Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

WANSUS Dino Patti Djalal: Kritik Saya ke Menlu Sugiono is Nothing Personal

Dino Patti Djalal
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal usai menerima penghargaan dari IDN Times di kantor IDN HQ, Jakarta Selatan. (IDN Times/Santi Dewi)
Intinya sih...
  • Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal menghadiri acara Pernyataan Pers Tahunan Menlu (PPTM) 2026 untuk menghormati undangan dan mendengarkan pidato Menlu Sugiono.
  • Kritik yang disampaikan oleh Dino kepada Menlu Sugiono tidak bersifat personal, tetapi sebagai masukan yang diharapkan dapat diterima secara terbuka untuk menjalankan tugas dengan lebih baik.
  • Menurut Dino, jumlah wakil menteri luar negeri saat ini sudah cukup, namun perlu adanya koordinasi di antara mereka dan Menlu perlu meluangkan lebih banyak waktu untuk berada di Kemlu secara fisik.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal menjadi satu dari sejumlah tamu penting yang ikut diundang diundang oleh Kementerian Luar Negeri dalam acara Pernyataan Pers Tahunan Menlu (PPTM) 2026 pada Rabu (14/1/2026). Duduk di samping mantan Wamenlu A.M. Fachir, Dino terlihat ikut berjabat tangan dengan Menteri Luar Negeri Sugiono.

Momen yang diabadikan di kamera tersebut kemudian menjadi sorotan publik. Hal itu lantaran beberapa waktu lalu Dino pernah menyampaikan kritik dan saran secara terbuka terhadap Sugiono. Empat kritik dan saran yang disampaikan di akun media sosial Dino itu kemudian viral dan menjadi perbincangan publik.

Kepada IDN Times, Dino mengatakan Sugiono tak akan pernah mendengar input semacam itu bila tak disampaikan oleh dirinya. Bahkan, internal Kementerian Luar Negeri pun tak akan menyampaikan masukan tersebut.

Meskipun ia menggarisbawahi kritik dan saran tersebut bukan merupakan serangan pribadi yang ditujukan kepada petinggi di Partai Gerindra itu.

"Kritik saya is nothing personal dan sebetulnya sudah menjadi rahasia umum juga," ujar Dino yang ditemui di sela acara penghargaan Semangat Awal Tahun (SAT) di IDN HQ, Jakarta Selatan pada Kamis (15/1/2026).

Kehadirannya di acara tahunan Kemlu juga untuk menghormati undangan dari tuan rumah. Selain itu, Dino ingin menyaksikan langsung pidato yang akan dijadikan rujukan kebijakan luar negeri Indonesia selama satu tahun ke depan. Ia pun mengaku senang dengan poin-poin pidato yang disampaikan oleh Sugiono.

"Saya pandang bagus dan substantif. Itu yang memang kami harapkan," tutur pria yang juga merupakan pendiri organisasi Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) itu.

Simak obrolan lengkap IDN Times bersama Dino yang juga merupakan salah satu penerima penghargan Inspiring Newsmaker of The Year 2026 dari IDN Times berikut ini.

Bagaimana ceritanya Anda tetap diundang dalam pernyataan pers tahunan Menlu usai menyampaikan kritik dan saran terbuka terhadap Menlu Sugiono?

Sugiono, Dino Patti Djalal
Menteri Luar Negeri Sugiono ketika menyalami mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal di acara PPTM Kementerian Luar Negeri. (Tangkapan layar YouTube Kemlu)

Pertama, saya hadir dalam PPTM (Pernyataan Pers Tahunan Menlu) kemarin untuk menghormati Menlu. Karena, saya ingin sekali mendengarkan pandangan Menlu mengenai world view dan langkah-langkah politik ke depan.

Alhamdulillah, yang saya dengar kemarin itu adalah suatu policy speech yang ditunjukkan kali pertama oleh Beliau sejak terpilih menjadi Menlu 13 bulan lalu. Jadi, saya senang sekali ini bisa dijadikan bahan kajian bagi kami. Ini juga dibutuhkan oleh perwakilan Indonesia di luar negeri. Jadi, saya datang untuk menghormati Beliau.

Kedua, kritik yang saya sampaikan juga nothing personal. Tapi, itu suatu hal yang menurut saya, kalau tidak saya ucapkan, tidak saya nyatakan, maka Beliau tidak akan mendengar itu dari orang lain. Kenapa? Karena tidak ada yang mau menyatakan kepada Beliau baik dari dalam maupun luar Kementerian Luar Negeri.

