Comscore Tracker

Yeni Sahnaz, Seorang Ibu yang Berjuang untuk Anak 'Ajaib'

Di bangku SD Satrio Wibowo sudah mengkritisi pendidikan

Jakarta, IDN Times - Yeni duduk di sebuah kafe dengan kepala menunduk, memandangi handphone di tangannya. Dia menggunakan baju kotak-kotak berwarna kuning. 

Senyum Yeni mengembang saat IDN Times menyapanya. Dia berdiri sejenak dan kembali duduk saat kami mulai berbincang seputar kegiatannya dan anak-anaknya.

Dengan senyum ramahnya, Yeni mulai menceritakan kehidupan anak bungsunya yang bernama Satrio Wibowo. Bocah yang akrab dipanggil Bowo itu adalah anak gifted atau berbakat.

Yeni terdiam sejenak, mengingat kenangan ketika Bowo kurang mendapat sambutan baik dari masyarakat, karena dianggap sebagai anak yang aneh. Setelah meyakinkan dirinya, dia pun mulai bercerita tentang kisahnya menjadi seorang ibu dari anak gifted.

1. Sejak kecil Bowo anak yang cerdas tapi mudah tersinggung

Yeni Sahnaz, Seorang Ibu yang Berjuang untuk Anak 'Ajaib'IDN Times/Teatrika Putri

Yeni kembali meneteskan air matanya saat hendak memulai ceritanya. Masa-masa perjuangan dulu terlalu pahit untuk dikenang. Dia dan keluarga mendapat perlakuan yang tidak adil dari lingkungan sekitarnya.

Kini Yeni terlihat lebih tegar, dan memulai bercerita tentang anaknya itu. Saat itu, keadaan psikologis Bowo memang terlihat berbeda. Sejak kecil Bowo sulit tidur, waktu istirahat hanya sebentar-sebentar.

Sebagai buah hati, Bowo dan Yeni memiliki ikatan batin yang kuat. Setiap kali Yeni jauh dari Bowo, putra bungsunya itu selalu rewel dan meminta selalu berada di dekapannya. Tingkah lakunya selalu menyita perhatian Yeni.

Pada usia 1,5 tahun, karakter Bowo yang mudah tersinggung semakin terlihat. Tak hanya itu, sifat keras kepala dan kritis juga mulai nampak. Di sisi lain, Bowo sudah menyukai dunia seni di usia balita itu. Dia gemar melukis, bahkan sanggup melukis mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur lagi.

Kendati, Bowo adalah sosok anak bijak meksi sulit diatur, dinasihati, dan diarahkan. Sebaliknya, dia suka mengritisi dan menasihati orang-orang di sekitarnya.

“Saya bingung di satu sisi dia terkesan membangkang atau nakal, tidak mau menurut. Di satu sisi dia bijak. Itu kan bikin kontradiktif, bikin saya bingung,” kata Yeni, Jumat 9 Maret lalu.

Kebingungan itu membuat Yeni terus bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya? Apa yang harus ia lakukan? Namun, sebagai seorang ibu, Yeni pun tak pernah menyerah untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada anak bungsunya tersebut.

2. Pemikiran ajaib anak gifted

Yeni Sahnaz, Seorang Ibu yang Berjuang untuk Anak 'Ajaib'IDN Times/Istimewa

Terkadang, pemikiran anak gifted di luar pemikiran anak-anak seumurannya. Bowo yang malas belajar namun pada umur 11 tahun sudah mulai mengritisi pendidikan di sekolahnya.

“Dia pernah bilang ‘Ibu aku di sekolah itu kok gak belajar ya, guru itu seolah-olah cuma memindahkan buku pelajaran ke otak murid'. Kemudian dia bilang lagi 'kenapa sih? Aku itu gak suka dijejali dengan teori-teori basi',” kata Yeni menirukan pertanyaan dan perkataan Bowo.

Selain itu, pemikiran ajaib Bowo kembali muncul ketika Yeni tengah mengajarinya mengaji. Saat itu, Bowo bertanya siapakah yang menciptakan bahasa di dunia ini? Mendengar pertanyaan itu, Yeni pun kelimpungan menjawabnya.

Belum terjawab pertanyaan pertama, Bowo kembali bertanya kepada Yeni, “Tuhan paham tidak bahasa-bahasa di dunia?” 

“Ya paham lah, kan Tuhan yang mengizinkan bahasa-bahasa di dunia,” jawab Yeni.

“Kalau memang Tuhan paham, kenapa saya harus berdoa dan beribadah dengan bahasa orang lain?” kata Bowo, menirukan ucapan anaknya.

