Jakarta, IDN Times - Anggota Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD), Albert Wijaya, mengatakan, Andrie Yunus, masih mendapat intimidasi saat dirawat di RSCM, Jakarta Pusat. Mereka pun menilai, Andrie tak aman jika memberikan kesaksian di pengadilan militer.
"Tim pendamping banyak melihat keberadaan orang asing di sekitar ruang tunggu (rumah sakit). Mereka menanyakan perihal Andrie," ujar Albert kepada IDN Times, Selasa (5/5/2026).
Selain itu, ada pula kampanye hitam dalam bentuk video yang menuding aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) itu sebagai antek asing yang ingin memecah belah bangsa. Andrie di-framing sebagai musuh negara yang pantas untuk diserang.
"Di ruang sidang itu yang sudah penuh dengan simpatisannya, jelas bukan suatu ruang yang aman bagi Andrie Yunus berada. Bahkan, pada masa pemulihannya di RSCM, kami masih menemukan berbagai intel dan ancaman yang masuk ke dirinya," kata dia, Senin (4/5/2026).
Sidang perdana terhadap empat anggota TNI pelaku penyiram air keras terhadap Andrie Yunus telah digelar pada Rabu (29/4/2026). Namun, isi surat dakwaan yang dibacakan, kata Albert, penuh dengan kejanggalan. Sebab, ada waktu yang dilongkap dan narasi yang tak masuk akal.