Padahal, yang saya nyatakan itu sebetulnya sudah menjadi rahasia umum untuk Beliau. Dan saya yakin Beliau sebagai seorang pemimpin, bisa menerima ini secara terbuka, dan bisa dijadikan bahan masukan untuk benar-benar menjalankan tugas Beliau.

Apakah Anda dan Menlu Sugiono sempat ngobrol sebelum atau setelah PPTM?

Tidak. Hanya salaman saja. Salaman itu sebelum acara PPTM dimulai. Sebetulnya, saya ingin juga ngobrol. Tapi, saya lihat Beliau lagi sibuk, jadi saya akan melakukannya lain kali. Mudah-mudahan kalau saya minta waktu dengan Beliau, Beliau bisa disambungkan.

Apakah menurut Anda jumlah posisi wakil menteri luar negeri yang ada saat ini masih perlu ditambah? Anda sendiri dulu kan juga pernah menjabat Wamenlu

Saya harap itu hanya kelakar, karena waktu Beliau menyatakan itu, Beliau ketawa gitu ya. Dan fenomena Wakil Menteri Luar Negeri itu kan baru sekali. Waktu zaman Presiden ke-6 SBY, Beliau memang menunjuk wakil menteri luar negeri.

Saya termasuk Wamenlu yang terakhir di era kepemimpinan Pak SBY. Waktu itu hanya satu wamenlu. Sekarang tiga, untuk Indonesia itu sudah cukup banyak dan menurut saya tidak perlu ditambah satu lagi.

Mungkin yang perlu diperbaiki, ini berdasarkan pengakuan Beliau sendiri ya, bahwa saya jarang ketemu nih dengan tiga wamenlu-nya. Dia mengaku jarang bertemu dengan semuanya karena semua, termasuk Pak Menlu sama-sama sibuk.

Itu mungkin mencerminkan pembenaran bahwa apa yang saya sampaikan di dalam video tempo hari. Bahwa, Menlu perlu lebih banyak waktu untuk mengurus Kementerian Luar Negeri dan para wamennya.

Mungkin bisa bertemu seminggu sekali. Kalau pun tidak bisa ya sebulan sekali (pertemuan menlu dan wamenlu). Tapi, mutlak seharusnya sesering mungkin karena semuanya kan perlu koordinasi.

Menurut saya tiga wamenlu sudah cukup tetapi perlu ada koordinasi di antara mereka oleh sebab itu Menteri Luar Negeri perlu meluangkan lebih banyak waktu untuk berada di Kemlu secara fisik.

Apakah jarangnya Menlu di kantor Kemlu karena Sugiono juga rangkap jabatan sebagai Sekjen di Partai Gerindra?

Sugiono jadi Sekjen Gerindra gantikan Muzani
Sugiono jadi Sekjen Gerindra gantikan Muzani (IDN Times/Amir Faisol)

Pasti, pasti. Karena Beliau kan juga diberi posisi sebagai sekretaris jenderal suatu partai politik dan sebagai sekjen tugas utamanya untuk memenangkan Pemilu 2029. Sekjen parpol memiliki tugas untuk mengurus ranting-ranting, seluruh anggota partai tersebut.

Anggota partai harus puas dan harus aktif dalam kegiatan parpol. Pendanaan harus bagus, kantor-kantor harus diurus.

Setiap kali anggota partai menelepon dan minta bertemu harus diladeni. Jadi, menurut saya, itu tugas yang harus dijalani full time. Bila tugas itu tidak dijalani full time juga akan jadi salah dong ya?

Sementara, dunia diplomasi juga begitu. Berbagai masalah internasional, baik di kawasan maupun global, Kemlu punya 2.000 diplomat dan sekitar 100 kantor perwakilan di luar negeri dengan isu yang sangat kompleks, itu kan juga menuntut perhatian yang full time.

Jadi, bagaimana Beliau bisa membagi waktu, itu harus pintar-pintar (menyediakan waktunya). Tetapi, kita tidak bisa menghibur diri dan menyatakan 'oh, dua-duanya itu klop', itu tidak bisa.

Yang jelas dua posisi itu saling berbenturan. Ini pandangan saya secara obyektif ya.

Ada respons dari Menlu setelah Anda menyampaikan kritik dan saran?

Sama sekali tidak ada. Dari Pak Menlu tidak ada, dari wakil menteri luar negeri tidak ada (yang memberikan respons). Begitu juga dari direktur jenderal, tidak ada yang merespons. Jadi sampai sekarang tidak ada respons apapun terkait pandangan saya tempo hari.