Baca juga: Muslihah, Perempuan Baja di Pelosok Jawa

3. Mendapatkan perlakuan buruk dari sekolahnya

Yeni Sahnaz, Seorang Ibu yang Berjuang untuk Anak 'Ajaib'IDN Times/Istimewa

Kelebihan yang dimiliki Bowo, rupanya juga tidak memberikan efek positif terhadap teman-teman di sekolah dan lingkungannya. Bowo terus di-bully dan dianiaya teman-temannya di sekolah. Stigma mereka yang menilai Bowo anak yang aneh, membuat dia dijauhi teman-temannya.

“Di sekolah dia dti-bully, di SD di-bully. Teman-temannya main bola, dia mau ikut gak boleh. Itu di sekolah. Di lingkungan perumahan itu juga diusir-usir,” tutur Yeni.

Mirisnya, Yeni baru mengetahui anaknya menerima perlakuan kurang baik dari teman-teman sekolahnya, saat Bowo sudah duduk di bangku kuliah.

“Saya baru tahu bahwa setelah dia mahasiswa, waktu SD kelas 3 dia pernah dipukul kakak kelasnya tanpa sebab. Entah bagaimana orang selalu memukul dan menghinanya,” cerita Yeni.

Yeni tak habis pikir melihat perlakukan lingkungan sekitar pada anaknya. Padahal, Bowo adalah sosok yang bersahabat, periang, dan mudah bergaul dengan siapa saja.

4. Bowo menghasilkan karya novel fiksi

Yeni Sahnaz, Seorang Ibu yang Berjuang untuk Anak 'Ajaib'IDN Times/Istimewa

Yeni melanjutkan ceritanya, ketika Bowo menginjak bangku SMP. Bowo menjadi sering sakit-sakitan, dan sakitnya selalu rutin setiap dua pekan sekali.

Suatu malam, suhu badan Bowo panas tinggi, sesak napas, dan sering tak sadarkan diri. Keadaan ini membuat Yeni pasrah. Malam itu, ia hanya bisa berdoa kepada Tuhan YME.

“Saat sakit itu suatu malam saya sudah pasrah. 'Ya Allah kalau mau ambil, ambil lah' saya gak tega, kalau mau sehat, sehatkan. Tapi berikan petunjuk kenapa ini anak,” ucap Yeni dengan suara terbata-bata.

Yeni sadar, selama ini dirinya juga memperlakukan Bowo kurang baik. Terkadang dia juga ikut mem-bully dan memukul anaknya itu lantaran malas belajar. Dia juga kerap membandingkan dengan anak-anak lainnya.

Yeni paham, sakit yang dialami Bowo selama ini akibat stres. Dulu dia tidak mengira anak kecil bakal mengalami stres.

“Setelah saya berdialog dengan Tuhan, saya bilang ke Bowo, 'Bowo, tolong ada apa di pikiran kamu?' Saya pikir stres itu kan sebenarnya dari sini, dari kepala, dari otak. 'Ada apa yang kamu pikirkan?'” kata Yeni.

Entah kenapa, tiba-tiba keajaiban muncul. Bowo tersadar. Dengan badan lemas, sang anak meminta izin pada Yeni untuk menulis sesuatu di komputernya. Yeni pun mengizinkan.

Awalnya, Yeni mengira Bowo hanya akan menulis karangan sebanyak satu atau dua halaman. Tapi setelah melihat tulisan Bowo, Yeni terkejut. Bowo telah menulis sebuah novel science fiction dengan berlembar-lembar halaman dan menggunakan bahasa Inggris.

“Setelah saya lihat, dia menulis berpuluh halaman. Dari jam satu malam sampai jam lima pagi. Dalam kondisi sakit itu. Dia mengetik terus. Saya ikut baca, 'Hah? Kok sebuah cerita?' Science fiction,” ungkap Yeni, dengan wajah berbinar-binar.

Tokoh dalam cerita fiksi itu sangat mirip dengan Bowo. Menceritakan seseorang yang selalu dihina, sehingga ingin pergi ke dunia lain yang damai, aman, dan tenteram. Cerita tersebut diberi judul Willy Flarkies.

“Novelnya ini dalam bentuk bahasa Inggris, tapi dia belum pernah ada yang mengajari, atau tinggal di luar negeri. Belum pernah, kosong sama sekali Bowo ini. Saya pun belum pernah mengajari,” kata Yeni, heran.

Setelah Yeni membaca keseluruhan novel karya Bowo, Yeni tersadar. Novel tersebut ternyata penuh dengan pesan moral, kritik sosial, dan mengisahkaan tokoh yang sering di-bully hingga orang tersebut menjadi pendiam dan misterius.

“Pokoknya macam-macam di situ. Ada tokoh yang ibunya sangat bijaksana. Anaknya hobinya teriak-teriak tapi ibunya tetap lemah lembut. Itu seperti menyindir saya,” ucap Yeni, tersenyum.

