Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
TNI Belum Tunjuk Perwira yang Akan Didapuk Jadi Wakil Komandan ISF Gaza
1.087 prajurit yang tergabung dalam Satgas Kontingen Garuda Unifil TA 2024 ketika disambut di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur. (Dokumentasi Puspen TNI)
  • Indonesia resmi ditunjuk sebagai Wakil Komandan International Stabilization Force (ISF) di Gaza, namun TNI belum menetapkan perwira tinggi yang akan mengisi posisi tersebut.
  • Pertemuan lanjutan para jenderal bintang empat akan digelar di Timur Tengah untuk membahas detail operasional dan pembagian wilayah pasukan ISF asal Indonesia.
  • Kementerian Luar Negeri menegaskan wilayah operasi pasukan Indonesia di Gaza belum diputuskan, sambil memastikan mandat dan keamanan prajurit menjadi prioritas utama.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Salah satu hasil penting dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Board of Peace (BoP) yang digelar pada Kamis (19/2/2026) di Washington DC, Amerika Serikat (AS) yakni penunjukkan Indonesia sebagai Wakil Komandan pasukan di International Stabilization Force (ISF). Penunjukkan Indonesia sebagai wakil komandan disambut positif oleh Presiden Prabowo Subianto.

Ia mengaku siap mengirimkan 8.000 pasukan ke wilayah Gaza, Palestina. Bahkan bila diperlukan, Indonesia siap menambah jumlah pasukan tersebut.

Namun, Menteri Luar Negeri Sugiono menyebut, belum ada penunjukkan wakil komandan ISF. Hal tersebut akan ditentukan oleh TNI.

"Belum kelihatan (ada yang ditunjuk). Itu nanti dari TNI lah yang memilih," ujar Sugiono ketika memberikan keterangan di Washington DC, dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden, Sabtu (21/2/2026).

Respons serupa juga disampaikan oleh Mabes TNI melalui pesan pendek pada hari ini. "Belum ditentukan (wakil komandan ISF). Mohon waktu, semuanya masih dalam proses," ujar Wakil Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI, Brigjen Osmar Silalahi, kepada IDN Times.

Kementerian Pertahanan pun mengaku belum bisa berkomentar banyak. Mereka memilih untuk menunggu instruksi dari Prabowo.

"Kami masih menunggu arahan dari Presiden," kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan Brigjen TNI Rico Sirait kepada IDN Times melalui pesan pendek pada Jumat kemarin.

1. Penentuan sosok wakil komandan menunggu pertemuan jenderal bintang empat

Kepala Centre for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE), Anton Aliabbas. (Dokumentasi Istimewa)

Sementara, Kepala Centre for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE), Anton Aliabbas mengatakan, pembicaraan mengenai pengiriman pasukan ISF tidak berakhir pada Kamis kemarin di Washington DC. Berdasarkan informasi yang ia miliki, masih akan ada pertemuan lanjutan yang akan dihadiri oleh jenderal bintang empat dari negara-negara yang sudah sepakat mengirimkan pasukan ke ISF.

Komandan ISF di Gaza, Mayor Jenderal Jasper Jeffers mengatakan, selain Indonesia ada pula empat negara lainnya yang siap mengirimkan pasukan ke Gaza yakni Kosovo, Albania, Kazakhstan, dan Maroko. Sementara Mesir dan Yordania siap untuk melatih personel polisi asal Palestina. Namun, Indonesia jadi negara yang mengirimkan pasukan paling banyak di antara lima negara tersebut.

"Setelah pertemuan yang ada di Washington DC, akan dilanjutkan dengan pertemuan four star general meeting. Di sana akan dibahas lebih detail mengenai level operasional hingga pembagian wilayah operasi pasukan ISF asal Indonesia," ujar Anton melalui telepon kepada IDN Times pada Jumat malam kemarin.

Ia menambahkan, jenderal bintang empat yang akan mewakili Indonesia kemungkinan adalah Panglima TNI atau Wakil Panglima TNI. Pertemuan tersebut rencananya akan diadakan di Timur Tengah 10 hari usai KTT BoP di Washington DC.

2. Kualifikasi wakil komandan ISF dari TNI

Ilustrasi prajurit TNI Angkatan Darat (AD). (ANTARA FOTO/Aprilio Akbar)

Anton pun menyebutkan, Indonesia memang ingin menjadi Wakil Komandan dalam pengiriman pasukan ISF. Selain lantaran mengirimkan pasukan dalam jumlah paling besar, dengan menjadi pimpinan ISF maka bisa memengaruhi secara langsung operasional ISF di Jalur Gaza.

"Posisi wakil komandan ISF ini dapat diartikan sebagai bentuk penghargaan internasional terhadap jejak peran dan kontribusi Indonesia dalam misi perdamaian," ujar Anton.

Ia memperkirakan, posisi wakil komandan ISF akan diisi oleh jenderal bintang dua dari TNI. Sebab, yang memimpin brigade idealnya merupakan jenderal bintang satu. Maka, dalam pandangan Anton, sosok yang disiapkan untuk mengisi pos Wakil Komandan ISF harus diseleksi secara serius.

"Kemampuan dan kompetensi dari perwira yang ditunjuk akan menentukan kesuksesan dari realisasi tujuan, kepentingan dan ekspektasi publik terkait keterlibatan Indonesia di BoP (Board of Peace) dan ISF," katanya.

Maka, kualifikasi yang harus dimiliki oleh calon wakil komandan ISF yakni perwira tinggi di TNI yang memiliki jejak pengalaman tugas (tour of duty) yang bervariasi mulai dari level staf hingga komandan. Kedua, perwira tinggi TNI itu juga harus memiliki pengalaman pernah terlibat dalam misi perdamaian PBB.

"Pengalaman dinas dalam pasukan akan sangat membantu dalam beradaptasi di lingkungan kerja baru yang multinasional. Maka, tentu kemampuan bahasa asing yang sangat memadai akan ikut menunjang dalam pelaksanaan tugas," tutur dia.

3. Belum ada keputusan di mana wilayah operasi pasukan ISF Indonesia

Peta pengerahan pasukan ISF ke Gaza. (Tangkapan layar YouTube White House)

Ketika ditanyakan wilayah operasi pasukan ISF asal Indonesia, Menteri Luar Negeri Sugiono menyebut, hal itu belum ditentukan. Sebab, dalam pemaparan di Gedung Putih, Mayor Jenderal Jasper Jeffers hanya memaparkan wilayah operasional pasukan ISF terbagi ke dalam lima sektor yakni Rafah, Khan Yunis, Deir el Balah, Kota Gaza, dan Gaza Utara.

"Mulai (penempatan pasukan ISF) dari Rafah, begitu kemarin yang disampaikan. Tapi detail operasinya seperti apa, tactical game seperti apa, itu masih akan dibahas lebih lanjut," kata Sugiono.

Pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal itu tak menampik risiko pengiriman pasukan Indonesia ke ISF tergolong tinggi. Itu sebabnya dibutuhkan mandat yang jelas sebelum pasukan TNI dikirim ke lapangan.

"Kita juga tidak mau prajurit kita jadi korban di luar misi yang sedang dilaksanakan. Itu pentingnya peran Indonesia ada di Board of Peace dan menjadi wakil komandan ISF. Saya kira itu akan memperbesar keyakinan bahwa keamanan prajurit tetap bisa jadi yang utama," tutur dia.

Editorial Team