Tentu saya mengharapkan ada respons. Apalagi ini kan menjadi berita nasional, viral dan menjadi bahan pembicaraan di berbagai pihak.

Tetapi, saya senang karena paling tidak ada indikasi direspons tidak dengan menghubungi saya, atau memberikan pernyataan tapi akun Instagram Beliau (Menlu) sekarang ada suaranya. Jadi, ada penyesuaian.

Kemarin ketika PPTM menjadi policy speech dan Beliau juga mengatakan kalau ingin menjadikan Kemlu sebagai rumah kita bersama. PPTM kemarin juga disiarkan di kampus-kampus walaupun tidak ada tanya jawab tetapi ini bisa jadi harapan.

Harapan saya cukup sederhana penjelasan seperti ini harus dilakukan secara rutin bukan setahun sekali. Karena itu tugas seorang Menlu. Apalagi Beliau juga menegaskan dan sudah saya tekankan juga bahwa foreign policy begins at home. Mudah-mudahan lebih sering (dilakukan) karena itu yang dikehendaki oleh publik dam masyarakat internasional.

Bagaimana respons Anda terhadap pandangan kritik dan saran yang disampaikan secara terbuka karena Menlu Sugiono tak bersedia hadir di acara FPCI?

Poin saya yang utama adalah dalam kurun waktu satu tahun terakhir Beliau tidak pernah tampil untuk memberikan penjelasan. Jadi, secara umum itu Beliau tidak tampil di kampus, tidak tampil tak hanya di acara yang diadakan oleh FPCI (Foreign Policy Community of Indonesia), CSIS (Centre for Strategic and International Studies) dan di manapun.

Jadi, bukan undangan dari FPCI saja yang tidak direspons. Tetapi, undangan-undangan dari pihak lain juga tidak direspons oleh Beliau.

Makanya saya katakan Beliau jauh sekali dari komunitas. Kan ini ada komunitas dan konstituennya.

Untuk FPCI sendiri, memang konferensi yang kami adakan itu sudah disertifikasi dan dinyatakan sebagai konferensi politik luar negeri terbesar di dunia. Jadi, di mana pun di luar negeri tidak ada konferensi politik luar negeri yang mampu menghadirkan sekitar 10 ribu hingga 11 ribu orang yang datang.

Bagi kami, masuk akal bila kecewa. Seandainya undangan dari kami direspons 'oh, maaf kami tidak bisa datang, paling tidak itu bisa menghibur kami'. Tapi, ini benar-benar tidak ada respons.

Saya dulu kan juga orang pemerintah dan ini bukan cara berbirokrasi dan berkomunikasi yang baik. Ini juga bukan part of good governance. Makanya saya menyampaikan kritik secara terbuka. Hal semacam ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut hingga empat tahun ke depan.

Yang rugi kan Kemlu, Menlu, Presiden Prabowo dan Indonesia. Politik luar negeri itu kan bukan intel atau BIN (Badan Intelijen Negara). Kita harus selalu bersuara. Senjata kita vokalitas.

Apa pandangan Anda soal pernyataan pers tahunan Menlu di 2026?

Menlu Sugiono menyampaikan pidato dalam acara PPTM 2026
Menlu Sugiono menyampaikan pidato dalam acara PPTM 2026 (sumber: kemlu.go.id)

Saya senang dengan speech Beliau. Saya pandang bagus dan substantif. Itu yang memang kami harapkan. Jadi, asumsi kita, world view, pandangan, kekhawatiran Indonesia, interpretasi Indonesia terhadap kondisi dunia. Jadi, itu yang kami ingin dengar dan apa langkah ke depannya.

Tentu ada hal-hal yang bisa didebatkan lebih lanjut. Tapi, paling tidak sudah a good start. Beliau sudah menulis juga pandangannya di artikel di harian The Jakarta Post. Jadi, kami appreciate dan kami harapkan menjadi the new normal dan dikomunikasikan oleh Menlu kepada publik.

Saya yakin diplomat kita akan bahagia karena seperti yang saya sampaikan di dalam video ada demoralisasi sebagai dampak dari pemotongan anggaran yang begitu drastis. Suka tidak suka ini realitanya. Hal ini harus dipikirkan oleh Menlu bagaimana demoralisasi ini dapat diobati.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwifantya Aquina
EditorDwifantya Aquina
Follow Us

Latest in News

See More

Dongkrak Ekonomi Lokal, Wawalkot Bogor Dorong Kampung Tematik untuk MBG

26 Jan 2026, 08:23 WIBNews