Sumber: YouTube Susilo Bambang Yudhoyono
Terkait isu krisis energi yang dihadapi sejumlah negara, SBY mendorong Indonesia tak perlu panik.
"Namun, langkah-langkah kita tidak boleh terlambat dan tak tepat," demikian yang dicuit oleh SBY di akun media sosialnya dan dikutip pada Kamis (26/3/2026).
Lebih lanjut, SBY mengenang kembali momen ia mengambil keputusan sulit dengan menaikkan harga BBM. Hal itu karena harga minyak pada 2004 hingga 2005 melambung tinggi. Momen serupa kembali terjadi pada 2008 dan 2013.
"Harga minyak ketika itu meroket dan sangat memberikan tekanan pada ekonomi kita. Fiskal dan defisit APBN melebar, inflasi atau stabilitas harga terguncang dan dampak terhadap kaum tak mampu sangat terasa," ujar pria yang kini menjabat sebagai Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat itu.
Alhasil, di era pemerintahannya dulu, SBY memilih kebijakan kombinasi yaitu subsidi ditambah dan menaikkan harga BBM.
"Pemerintah juga melakukan kampanye penghematan energi besar-besaran," tutur dia.
SBY pun mengaku sudah mendengar kebijakan Prabowo untuk penghematan energi. Langkah itu, kata SBY, bisa menjadi salah satu opsi.
"Saya dukung gerakan penghematan energi untuk mengurangi angkat defisit anggaran. Untuk menyelamatkan APBN 2026 pada khususnya dan perekonomian pada umumnya. Beberapa opsi dapat dipilih oleh pemerintah," ujar SBY.
Apapun keputusan dari Presiden Prabowo Subianto, katanya, yang terpenting ekonomi Indonesia selamat. "Termasuk terjaganya pertumbuhan (growth), terkelolanya inflasi (stabilitas harga) dan tercegahnya PHK besar-besaran (job security)," tutur dia.
Selain itu, poin lainnya yang juga penting untuk dilakukan yakni melindungi rakyat yang tak mampu. Sebab, dalam krisis energi ini, mereka dalam posisi semakin sulit.