5. Perjuangan seorang ibu

Yeni Sahnaz, Seorang Ibu yang Berjuang untuk Anak 'Ajaib'IDN Times/Istimewa

Ketika Bowo masuk SMP, Yeni sempat dipanggil gurunya karena sang anak mendapatkan nilai selalu di bawah rata-rata. Bahkan, sang guru mengatakan Bowo yang saat itu berada di kelas unggulan, akan dipindahkan ke kelas regular karena Bowo dinilai tidak layak  berada di kelas unggulan.

Dengan kesal, Yeni bertanya kepada sang guru alasan pemindangan itu. Guru pun menjawab bahwa kelas unggulan adalah tempat anak-anak cerdas. Mendengar pernyataan tersebut, Yeni pun dongkol dan langsung menunjukkan novel karya Bowo.

Melihat novel itu, sang guru terkejut. Dia tak percaya Bowo dapat membuat karya sebagus itu.

“Di situ beliau kaget. 'Tolong ya pak yang bijak, bagi bapak mudah memindahkan seorang anak ke kelas lain, ke kelas reguler. Selain mudah juga, tidak menjadi beban. Tapi bagi anak, itu beban,” cerita Yeni.

Memang, hampir setiap semester Yeni selalu dipanggil gurunya karena nilai Bowo selalu di bawah rata-rata. Hingg suatu saat, ketika Bowo menginjak kelas 2 SMP, Yeni mendapat kabar anak bungsunya itu dipukul gurunya karena difitnah.

Yeni membela Bowo dan meminta keadilan karena sang anak dituduh memberikan contekan kepada teman-temannya saat ulangan. Yeni bertanya kepada teman-temannya, namun tak ada yang bisa menjawab.

“Kata saya, Bowo selama ini mendapat stigma bodoh, aneh, kok bisa-bisanya mereka percaya. Saya tanya ‘siapa yang pertama kali mendapat jawaban dari Satrio?’. Gak ada yang jawab,” ungkap perempuan paruh baya itu.

Setiap semester Yeni tak pernah menyerah untuk membuktikan kepada guru-gurunya bahwa Bowo bukanlah anak aneh dan bodoh. Bowo adalah anak yang cerdas, dengan bakat yang luar biasa. Setiap kali dipanggil gurunya, Yeni selalu memamerkan hasil karya anaknya, dan berhasil membuat guru-guru tercengang.

6. Bangkit untuk menaikkan martabat sang anak

Yeni Sahnaz, Seorang Ibu yang Berjuang untuk Anak 'Ajaib'IDN Times/Teatrika Putri

Lika-liku yang dihadapi Yeni tak pernah membuatnya menyerah, untuk terus mencari keadilan bagi anaknya. Bahkan, ketika anaknya hampir dikeluarkan dari sekolah, Yeni tak menyerah untuk terus bertahan dan membuat anaknya tidak dipindahkan dari sekolah.

Perjuangan Yeni untuk mengenalkan anaknya bukan lah anak yang aneh dan bodoh terus dilakukan. Yeni juga mencari beberapa penerbit yang bersedia menerima karya Bowo. Satu penerbit ke penerbit yang lain tak pernah berhenti ia kunjungi untuk menawarkan karya anaknya.

“Setelah itu, saya berjuang mencari penerbit. Saya ibu rumah tangga yang tidak pernah kenal penerbit, penulis. Dari situ saya mengangkat martabat Bowo dengan mencari penerbit. Akhirnya dapat petunjuk,” ucap Yeni.

Setelah beberapa kali ditolak karena novel Bowo menggunakan bahasa Inggris, Yeni akhirnya berhasil mendapatkan penerbit. Novel karya sang anak pun diterbitkan.

“Di situ saya bangkit, saya yang hanya ibu rumah tangga. Kebetulan sedang booming Facebook dan internet. Di situ saya terpikir untuk membuat buku. Bagaimana saya mengapresiasi potensi dia,” ujar Yeni.

Yeni juga terpikirkan untuk membuat komunitas peduli anak gifted. Dia sadar bakat seorang anak gifted jangan sampai terlambat diketahui orangtuanya. Potensi anak gifted harus terus dikembangkan dan diapresiasi, bukan malah dihina atau direndahkan.

Yeni juga mengritisi pendidikan di Indonesia yang seharusnya bisa memanfaatkan dan mengapresiasi bakat anak-anak gifted. Dia juga mengingatkan kepada orangtua, jangan pernah membatasi potensi anak, apalagi meremehkan bakat seorang anak, karena ungkin saja anak tersebut gifted dengan sejuta bakat.

Baca juga: Penantian Dania untuk si Bayi Tabung

Topic:

Berita Terkini Lainnya