunci penting untuk menghapus kesenjangan, memastikan mereka bisa belajar dengan fokus dan kesempatan yang sama dengan anak-anak di wilayah lainnya.

3. Pemilihan responden dilakukan dengan pendekatan lsystematic sampling

Dapur MBG Kelapa Lima Kota Kupang. (IDN Times/Putra Bali Mula

Sementara, Kepala Pusat Penguatan Karakter, Rusprita Putri Utami, menyampaikan pemilihan responden dilakukan dengan pendekatan systematic sampling untuk memastikan hasil evaluasi yang mewakili kondisi sebenarnya.

“Sekolah pelaksana MBG kami pilih secara acak, dengan memastikan memiliki data awal dan akhir yang memadai. Setelah itu, kami padankan dengan sekolah yang belum melaksanakan MBG dengan jenjang, wilayah, dan jumlah murid yang relatif sama, sehingga kondisi awal data hampir identik dan dapat dibandingkan,” jelas Rusprita.

“Pendekatan ini memperkuat validitas hasil sekaligus memastikan setiap rekomendasi kebijakan benar-benar berbasis data,” tegasnya.

Editorial Team